Tampilkan postingan dengan label renungan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label renungan. Tampilkan semua postingan

Rabu, 03 April 2013

Sukacita Melayani



"Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Aku yang memilih kamu.”


Selamat Paskah semuanya!!!

Di minggu-minggu menjelang Paskah kemaren, aku banyak diajarin Tuhan. Salah satunya lewat pengalaman yang aku alami saat ikut pelayanan untuk ibadah Paskah di gereja aku.

Sekitar satu bulan yang lalu, aku dan beberapa orang teman sepelayanan di gereja diminta untuk berpartisipasi dalam ibadah perayaan Paskah di gereja aku. Permintaan ini disanggupi oleh kami semua, dan kami pun mulai membicarakan konsep acaranya dan pembagian tugas masing-masing.

Saat itu, aku dan salah satu temanku ditugaskan di bagian tarian. Pokoknya tarian tentang Paskah. Aku dan teman aku pun menyanggupi. Jujur saja, kami sama-sama excited, karena sudah cukup lama juga sejak kami berdua melayani lewat tarian di gereja. Setelah diskusi soal lagu yang bakal dipakai akhirnya dipilih lagu 'We are the Reason". Kami latihan tarian lagu “ We are the Reason” dengan dua orang teman yang lain.
Karena kami dua-duanya kerja, aku juga sering pulang malam, kami jadi jarang latihan. Hanya bisa seminggu itu 1-2 kali latihan. Padahal gerakan tariannya cukup sulit, menghafalnya sudah cukup sulit, apalagi kami harus menyelaraskan gerakan masing-masing, dan sesuai konsepnya, kita menari diiringin band, live performance, jadi harus latihan juga sama band-nya.

Menyesuaikan waktu antara kerja, belum lagi pelayanan dan ibadah-ibadah plus diselingi latihan-latihan membuat aku sempat kelelahan, tapi aku tetap berusaha untuk bersukacita di tengah semua itu :D. 
Aku sangat,sangat bersemangat buat menampilkan tarian ini di hari Paskah nanti. Makanya, meskipun gak ada latihan, tiap pagi dan sore aku latihan sendiri di rumah.

Tapi, seminggu sebelum Paskah, tiba-tiba temanku bilang kalau kami batal menampilkan tarian tersebut. Sebagai gantinya, aku dan dia jadi singers di ibadah Paskah nanti.
Saat mendengarnya, jujur, aku kecewa berat dan sedikit kesal.
Rasanya seperti semua kerja keras, effort dan pemberian diri aku selama ini tuh jadi sia-sia.
Aku mati-matian latihan tiap hari, tapi ternyata gak jadi. 
Aku kesal, dan walaupun nggak ngomel di depan orang-orang, dalam hati aku mengeluh.

Sukacita aku tiba-tiba lenyap untuk pelayanan kali ini, aku jadi malas buat latihan singers.

Bahkan, aku datang dengan wajah yang nggak enak banget diliat pas latihan,hahahaha… (klo dingat-ingat sekarang, aku benar-benar maluuu >,<)

Tapi, aku akhirnya sadar kalo attitude aku itu buruk banget di hadapan Tuhan. Seharusnya aku nggak boleh kehilangan sukacita saat mau melayani Tuhan. Yah, wajar kalau aku jadi kecewa ketika sesuatu yang tidak aku inginkan terjadi, tapi itu bukan berarti aku jadi ogah-ogahan dalam melayani Tuhan.
Tuhan menegur aku… Tuhan bilang aku bersikap tidak dewasa, dan sikap aku itu sama sekali tidak berkenan di hadapan-Nya.
Aku jadi malu sendiri sama sikapku yang pilih-pilih dan suka merajuk karena hal yang kecil seperti ini.

Tuhan Yesus, ampuni Farhaaaa >,<!

Aku pikir, Tuhan tidak ingin aku melayani-Nya lewat tarian kali ini. Ia ingin mendengar suaraku untuk memuji dan bersorak-sorai bagi-Nya. Aku seharusnya gak perlu kecewa apalagi sampai tawar hati ketika Tuhan “mengganti” peranku di pelayanan kali ini.
Toh, tidak ada pelayanan yang lebih tinggi atau lebih rendah. Orang yang melayani Tuhan sebagai pembawa firman Tuhan, singers, penari rebana, pemain band, ataupun tugas sederhana seperti operator LCD ataupun pembawa pundi persembahan, sama di hadapan Tuhan, tidak ada yang lebih istimewa atau lebih hebat.

Yang Tuhan inginkan ketika kita melayani Dia adalah apakah motivasi hati kita sungguh-sungguh untuk Dia.
Apakah kita memberikan yang terbaik dari kita saat melayani Dia?
Apakah kita sungguh-sungguh mau memuliakan Tuhan saat terlibat pelayanan, bukan mencari pujian untuk diri sendiri?

Lagipula, bukan kita yang memilih ‘tugas’ kita dalam pelayanan, melainkan Tuhan.
Tuhanlah yang menentukan peran atau tugas kita dalam sebuah pelayanan.
Yang dituntut dari kita adalah pemberian diri, ketaatan serta sukacita dalam melakukannya.
Ketika kita melakukan pelayanan untuk Tuhan, sekecil apapun itu, Tuhan menghargainya.
Ketika kita sungguh-sungguh memberi diri untuk melayani Tuhan, Tuhan tersenyum bangga.
Dan apalagi yang lebih berarti di dunia ini, selain daripada menyenangkan hati Tuhan melalui perbuatan-perbuatan dalam hidup kita.
Kita mengucapkan kalimat, “ Aku mencintai-Mu Yesus” tiap hari, wujudkan ungkapan cinta kita lewat pemberian diri dalam pelayanan Tuhan.
Sebagai apa kita berperan atau ditugaskan dalam pelayanan, itu tidak terlalu penting.
Paling penting itu, kita menerima dan melakukannya dengan sukacita dan motivasi yang benar, demi kemuliaan Tuhan Yesus.
Jangan sia-siakan setiap kesempatan untuk melayani Tuhan dalam hidup kita.
Itu pelajaran yang aku dapat lewat peristiwa kali ini.

And thank God, karena di ibadah Paskah kemarin, aku dan teman-teman yang lain bisa melayani Tuhan dengan penuh sukacita, penuh semangat, dan benar-benar total, tidak ada beban dalam hati.

Semuanya all out buat Tuhan Yesus!

Dan sukacitaku pun bertambah karena pelayanan kami memberkati semua jemaat yang hadir. Aku bersukacita karena aku merasakan hadirat Tuhan begitu nyata saat ibadah.
Pokoknya, pas hari Minggu itu aku benar-benar bahagia, bersukacita, dan aku merasa ingin peluk Tuhan Yesus karena Dia itu luar biasaaaaaa banget! Hahahaha…

Jadi keingat ayat ini,, 
Kolose 3: 23 "Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia."

God bless,,





Jumat, 08 Maret 2013

When We are Ready




"Blessed are all they that wait for him" (Isa 30:18).


We hear a great deal about waiting on God. 
There is, however, another side. 
When we wait on God, He is waiting till we are ready; 
when we wait for God, we are waiting till He is ready.

There are some people who say, and many more who believe, that as soon as we meet all the conditions, God will answer our prayers. They say that God lives in an eternal now; with Him there is no past nor future; and that if we could fulfill all that He requires in the way of obedience to His will, immediately our needs would be supplied, our desires fulfilled, our prayers answered.

There is much truth in this belief, and yet it expresses only one side of the truth. While God lives in an eternal now, yet He works out His purposes in time. A petition presented before God is like a seed dropped in the ground. Forces above and beyond our control must work upon it, till the true fruition of the answer is given.

--The Still Small Voice
***
I longed to walk along an easy road,
And leave behind the dull routine of home,
Thinking in other fields to serve my God;
But Jesus said, "My time has not yet come."

I longed to sow the seed in other soil,
To be unfettered in the work, and free,
To join with other laborers in their toil;
But Jesus said, "'Tis not My choice for thee."

I longed to leave the desert, and be led
To work where souls were sunk in sin and shame,
That I might win them; but the Master said,
"I have not called thee, publish here My name."

I longed to fight the battles of my King,
Lift high His standards in the thickest strife;
But my great Captain bade me wait and sing
Songs of His conquests in my quiet life. 

I longed to leave the uncongenial sphere,
Where all alone I seemed to stand and wait,
To feel I had some human helper near,
But Jesus bade me guard one lonely gate.

I longed to leave the round of daily toil,
Where no one seemed to understand or care;
But Jesus said, "I choose for thee this soil,

That thou might'st raise for Me some blossoms rare." 
And now I have no longing but to do
At home, or else afar, His blessed will,
To work amid the many or the few;
Thus, "choosing not to choose," my heart is still.
--Selected

Source : Streams in the Desert (L.B. Cowman)

Selasa, 29 Januari 2013

Hujan 27 Januari



Tanggal 27 Januari kemaren, kota tempat tinggal aku, Manado, mengalami cuaca buruk. 
Pas aku bangun pagi jam 4, hujan disertai angin melanda dan keadaan seperti itu berlangsung sampai siang. Aku nggak bisa lihat matahari pas hari itu, sepanjang hari itu menduuuungg dan gelap.

Ketika hari agak sore, cuaca mulai membaik. Hujan reda, meskipun awan gelap masih menggantung.
Sore itu, pukul 3 sore, aku menghadiri ibadah Remaja Wilayah di jemaat tetangga, meskipun sebenarnya merasa agak khawatir, karena di kebaktian Malam di gereja aku bertugas jadi singer (klo di gereja aku istilahnya prokantor/kantoria), takutnya aku datang telat ke gereja.

Tapi… aku ‘maksa’ banget datang ke ibadah itu, hehehe… Somehow, aku pengen aja datang, entah kenapa. Aku pergi dengan Penatua dan adik-adik remaja aku, dan kita datangnya agak telat.
Kami nyampe di gereja Victory pukul setengah 4, dan coba tebak?
Kami adalah peserta pertama, wkwkwk… 
Ibadahnya molor karena Komisi Remaja yang lain belum datang juga ternyata.

Aku mulai merasa cemas dalam hati, tapi berusaha menenangkan diri, kalo ibadahnya akan dimulai jam 4 tepat. Ibadah Malam di gereja aku jam 6 sore, paling lambat aku harus nyampe di gereja,15 menit sebelum jam 6. Pokoknya, selesai terima Berkat, langsung pulang ke rumah, begitu pikirku.

Tapi… ibadahnya baru mulai jam lima kurang. Dan hati aku benar-benar ketar-ketir karenanya. Di sisi yang satu, aku sudah ingin cepat-cepat pulang, tapi…. masa aku pulang pas ibadahnya baru mulai? Gak enak sama teman-teman yang lain.
Ibadahnya mulai, dan jujur saja, aku gemas karena sesi Praise and Worshipnya memakan waktu yang lama banget. Aku menyanyi memuji Tuhan, tapi sama sekali nggak ada rasa damai sejahtera, karena di pikiran aku tuh, pengen cepat-cepat pulang ke rumah dan prepare buat kebaktian Gereja malam.

Pas pengakuan dosa, aku minta ampun ke Tuhan, aku merasa sangat,sangat berdosa karena aku nggak sungguh-sungguh menyembah-Nya, tapi mau bagaimana lagi… Aku benar-benar sudah terlambat untuk pulang.
Finally, pas Khotbah, Penatua aku yang tahu aku harus bertugas di gereja, memberi isyarat mengizinkan aku untuk pulang. Itu sudah hampir setengah 6 sore. Aku akhirnya pulang sendiri.

Untuk pulang, satu-satunya transportasi yang tersedia adalah OJEK!
Aku menunggu selama kurang lebih 5 menit, sambil berdoa dalam hati, dan akhirnya ada tukang ojek yang lewat. Saat itu, cuacanya masih bagus. Gak hujan, cuma memang mendung.
Tapi… 100 meter dari jalan raya besar, tiba-tiba angin kencang disertai hujan turun.

Aku langsung panik. Gimana caranya aku pulang ke rumah kalau hujan lebat disertai angin badai kayak gini? Apalagi semakin lama hujan dan anginnya tambah deras dan kuat. Posisi aku saat itu dekat laut dan aku ngeri melihat lautan yang bergelora, ombaknya ngamuk kesana kemari dan langit sangat gelap.

Puji Tuhan, si tukang ojek itu masih bersedia untuk mengantar aku sampai ke rumah, padahal cuacanya sangat, sangat buruk. Unfortunately, tukang ojek itu hanya punya 1 jas hujan. Bapak itu bertanya kalau aku nggak apa-apa basah kuyup, dan setelah mikir beberapa detik, I think it’s okay.
Yang ada di pikiran aku itu adalah yang penting aku sampai di rumah sebelum jam 6 sore.
Aku berdoa lagi dalam hati agar Tuhan menyertai perjalanan kami, soalnya jalanan jadi benar-benar licin karena hujan lebat.

Aku basah kuyup, dan kedinginan, Alkitab yang aku pegang pun nyaris basah. Dalam hati aku pengen nangis, dan sempat nanya dengan nada marah dalam hati ke Tuhan,
“ Tuhan kok tega ya bikin aku kayak gini? Tuhan kan tahu aku tuh mau pelayanan, kok aku bisa ditimpa kesialan kayak gini?”
Aku benar-benar gak ngerti kenapa aku diizinkan ‘menderita’ seperti itu.
Syukurlah, aku tiba dengan selamat meski seluruh tubuh basah kuyup dan menggigil kedinginan.
Makasih banyak buat bapak tukang ojek yang bersedia mengantar aku karena tahu aku mau ke gereja ^^.

Pas lihat keadaan aku, Mama hanya geleng-geleng kepala dan aku langsung lari ke kamar mandi, mandi terus siap-siap. Dan pas masuk ke kamar, ternyata listrik mati. Aku setengah mati mencoba untuk tidak bersungut-sungut, walau rasanya sangat susah.

Setengah berlari aku berjalan ke gereja, lima menit lagi jam enam sore.
Dan aku masih ‘ngomel’ ke Tuhan, kenapa Tuhan tega-teganya?

Then, aku bisa mendengar Ia berbisik,
“ Baru halangan kecil seperti hujan ini saja kamu sudah mengeluh. Banyak orang Kristen yang bahkan tidak bisa ke gereja karena bisa dibunuh, Farha,”

Dan hati aku seperti dicubit. Sakit.
Teguran Tuhan itu memang sakit.
Dan pada saat itu aku benar-benar merasa malu sama diri sendiri. 
Aku nggak tahu mengucap syukur.
Aku nggak tahu menghargai berkat Tuhan.

Yup, aku teringat ada begitu banyak orang Kristen di luar sana yang nggak bisa ke gereja.

Gereja mereka dibakar, ataupun mereka dilarang beribadah sama orang-orang sekitar maupun pemerintah.

Ada anak-anak Tuhan yang menempuh jarak berkilo-kilometer untuk beribadah.

Ada anak-anak Tuhan yang beribadah di gereja kecil yang sangat,sangat sederhana, bahkan mungkin gak ada listrik atau tempat duduk.

Ada anak-anak Tuhan yang beribadah terpaksa harus sembunyi-sembunyi karena terancam ditangkap bahkan dibunuh.

Betapa beruntungnya aku bisa tinggal di daerah yang bisa beribadah dengan leluasa. 
Kalau ke Sulawesi Utara, apalagi di Minahasa, ada begitu banyak gereja, dan banyak yang merupakan bangunan megah. Disini setiap anggota jemaat seakan berlomba untuk membangun gereja yang megah dan nyaman bagi jemaatnya.

Disini, aku tidak perlu takut untuk pergi ke gereja. 
Disini, aku nggak perlu menempuh jarak berkilo-kilometer untuk ke gereja. 
Disini, aku beribadah di gereja yang besar, megah dan nyaman. 
Disini, aku nggak pernah dilarang untuk ke gereja.

Dan aku sadar aku nggak pernah sekalipun mengucap syukur karena hal itu.
Malahan aku ngeluh dan marah ke Tuhan karena aku harus kehujanan, basah kuyup untuk ke gereja.
Padahal, banyak orang Kristen yang tiap minggu mengalami halangan yang sangat besar untuk sekedar beribadah di gereja.

Ampuni aku, Tuhan karena aku nggak mengucap syukur atas berkat yang Engkau berikan kepadaku.
Sekarang aku jadi belajar untuk mengucap syukur dalam segala keadaan.

Melalui hujan 27 Januari kemarin, Tuhan menegur aku untuk mensyukuri hal yang mungkin kelihatan sepele buat aku selama ini, tapi bagi orang lain adalah hal yang sangat,sangat berharga,

KEBEBASAN BERIBADAH J

Dan aku benar-benar belajar untuk mesyukuri hal itu. Lain kali, ketika aku punya halangan untuk ke gereja, aku akan mengingat bahwa betapa banyaknya orang Kristen yang punya kesulitan untuk datang beribadah.

God Bless,,

Minggu, 27 Januari 2013

Sungut-sungut dan Jumbai Peringatan



Sampai hari ini, progress Baca Alkitab Setahunku sudah sampai di kitab Bilangan.




Yeayyy…!




Nggak mudah memang, dan setiap hari itu jadi tantangan tersendiri buat aku untuk baca Alkitab minimal 10 pasal tiap hari.




Pagi ini, aku membaca sampai kitab Bilangan pasal 16 dan ada dua hal yang aku pelajari selama aku membaca kitab Bilangan ini.



Oh ya, Kitab Bilangan ini, memuat perjalanan bangsa Israel sampai ke tepi sungai Yordan, tepat sebelum memasuki tanah Kanaan. Dan mengapa disebut kitab Bilangan? Hmm, aku belum tahu secara pasti sih, masih harus cari tahu lebih banyak lagi,wkwkwk... tapi di kitab ini banyak sekali dimuat jumlah orang, jumlah persembahan, dan sebagainya, yang berhubungan dengan bilangan (penjelasannya payah, maaf yah :p)



Ok, kembali ke dua hal tadi, yang aku dapat selama baca kitab Bilangan ini.



1.  Tuhan sangat membenci sungut-sungut.



Sejak bangsa Israel keluar dari tanah Mesir, nggak terhitung banyaknya bangsa Israel bersungut-sungut sama Tuhan, Musa juga Harun. Kalau dibaca dari kitab Keluaran, mulai dari menyeberangi Laut Teberau saja, bangsa Israel sudah bersungut-sungut, terus di Mara, kemudian kalau di kitab Bilangan ini, pada pasal 11, orang Israel bersungut-sungut karena nggak bisa makan daging, juga ada pemberontakan Korah, Datan dan Abiram di pasal 16.



Menurut aku, salah satu penyebab bangsa Israel itu bersungut-sungut, karena mereka tidak mengenal Tuhan dengan pengertian yang benar.

Orang Israel hanya melihat tangan Tuhan, tapi tidak mencari wajah-Nya.
Orang Israel berpikir bahwa Tuhan Allah adalah Allah yang berkuasa, dingin, keras dan hobinya menghukum yang salah, dan berniat membuat mereka menderita di padang gurun.
Padahal sebaliknya, Tuhan Allah adalah Tuhan yang panjang sabar dan kasih setia-Nya berlimpah-limpah ( Bilangan 9:11)
Bangsa Israel salah mengartikan janji Tuhan tentang Tanah Kanaan. Mereka berpikir bahwa untuk sampai ke tanah Kanaan mereka nggak perlu melewati fase padang gurun, langsung saja sampai ke tanah Kanaan dan mereka hidup bahagia selamanya disitu.


Bangsa Israel nggak mengenal Tuhan dengan benar, mereka nggak mencari wajah-Nya, akibatnya mereka punya pengenalan yang salah akan Tuhan.

Sehingga, ketika mereka harus melewati fase padang gurun, dimana mereka merasa nggak nyaman, menderita dan sebagainya, mulailah mereka bersungut-sungut dan mengeluh kepada Tuhan.
Bangsa Israel hanya mau janji-Nya Tuhan, tapi mereka tidak mau mengenal siapa Tuhan itu sebenarnya, dan apa yang Tuhan kehendaki dalam hidup mereka.


Seringkali, kita pun demikian.

Kita hanya mau melihat tangan Tuhan, bukan mencari wajah-Nya.
Kita mengenal Tuhan dengan pengenalan yang salah tentang Dia.
Kita sering menganggap Tuhan itu kayak kartu kredit atau kayak kartu ATM, yang kita bisa minta apapun dari-Nya dan Dia bakal kasih apa yang kita minta.
Tanpa sekalipun kita berniat untuk mengenal Tuhan lebih dekat, lebih intim, mencari wajah-Nya, dan bukan hanya sekedar tangan-Nya.


Makanya kita sering bersungut-sungut, ketika kita tidak menerima apa yang kita minta dari Tuhan, ketika banyak masalah dan tantangan hidup menerpa kehidupan kita, ketika Tuhan menempatkan kita di fase padang gurun, keluar dari zona nyaman kita, tanpa kita mau tahu apa tujuan Tuhan mengizinkan itu semua terjadi.

Kita tidak mau cari tahu apa kehendak Tuhan.
Karena kita punya pengenalan yang salah akan Tuhan, makanya kita terkadang tidak bisa mengerti rencana Tuhan dalam kehidupan kita.
Kita bersungut-sungut, dan pada akhirnya menyalahkan Tuhan, dan… meninggalkan-Nya.
Tuhan sangat membenci roh bersungut-sungut.
Hukuman bagi bangsa Israel karena mereka bersungut-sungut adalah kematian.


Dalam Bilangan 11: 1-3, Tuhan menghukum orang yang bersungut-sungut dengan api Tuhan. Kemudian, pada ayat 31-35, Tuhan menghukum orang-orang yang bernafsu rakus, yang bersungut-sungut meminta daging, dengan tulah dan menyebabkan kematian. Kemudian, dalam Bilangan 16: 1-50, ada pemberontakan Korah, Datan dan Abiram. Mereka semua bersungut-sungut kepada Musa dan Harun dan memberontak. Datan dan Abiram beserta seisi rumahnya mati ditelan bumi, sedangkan Korah dan pengikutnya, mati terbakar oleh ukupan perbaraan di Kemah Pertemuan. Selanjutnya, orang Israel kembali bersungut-sungut kepada Tuhan, sehingga Tuhan menimpakan tulah kepada mereka dan sebanyak 14.700 orang mati karena bersungut-sungut.



Jika sampai sekarang masih ada roh sungut-sungut di antara kita, artinya kita tidak mengenal Tuhan dengan pengertian yang benar, kita tidak mempercayai kuasa Tuhan, dan juga kita meragukan rencana Tuhan dalam hidup kita.



That’s why, Tuhan membenci sikap bersungut-sungut, karena kita seolah menantang Tuhan, gak percaya bahwa He can provide us, He will brought us an abundant life.



Zaman sekarang memang Tuhan gak menghukum mati orang yang bersungut-sungut. Tapi, ketika kita mulai bersungut-sungut, iman kita kepada Tuhan perlahan mulai mati. Pada akhirnya, jika kita terus menerus bersungut-sungut, kita nggak lagi percaya sama Tuhan dan mengingkari iman kita.



Daripada bersungut-sungut, mari kita memilih untuk bersukacita dalam segala hal dan setiap waktu.

Daripada bersungut-sungut, mari kita memilih untuk senantiasa mengucap syukur.
Daripada bersungut-sungut, mari kita memilih untuk menghitung berkat yang telah Tuhan berikan bagi kita.
Ketika keadaan sepertinya menekan kita untuk menjadi orang yang bersungut-sungut, just remember God’s promise to us. Baca deh, Yeremia 29 :11 ^^.


Tuhan mengizinkan kita untuk menghadapi tantangan dan pergumulan setiap hari, bukan untuk menyakiti kita, tapi itu semua adalah bagian dari rencana-Nya untuk memurnikan kita, membuat kita semakin serupa dengan-Nya.

Sama seperti emas yang dimurnikan dengan pemanasan pada suhu yang sangat tinggi, kita pun juga demikian.


Dan selain itu, mari belajar untuk mengenal Tuhan dengan pengenalan yang benar. Cari wajah Tuhan, bukan sekedar tangan-Nya. Tuhan berkenan pada orang yang dengan segenap hatinya mencari wajah-Nya, yang berseru kepada-Nya (Yeremia 29:12-14).




2.  Jumbai peringatan (Bilangan 15: 37-41)



Tuhan memerintahkan kepada Musa untuk menyampaikan kepada orang Israel, agar mereka membuat jumbai-jumbai pada punca baju mereka, yang dibubuhi benar ungu kebiru-biruan. Jumbai-jumbai itu dibuat sebagai peringatan akan setiap perintah Tuhan.



Jumbai itu harus dipasang di pakaian setiap orang Israel, agar ketika mereka melihat jumbai tersebut mereka mengingat perintah Tuhan dan melakukannya.

“ You will have this tassels to look at and so you will remember all the commands of the Lord, that you may obey them and not prostitute yourselves by chasing after the lusts of your own hearts and eyes. Then you will remember to obey all my commands and will be consecrated to your God.”(Numbers 15: 39-40, NIV)
Tuhan ternyata menginginkan umat-Nya senantiasa mengingat akan perintah-Nya dan melakukannya, sehingga jumbai itu dipasang di pakaian bangsa Israel yang tentunya akan mereka pakai setiap hari.


Tuhan ingin, agar dimanapun kita berada, apapun yang kita kerjakan, kita selalu mengingat akan perintah dan ketetapan-Nya.



Menurut aku, jumbai peringatan itu, kalau zaman sekarang ini, adalah firman Tuhan. Tuhan menginginkan agar firman-Nya itu menjadi bagian yang tidak terpisahkan dalam kehidupan anak-anak-Nya.



Tuhan menginginkan agar kita selalu mengingat firman-Nya setiap saat, dimanapun kita berada, apapun yang kita kerjakan, sehingga kita terhindar dari perbuatan yang tidak berkenan kepada-Nya.



Ini jadi ‘cambuk’ buat aku untuk semakin rajin dan tekun untuk baca firman Tuhan dan merenungkannya, juga tentunya melakukan firman itu setiap hari.



Dan ini juga jadi ‘cambuk’, hehehe… agar aku nggak bolong-bolong lagi hafal satu ayat Alkitab tiap hari. Salah satu ‘jumbai peringatan’ yang bisa kita bawa tiap hari adalah ayat Alkitab yang kita hafal.

Mari kita menjahit ‘jumbai peringatan’ dalam hati dan pikiran kita, lewat firman Tuhan.


God bless,,


Jumat, 28 Desember 2012

KNOCK! KNOCK! KNOCK!


Tok! Tok! Tok!

Suara ketukan lembut terdengar dari balik pintu hatiku.

“ Siapa yang datang?” Aku bertanya pada diriku sendiri.

Pelan-pelan, aku berjalan ke arah pintu, lalu mengintip dari balik jendela.

Aku terkejut ketika melihat sosok yang berdiri di luar pintu.

Itu Tuhan Yesus!

Aku terkesiap panik.

Yesus?

Yesus datang dan Ia mengetuk pintu hatiku, rumahku.

Dan lihat, Ia menunggu aku untuk membukakan pintu bagi-Nya

Haruskah aku membuka pintu?

Aku mendesah pelan sambil menatap sekelilingku.


Ah, bagaimana aku bisa membiarkan-Nya masuk ke dalam sini? Ke dalam hatiku? Ke dalam rumahku?

Disini kotor dan berantakan.

Lihat, dinding-dindingnya retak akibat terlalu banyak sakit hati yang kurasakan,

catnya terkelupas karena aku terlalu banyak menelan kekecewaan.

Jendela-jendelanya kusam dan kotor karena banyak kepahitan yang kualami.

Perabotan-perabotannya tua, rusak dan tertutup dengan debu masa lalu yang kelam.

Tiang-tiangnya hampir rubuh karena imanku sering digoncang oleh badai pergumulan.


Dan kamarku?

Penuh sampah dan kotoran.

Terlalu banyak dusta, iri hati, kesombongan, egois dan amarah yang kusimpan di dalamnya.


Oh! Lihat kursi-kursiku!

Tua dan rusak juga hampir patah karena tidak ada lagi harapan.

Mana mungkin aku menyuruh-Nya duduk disitu?


Juga… disini sangat gelap.

Tidak ada setitik pun cahaya di dalam sini.

Yang ada hanyalah kegelapan.


Tidak! Tidak! Tidak!

Aku tidak layak menerima-Nya di rumahku.

Rumahku sempit, kotor, penuh debu dan berantakan.

Aku malu.

Mana mungkin seorang Raja masuk ke dalam sini?

Hatiku yang rusak, penuh luka dan kotor karena dosa.


Tok!Tok!Tok!

Ketukan lembut itu terdengar kembali.

Rupanya Ia masih berdiri di depan pintu.

Aku membuatnya menunggu terlalu lama.

Aku berjalan ke arah pintu dan siap memutar kunci, tapi…

Kupandangi lagi isi rumahku yang bobrok.

Aku jadi ragu-ragu dan menarik kembali kunci itu.


Tidak! Tidak! Tidak!

Kujauhkan tanganku cepat-cepat dari pintu dan mundur menjauhi pintu.

Aku tidak akan membiarkan Ia masuk ke dalam sini.

Lagipula, untuk apa Ia ke sini? Ke rumahku?

Rumahku tidak layak didatangi seorang Tuhan yang mulia.

Tidak, aku tidak akan membukanya.


“ Anak-Ku, bukalah pintunya,”

Aku terkejut mendengar suara-Nya dari balik pintu.

Ah, bagaimana mungkin ada suara yang selembut dan seindah ini?

“ Anak-Ku, Kumohon, bukalah pintunya,”

“ Biarkan aku masuk ke dalam,” kata-Nya lagi, memohon.

“ Tidak, TUHAN,” Aku menggeleng dengan putus asa.

“ Disini kotor dan berantakan, penuh sampah. Kau akan jijik melihat semua di dalam sini,”

“ Aku,aku… tidak bisa menerima-Mu di dalam sini,” ujarku.

“ Lagipula, untuk apa Kau kesini, Tuhan? Aku tidak punya apa-apa disini. Aku tidak bisa memberikan apapun kepada-Mu,” Aku bersikeras dengan pendirianku.


“ Anak-Ku, biarkanlah Aku masuk ke dalam rumahmu, ke dalam hatimu,”

Kenapa Ia begitu keras kepala?

Aku sudah menolak-Nya tadi. Apa Ia tetap akan bersikeras seperti ini?

“ Tidak, Tuhan. Pergilah. Kau tidak tahu seperti apa di dalam sini. Disini gelap dan kotor.”

Kuharap Ia segera pergi dari depan pintuku.

Aku tidak butuh diri-Nya.

Aku bisa sendirian.

Aku sudah terbiasa di dalam sini.

Aku terbiasa sendirian, juga…ehm, kesepian.


“ Anak-Ku, Aku tahu persis keadaan di dalam sana. Tapi, biarkanlah Aku masuk,”

Ah, kenapa Tuhan begitu memaksa? Aku mulai kesal.

“ Untuk apa, Tuhan? Untuk apa Kau datang kesini?!” Nada suaraku mulai meninggi.

“ Untuk mengubahnya,” jawab-Nya mantap.

“ Aku akan mendekorasi ulang hatimu, - rumahmu-, Aku akan menghiasinya dengan kasih,”

“ Pertama-tama, Aku akan membuka semua jendela-jendelamu sehingga wangi sukacita akan memenuhi ruangan-ruangan di dalam rumahmu. Bau busuk kesedihan akan segera hilang dari dalam rumahmu,”

“ Aku akan membersihkan setiap sampah dusta, iri hati, juga amarah yang kau simpan dalam kamarmu,”

“ Perabotanmu yang kotor dan penuh debu kesombongan juga mementingkan diri sendiri, akan kubuang,”

“ Akan Kuberikan perabotan yang baru untukmu. Ruangan-ruangan hatimu akan diisi dengan kejujuran, kelemahlembutan, kerendahan hati juga kesetiaan.”

“ Dan dinding-dindingmu? Aku akan menggantung hiasan visi keselamatan juga hidup kekal dan itu akan dibingkai oleh pemenuhan yang seutuhnya dari-Ku,”

“ Kau tahu? Aku akan mengecat rumahmu dengan warna-warna yang memberi kehangatan, keramahan, sukacita, kelembutan dan Aku akan mengokohkan tiang-tiang rumahmu dengan iman, pengertian dan hikmat, sehingga engkau bisa bertahan sampai pada akhirnya, meskipun badai pergumulan datang.

“ Dan lantainya… akan Kupasangi dengan kepercayaan, dindingnya akan kuhiasi dengan kesabaran, dan Aku akan menaruh cahaya pengharapan yang menyingkirkan setiap sisi gelap, mengusir kegelapan yang selama ini ada di dalammu,”

“ Dan cermin di rumahmu akan merefleksikan komitmen untuk saling mengasihi antara Aku dan engkau,”

“ Nah, Anak-Ku, Aku akan melakukan semuanya itu asal kau mau membuka pintu untuk-Ku.

Aku berjanji akan mengubah seluruhnya dan percayalah, karena Aku tidak pernah berdusta.

Aku akan menjadi penjaga hatimu dan tidak akan membiarkan hatimu disakiti asalkan kau 
mau membiarkan Aku masuk dan mengubahmu.”

“ So, here I stand, My child… Would you please let Me in?”

Kupandangi lagi sekelilingku. Rumahku yang kotor dan bobrok.

Bisakah Ia mengubahnya?

Kupandangi kunci di tanganku dan pintu di depanku bergantian.

Perlahan, aku berjalan ke arah pintu, dengan langkah pasti.

Perlahan, keraguanku menghilang dan benar-benar tidak ada lagi yang menghalangiku saat aku memutar kunci pintu dan membukakan pintu bagi Yesus.

Lalu membiarkan Ia masuk ke dalam rumahku, ke dalam hatiku.

Dan kau tahu? Sejak saat itu, hidupku tak pernah sama lagi. ^^

***

Hati aku adalah rumahku.

Salomo menulis,
“ Seperti air mencerminkan wajah, demikianlah hati manusia mencerminkan manusia itu,”
Amsal 27:19.

Keadaan hati kita menentukan kehidupan kita, mempengaruhi kesehatan tubuh kita, kalau hati kita sakit maka seluruh tubuh kita akan terkena dampaknya.

Karena itulah, kita harus menjaga hati kita sebaik-baiknya.
“ Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan,”
Amsal 4:23

Bagaimana menjaga hati kita dengan segala kewaspadaan?

Biarkan Tuhan Yesus masuk ke dalam hati kita.

Jangan hanya membiarkan Ia masuk dan duduk di ruang tamu, tapi biarkan Ia masuk ke dalam kamarmu, ruang paling pribadi dalam hatimu.

Biarkan Ia tinggal di dalam hatimu. Biarkan Ia mengubah hatimu agar menjadi serupa dengan-Nya.

Selaraskan hatimu dengan hati-Nya.

Mungkin ada perubahan-perubahan yang akan tidak kau sukai.

Mungkin Ia akan membuang perabotan-perabotan tua yang kau sayangi tapi hanya mengotori rumahmu (dalam hal ini,, hatimu)

Mungkin Ia juga akan merombak total hatimu sehingga tampaknya jadi lebih berantakan, tapi percayalah hasilnya akan jauh lebih indah dan jauh lebih daripada yang kau bayangkan.

Ia arsitek terhebat. Ia juga desainer interior paling hebat di seluruh dunia dan di sorga. ^^.

Lihat, Ia berdiri di depan pintu hatimu.

Mungkin Ia sudah mengetuk ribuan kali tapi kau tak kunjung membukakan pintu.

Tapi Ia tidak akan menyerah padamu, Ia tidak akan menyerah sampai kau membuka pintu.

Tuhan bisa saja menerobos masuk ke dalam, tapi Ia tidak mau.

Ia ingin kau sendiri yang MEMILIH untuk membukakan pintu rumahmu, pintu hatimu.

Jangan membiarkan Ia menunggu terlalu lama.

Segera ambil kunci hatimu, dan bukalah pintu hatimu.

Biarkan ia masuk dan mengubah hatimu!


Inspired from book " what to do until you find love?"  Michelle McKinney Hammond ^^.


God  bless,

Selasa, 17 Juli 2012

Fill Up Your Basket


Tadi malam pas ibadah Pemuda Remaja, Firman Tuhan dibawakan oleh Pdt. Ansye, atau yang kami biasa panggil dengan akrab K’ Ansye, even she is married now ^_^

Nah, sesuai dengan MTPJ minggu ini, pembacaan Alkitab terdapat dalam Ulangan 26:1-11. tentang memberikan hasil pertama, atau persembahan buah sulung.

Ulangan 26:1-2
“ Apabila engkau telah masuk ke negeri yang diberikan TUHAN, Allahmu, kepadamu menjadi milik pusakamu, dan engkau telah mendudukinya dan diam di sana, maka haruslah engkau membawa hasil pertama dari bumi yang telah kaukumpulkan dari tanahmu yang diberikan kepadamu oleh TUHAN, Allahmu, dan haruslah engkau menaruhnya dalam bakul, kemudian pergi ke tempat yang akan dipilih TUHAN, Allahmu, untuk membuat nama-Nya diam disana.”

Inti dari bacaan Alkitab ini adalah memberikan hasil pertama, kalo dalam terjemahan KJV-nya

And it shall be, when thou art come in unto the land which the LORD thy God giveth thee for an inheritance, and possessest it, and dwellest therein;
That thou shalt take of the first of all the fruit of the earth, which thou shalt bring of thy land that the LORD thy God giveth thee, and shalt put it in a basket, and shalt go unto the place which the LORD thy God shall choose to place his name there

First fruit, buah pertama…

Persembahan itu seringkali identic dengan uang ataupun pemberian dalam bentuk barang, dan memang yang dimaksudkan dalam pembacaan ini adalah hasil pertama dari bumi saat bangsa Israel masuk ke tanah Kanaan.

Bagi yang sudah bekerja atau punya penghasilan, tentunya sewajarnya kita memberikan persembahan syukur kepada Tuhan, hasil pertama dari penghasilan kita kepada Tuhan.
Tuhan meminta persembahan kepada umat-Nya bukan karena Tuhan ‘butuh’ persembahan kita, Ia adalah Allah yang kaya, seberapa banyak pun persembahan yang kita kasih kepada Tuhan tidak akan sebanding dengan anugerah, kasih karunia yang telah Ia berikan kepada kita.
Hal yang Tuhan ingin lihat dari pemberian persembahan kepada-Nya adalah kesetiaan umat-Nya dan pengorbanan umat-Nya.Dengan memberikan persembahan, kita belajar untuk setia sama perintah Tuhan, berkorban, dan belajar memberi, dan juga membantu pelayanan Tuhan.
Ingat, selalu lebih baik memberi daripada menerima, adalah salah satu prinsip Kristiani.

Nah, jika orang yang sudah punya pekerjaan atau penghasilan memberikan persembahan dalam bentuk uang ataupun barang (hasil bumi, misalnya), bagaimana dengan yang belum bekerja?
Bagaimana dengan adik-adik remaja ataupun pemuda yang masih sekolah dan kuliah, yang masih “menadahkan tangan” sama orangtua? Yang belum punya penghasilan.

Apakah mereka ini luput dari perintah untuk memberi persembahan hasil pertama?
Apakah perintah ini khusus hanya untuk orang-orang yang sudah punya pekerjaan dan menghasilkan uang?

Tentu saja tidak.
Perintah memberikan persembahan hasil pertama ini ditujukan kepada setiap anak-anak Tuhan, baik dia sudah bekerja atau belum, masih sekolah atau sudah jadi pekerja.

Kalo kita belum punya penghasilan untuk diberikan kepada Tuhan, maka apa yang bisa kita berikan kepada Tuhan sebagai hasil pertama?

Mari kita lihat dalam Roma 12: 1

“Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasehatkan kamu, supaya kamumempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati. 
Persembahan itu bukan Cuma dalam bentuk uang ataupun barang, tapi rasul Paulus mengatakan bahwa persembahan yang Tuhan inginkan adalah tubuh kita!
Tubuh kita dikatakan adalah sebuah persembahan yang hidup, dan harus kudus juga berkenan kepada Allah.
Memberikan tubuh sebagai persembahan bukan berarti kita menjadi korban bakaran,hehe…
Mempersembahkan tubuh kita sebagai persembahan yang hidup, kudus dan berkenan kepada Tuhan, artinya kita menyerahkan seluruh aspek kehidupan kita untuk satu tujuan, yaitu MEMULIAKAN TUHAN.
Kita sudah ditebus oleh darah Tuhan Yesus yang dicurahkan di atas kayu salib, kita sudah “ dibeli dengan harga yang mahal, oleh karena itu muliakanlah Allah dengan tubuhmu,”
“ Karena bagiku hidup adalah Kristus,…”
Jadi, sudah sewajarnya kita itu mempersembahkan tubuh kita untuk kemuliaan Tuhan, karena hidup kita bukan lagi milik kita, tapi milik Tuhan.
Kalo sesuatu yang adalah milik Tuhan, berarti harus digunakan juga untuk kepentingan Tuhan, dalam hal ini untuk memuliakan nama Tuhan.

Apa itu artinya kita harus terjun ke dunia pelayanan, jadi pendeta, jadi misionaris, full timer servant?

Actually, semua orang Kristen punya kewajiban untuk jadi saksi Kristus dan sebarin Injil ke seluruh dunia, jadi bukan hanya tugas pendeta, misionaris, penginjil yang punya tanggung jawab untuk memberitakan Injil, but all of us as Christian, as Jesus children ^^.

Yang membedakan hanyalah panggilan juga visi dan misi seseorang.
Ada orang yang terpanggil jadi pendeta, penginjil, full timer servant in His church.
Ada pula yang terpanggil untuk jadi guru, pendeta, dokter, arsitek dan sebagainya.
Dan jujur saja, hanya sebagian kecil dari anak-anakNya yang Tuhan panggil untuk melayani di ladang misi. Sebagian besar, menerima panggilan untuk melayani Tuhan di dunia sekuler. Tetapi sekali lagi, panggilan dan visi juga misi itu harus bertujuan untuk memuliakan Tuhan.

Setiap orang diberikan talenta oleh Tuhan. Bakat, kepandaian, bahkan kelebihan-kelebihan yang Tuhan berikan itu adalah salah satu hal yang bisa kita berikan sebagai “Persembahan Hasil Pertama” kita kepada Tuhan.

Jika kita punya bakat menyanyi, bawalah bakul berisi suaramu untuk mempersembahkan puji-pujian kepada Tuhan.
Bermain musik? Pakailah untuk menciptakan musik seindah musik malaikat di sorga, hanya untuk kemuliaan Tuhan.
Kepandaian? Terus asah kemampuan akademismu, jangan malas belajar, gunakan kepandaianmu itu untuk keperluan pelayanan Tuhan Yesus.

Bagaimana dengan yang masuk kategori ‘biasa-biasa’ saja? Tidak ada yang spesial dalam diriku tampaknya…
Don’t lose heart!
Karena kita merasa biasa-biasa saja bukan berarti kita rendah diri dan gak mau dipakai Tuhan.
Ingat! Kita mungkin biasa-biasa saja, tapi Tuhan kita adalah Tuhan yang LUAR BIASA!
Dan di dalam tanganNya, tidak ada kehidupan yang biasa-biasa saja. Ketika kita mau berserah kepada-Nya, membiarkan Dia membentuk kehidupan kita, our life won’t never be same or so common life,, it would be extraordinary and full of miracle life ^^ because His hands and His mercy will  embracing us.
Jika merasa tidak ada yang spesial dalam dirimu, mintalah Tuhan menunjukkan bagian apa dalam dirimu yang ingin Tuhan ambil sebagai persembahan darimu.

Mungkin saja, partisipasi dalam kegiatan-kegiatan gereja, jadi panitia, dsb. Menjadi petugas LCD di gereja, membawa pundi persembahan di ibadah, kerelaan untuk ikut kerja bakti, melayani para lansia, janda dan duda, juga merupakan salah satu ‘persembahan’. Pemberian diri kita dalam tugas-tugas yang tampaknya kecil dan sepele itu, jika kita melakukannya dengan sungguh-sungguh dan penuh sukacita dan hati tulus, hal itu akan menjadi persembahan yang berbau harum di hadapan Tuhan.

Ingat! Jika kita setia dalam perkara kecil, maka Tuhan akan mempercayakan perkara-perkara yang besar kepada kita!
Bukan hanya pelayanan atau pekerjaan di gereja,, sikap kita di rumah maupun di sekolah juga bisa jadi wujud persembahan kita kepada Tuhan.
Di rumah,, kita mau memberi diri dengan sukarela untuk bangun pagi-pagi dan membantu Mama di dapur, membersihkan rumah, melakukan pekerjaan rumah yang nampaknya kecil dan sepele, asal kita sungguh-sungguh, tidak bersungut, malah dengan sukacita, itu akan jadi persembahan yang berkenan kepada Tuhan.

Di sekolah,, ketika kita benar-benar ikut pelajaran, menghormati guru, berketetapan untuk tidak curang saat ujian, berhenti nyalin PR/tugas teman,, mungkin kayaknya sepele dan kecil, tapi mari kita lihat persembahan seorang janda yang miskin,, ia memberikan persembahan yang sangat kecil jumlahnya jika dilihat dari kacamata manusia, tapi dari kacamata Tuhan, ia memberi paling banyak.
Karena apa? karena ia memberikan seluruh harta yang ia punya!
Kalau kita mau berkorban waktu nonton TV demi belajar atau bikin tugas,,ketika kita mau berkorban ego dan keinginan daging kita untuk menyontek dan nyalin tugas/PR teman,, setiap penyangkalan diri yang kita buat untuk menyenangkan hati Tuhan, adalah bentuk persembahan yang dikenan oleh Tuhan.

Bawalah bakul kita, yang berisi talenta, kelebihan, kerelaan hati kita, pengorbanan diri juga penyangkalan diri kita… Sebagai hasil pertama,, sebagai persembahan buah sulung kita, ke hadapan Tuhan.
Tuhan kita menghargai setiap pemberian yang diberikan dengan sukacita, tanpa paksaan dan dengan motivasi tulus serta hati yang bersih.
Belajarlah dari sekarang untuk memberikan persembahan kepada Tuhan.
Isi bakul kita penuh-penuh dengan persembahan terbaik untuk Tuhan Yesus.

God bless,,

Farha