Senin, 11 Februari 2013

His Silence = His Love and Trust

He answered her not a word ( Matt. 15:23).
He will be silent in his love ( Zeph. 3:17).

It may be a child of God is reading these words who has had some great crushing sorrow, some bitter disappointment, some heart-breaking blow from a totally unexpected quarter. You are longing for your Master's voice bidding you "Be of good cheer," but only silence and a sense of mystery and misery meet you --"He answered her not a word."

God's tender heart must often ache listening to all the sad, complaining cries which arise from our weak, impatient hearts, because we do not see that for our own sakes He answers not at all or otherwise than seems best to our tear-blinded, short-sighted eyes. The silences of Jesus are as eloquent as His speech and may be a sign, not of His disapproval, but of His approval and of a deep purpose of blessing for you.

"Why art thou cast down, O…soul?" Thou shalt yet praise Him, yes, even for His silence. 

Listen to an old and beautiful story of how one Christian dreamed that she saw three others at prayer. 
As they knelt the Master drew near to them.
As He approached the first of the three, He bent over her in tenderness and grace, with smiles full of radiant love and spoke to her in accents of purest, sweetest music. 

Leaving her, He came to the next, but only placed His hand upon her bowed bead, and gave her one look of loving approval. 

The third woman He passed almost abruptly without stopping for a word or glance.

The woman in her dream said to herself, "How greatly He must love the first one, to the second He gave His approval, but none of the special demonstrations of love He gave the first; and the third must have grieved Him deeply, for He gave her no word at all and not even a passing look.
"I wonder what she has done, and why He made so much difference between them?" 

As she tried to account for the action of her Lord, He Himself stood by her and said: "O woman! how wrongly hast thou interpreted Me. The first kneeling woman needs all the weight of My tenderness and care to keep her feet in My narrow way. She needs My love, thought and help every moment of the day. Without it she would fail and fall.

"The second has stronger faith and deeper love, and I can trust her to trust Me however things may go and whatever people do. 

The third, whom I seemed not to notice, and even to neglect, has faith and love of the finest quality, and her I am training by quick and drastic processes for the highest and holiest service.

"She knows Me so intimately, and trusts Me so utterly, that she is independent of words or looks or any outward intimation of My approval. She is not dismayed nor discouraged by any circumstances through which I arrange that she shall pass; she trusts Me when sense and reason and every finer instinct of the natural heart would rebel;--because she knows that I am working in her for eternity, and that what I do, though she knows not the explanation now, she will understand hereafter.

"I am silent in My love because I love beyond the power of words to express, or of human hearts to understand, and also for your sakes that you may learn to love and trust Me in Spirit-taught, spontaneous response to My love, without the spur of anything outward to call it forth."

He "will do marvels" if you will learn the mystery of His silence, and praise Him, for every time He withdraws His gifts that you may better know and love the Giver.

Source : Streams in the Dessert (L.B. Cowman)

Sabtu, 02 Februari 2013

Kristus di dalam aku

“ namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku. Dan hidupku yang kuhidupi sekarang di dalam daging, adalah hidup oleh iman dalam Anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk aku,”
( Galatia 2: 20, ITB)

“ … I identified myself completely with Him. Indeed, I have been crucified with Christ. My ego is no longer central. It is no longer important that I appear righteous before you or have your good opinion, and I am no longer driven to impress God. But CHRIST LIVES IN ME. The life you see me living is not ‘mine’ but it is lived by faith in the Son of God, who loved me and gave himself for me.”
( The Message)

Apa artinya “ Kristus di dalam aku?”
Pagi ini, aku membaca ayat ini dan berpikir. 
Hmm, rasul Paulus menganggap bahwa hidupnya adalah benar-benar milik Kristus, bahkan menyebut bahwa bukan lagi dia sendiri yang hidup dalam dirinya, melainkan Kristus hidup di dalam dia juga.

Bahkan dalam versi The Message, rasul Paulus menulis bahwa:
-         -  Ia telah disalibkan bersama-sama dengan Kristus.
-          - Egonya bukan lagi pusat dirinya.
-          - Penilaian orang tentang dirinya tidak lagi penting
-          - Hidupnya bukan lagi ‘mine’ tapi ia hidup berdasarkan iman kepada Anak Allah.

Jadi... menurut aku,

Ketika Kristus hidup di dalam aku, maka aku pun ikut disalibkan dengan-Nya.
Aku menyalibkan egoku, keinginan-keinginan duniawiku, semua kebiasaan burukku, semua dosa-dosaku.

Ketika Kristus hidup di dalam aku, maka aku SEHARUSNYA berpikir seperti Kristus berpikir.
bertindak seperti Kristus bertindak,
berbicara seperti Kristus berbicara,
berdoa seperti Kristus berdoa,
mengasihi seperti Kristus mengasihi,
sabar dan murah hati seperti Kristus yang senantiasa penuh kesabaran dan kemurahan hati.
Memiliki hati dan pikiran yang serupa dengan Kristus.
Keinginanku harus selaras dengan keinginan-Nya.
Dialah yang menjadi pusat kehidupanku.
Dialah yang memiliki kendali atas hidupku, sepenuhnya, seutuhnya.

Hidup kita ini serupa kapal laut yang rusak, kotor, dan hampir tenggelam di lautan lepas.
Kitalah pemiliknya, kitalah nakhodanya. Kita memegang kendali atas kemudi kapalnya, kabin-kabinnya, dan seluruh mesin kapal tersebut.
Tapi, kita bukanlah pelaut yang ulung, bukanlah nakhoda yang baik, tidak menguasai navigasi kapal, sehingga kapal kita ini berjalan tidak tentu arah, menabrak batu karang berulang-ulang, diterpa badai sehingga hampir hancur bahkan tenggelam.

Kemudian, suatu hari datanglah Yesus.
Ia menawarkan untuk membeli kapal kita dengan harga yang sangat mahal. Setara dengan harga nyawanya sendiri. Bahkan ia menawarkan bahwa kita bisa tetap tinggal di dalam kapal itu bersamanya, bahkan ia berjanji akan membawa kita dan kapal itu menuju rumah-Nya.
Yesus membeli kapal kita, sehingga ia berhak atas setiap inchi di dalam kapal kita.

Pertama, ia menggantikan posisi kita sebagai nakhoda kapal.
Ia seorang nakhoda yang baik, mengetahui navigasi, dan berani. Badai, batu karang, angin kencang, gelombang tinggi tidaklah membuat-Nya takut. Ia bahkan meredakan semua badai di lautan.

Kedua, ia masuk ke dalam kabin-kabin kapal kita. Ada beberapa kabin dalam kapal kita.
Masa lalu kita, yang kita kunci rapat-rapat. Masa kini, yang kotor dan gelap, yang kini kita tempati, dan kabin masa depan, yang terkunci dan kelihatannya dari luar gelap, juga ada kabin ‘rahasia hidup’, di dalamnya kita menyimpan semua rahasia buruk yang kita tidak ingin orang lain tahu.
Karena Ia telah membeli kapal kita, maka kabin-kabin itu juga menjadi miliknya.
Ia masuk ke dalam setiap kabin. Ia membersihkan, membuang semua sampah dan kotoran di dalamnya, dan mendekorasi ulang kabin itu. Dan hei, lihat, bahkan kabin masa depan yang masih terkunci rapat itu, dari luar kelihatan bersih dan indah, kabin itu terlihat menjanjikan kehidupan yang berkelimpahan.

Apa yang kita lakukan kalau begitu?
Kita tunduk dan taat pada apa yang Ia lakukan. Kita menerima semua perubahan yang Ia lakukan, karena kita yakin dan percaya bahwa apa yang Ia lakukan itu terbaik buat kapal kita.

Kapal kita berubah kepemilikan, menjadi kapal milik Yesus.
Sehingga, kapal yang ‘mungkin’ dulunya bernama…
“ Farha yang egois,” atau “ Farha yang hancur,”, kini berganti nama menjadi…

“ Dan kita semua mencerminkan kemuliaan Allah dengan muka yang tidak berselubung. Dan karena kemuliaan itu datangnya dari Tuhan yang adalah Roh, maka kita diubah menjadi serupa dengan gambar-Nya, dalam kemuliaan yang semakin besar,”( 2 Korintus 3:18)
“ Sebab semua orang yang dipilih-Nya dari semula, mereka juga ditentukan-Nya dari semula untuk menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya, supaya Ia, Anak-Nya itu, menjadi yang sulung di antara banyak saudara.”( Roma 8:29)
“ Yang aku kehendaki ialah mengenal Dia dan kuasa kebangkitan-Nya dalan persekutuan dalam penderitaan-Nya, dimana aku menjadi serupa dengan Dia dalam kematian-Nya,”( Filipi 3:10 )

God bless,,