Tampilkan postingan dengan label KEPOMPONG. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label KEPOMPONG. Tampilkan semua postingan

Senin, 03 Februari 2014

This is My doing

Saat memasuki bulan Februari, jujur saya agak cemas dan takut.
Takut nilai gak sesuai harapan, cemas gak bisa ngambil SKS full semester depan hingga takut gak bisa lulus dalam waktu yang saya inginkan, dan lain-lain.
Saya berdoa tiap malam agar saya bisa benar-benar berserah pada apapun yang jadi kehendak-Nya.

Dan pagi-pagi baca tulisan ini...sungguh memberkati...dan bikin saya senyum-senyum sepanjang hari, ah, tidak sampai saat ini pun hati saya tersenyum kalo mengingatnya ^^.

Mau post di blog biar jadi PENGINGAT dan jadi BERKAT juga bagi orang lain yang membacanya.



"This is my doing"(1 Kings 12:24)
The disappointments of life are simply the hidden appointments of love.
--C.A. Fox
My child, I have a message for you today. 
Let me whisper it in your ear so any storm clouds that may arise will shine with glory, and the rough places you may have to walk will be made smooth. It is only four words, but let them sink into your inner being, and use them as a pillow to rest your weary head. "This is my doing."
Have you ever realized that whatever concerns you concerns Me too? 
"For whoever touches you touches the apple of [my] eye" (Zech. 2:8). "You are precious and honored in my sight" (Isa. 43:4). Therefore it is My special delight to teach you.
I want you to learn when temptations attack you, and the enemy comes in "like a pent up flood" (Isa. 59:19)., that"this is my doing" and that your weakness needs My strength, and your safety lies in letting Me fight for you.
Are you in difficult circumstances, surrounded by people who do not understand you, never ask your opinion, and always push you aside? 
"This is my doing." I am the God of circumstances. You did not come to this place by accident -- you are exactly where I meant for you to be.
Have you not asked Me to make you humble? 
Then see that I have placed you in the perfect school where this lesson is taught. Your circumstances and the people around you are only being used to accomplish My will.
Are you having problems with money, finding it hard to make ends meet? "This is my doing," for I am the One who keeps your finances, and I want you to learn to depend upon Me. My supply is limitless and I "will meet your needs" (Phil. 4:19). I want you to prove My promises so no one may say, "You did not trust in the Lord your God" (Deut. 1:32).
Are you experiencing a time of sorrow? "This is my doing." I am "a man of sorrows, and familiar with suffering" (Isa. 53:3). I have allowed your earthly comforters to fail you, so that by turning to Me you may receive "eternal encouragement and good hope" (2 Thess. 2:16). Have you longed to do some great work for Me but instead have been set aside on a bed of sickness and pain? "This is my doing." You were so busy I could not get your attention, and I wanted to teach you some of My deepest truths. "They also serve who only stand and wait." In fact, some of My greatest workers are those physically unable to serve, but who have learned to wield the powerful weapon of prayer.
Today I place a cup of holy oil in your hands. Use it freely, My child. Anoint with it every new circumstance, every word that hurts you, every interruption that makes you impatient, and every weakness you have. The pain will leave as you learn to see Me in all things.
--Laura A. Barter Snow

"This is from Me," the Savior said,

As bending low He kissed my brow,
"For One who loves you thus has led.
Just rest in Me, be patient now,
Your Father knows you have need of this,
Though, why perhaps you cannot see--
Grieve not for things you've seemed to miss.
The thing I send is best for thee."
Then, looking through my tears, I plead,
"Dear Lord, forgive, I did not know,
It will not be hard since You do tread,
Each path before me here below."
And for my good this thing must be,
His grace sufficient for each test.

So still I'll sing, "Whatever be God's way for me is always best."

Source : Streams in the Desert devotional (http://crosswalk.com/desert)

Senin, 22 April 2013

We Don't Need to Understand, Just Obey


A couple days ago, when I opened my Y!Mail, I found an email from Streams in the Desert. 
For more than a year, that devotional had encouraging me with they words, stories or quotes. 
Feel so blessed and grateful!

Akhir-akhir ini, aku lagi struggle dengan yang namanya ‘His will’ upon my life. 
Lagi dalam masa-masa kebingungan, kadang galau (hehehe). Aku ingin mendengar suara Tuhan yang bcara langsung kepadaku,
“ Ini lho, Farha, yang aku inginkan dari kamu….” Dst.

Tapi setelah membaca tulisan ini, somehow a peaceful feeling grow inside me.

Learn also to wait on God for the unfolding of His will. Let God form your plans about everything in your mind and heart and then let Him execute them.
Do nit possess any wisdom of your own.
For many times His execution will seem so contradictory to the plan He gave.
He will seem to work against Himself.
Simply listen, obey and trust God even when it seems highest folly to do. He will in the end make “all things work together” but so many times in the first appearance of the outworking of this plans.
So if you would know His voice, never consider results or possible effects. Obey even when He asks you to move in the dark.
He himself will be gloriously light in you.
And there will spring up rapidly in your heart an acquaintanceship and a fellowship with God which will be overpowering in itself to hold you and Him together even in the severest testings and under most terrible pressures.

Tuhan lagi mengajarkan sesuatu yang baru sama aku, yaitu ketaatan.
Ada beberapa hal yang nggak masuk akal (menurutku :p) yang terjadi dalam proses ini.

Seperti… kenapa Tuhan malah cut sebagian penghasilan aku di saat aku benar-benar lagi butuh dana buat lanjut kuliah?
Padahal ini rencana Tuhan.

Kemudian, kenapa Tuhan kasih timing yang ‘nggak’ tepat? Aku lanjut kuliah di saat musim pemilihan pengurus komisi yang baru akan dimulai, dan mengundang banyak sekali asumsi dan komentar negative di antara orang-orang?

Awalnya, aku nggak mengerti kenapa.
Dan akhirnya aku sadar kalau Tuhan tidak perlu kita mengerti apa yang Ia lakukan, yang Ia butuhkan dari kita adalah ketaatan untuk tunduk dan melakukan apa yang Ia perintahkan juga menaruh kepercayaan pada-Nya.

Sekarang sih, meskipun sedikit demi sedikit, aku mulai mengerti apa maksud Tuhan.
Meskipun penghasilanku berkurang, tapi aku tidak pernah berkekurangan. Aku bersyukur karena aku nggak pernah pinjam uang dari orang lain, yang ada aku meminjamkan uang ke orang lain.
Dan di saat-saat aku  pikir kondisi keuangan aku gak bakal cukup, ternyata bisa cukup dan bahkan lebih!

I learned about God’s supernatural providence to me!

Di saat penghasilanku di-cut, puji Tuhan,aku masih bisa menabung untuk biaya kuliah dan tetap memberi persembahan di gereja.
Aku rasa Tuhan sedang mengetes komitmen aku pada-Nya.
Seberapa peka aku dengar suara-Nya dan seberapa besar kepercayaan aku terhadap janji-janji-Nya?
Pergi di saat pemilihan akan dimulai memang mengundang asumsi dan komentar negatif sana-sini, tapi Tuhan ingin aku tetap taat dan percaya pada-Nya.

Apa aku akan terpengaruh dengan omongan orang-orang di sekitar aku atau ingat sama janji Tuhan?
Ya, apa yang Tuhan lakukan sering kelihatan berlawanan, bertolak belakang dengan apa yang Ia janjikan.

Tapi bukankah iman kita karena kita percaya dan bukan karena melihat?

Once again, God doesn’t need us to understand why, but just simply listen, obey and trust Him.

God bless,,

Rabu, 03 April 2013

Obedience


Selama dua minggu terakhir ini, aku membaca buku ‘Crazy Love’-nya Francis Chan. Jujur saja, isi buku itu benar-benar menempelak. Intinya sih Francis Chan ingin agar kita benar-benar menghidupi Kristus dalam hidup kita. Benar-benar mencintai Tuhan, dan menjadikan Tuhan itu focus dalam kehidupan kita. Francis Chan memaparkan bagaimana sih hidup radikal itu.

Pas baca buku itu, aku jadi semangat lagi mengejar panggilan hidup aku dan melayani Tuhan di gereja aku yang sekarang. Aku juga jadi sadar bahwa wujud kasih yang sebenarnya itu adalah memberi.  Sama seperti Kristus telah memberikan segala yang Ia miliki, bahkan nyawa-Nya untuk aku, demikian pula yang harus aku lakukan. Memberi kepada orang lain.

Overall buku itu recommended banget buat dibaca, dan aku tertarik untuk buat review buku tersebut, jika punya waktu, hehehe…

Actually, akhir-akhir ini aku lagi menggumuli tentang rencana aku untuk lanjut kuliah lagi.
Aku sempat ragu apakah ini rencana Tuhan buat aku. Soalnya, dengan pergi sekolah, aku akan meninggalkan pelayanan yang aku lakukan selama ini. Hal itu berat buat aku. Dan aku sempat mikir, apa itu benar-benar rencana Tuhan kalau aku harus meninggalkan pelayanan yang aku lakukan sekarang?
Aku takut kalau aku nggak dengar baik-baik suara Tuhan, nggak peka sama Roh Kudus, sehingga nantinya salah ngambil keputusan. Keputusan yang aku ambil akan berdampak besar buat hidup aku.

Jujur saja, aku sangat, sangat, sangat ingin kuliah lagi. Aku ingin kuliah sampai S2. Aku sudah menggumulinya selama hampir 3 tahun ini dan sekarang Tuhan buka kesempatan aku untuk sekolah lagi.
Selama proses itu, aku melihat penyertaan Tuhan. Mulai dari aku nggak lulus tes masuk saat melamar pekerjaan, terus akhirnya kerja di kampus aku di bagian laboratorium, dan banyak banget pergumulan dan tantangan yang aku hadapi di tempat kerja, yang membuat aku makin tumbuh dan makin dekat dengan Tuhan. Aku merasakan kalau Tuhan mengajarkan aku banyak hal agar aku makin bertumbuh dan dewasa dalam iman.
Tuhan benar-benar mengubah aku.

Salah satu pelajaran penting yang Ia ajarkan kepadaku adalah untuk melepaskan semua keinginan dan cita-citaku di bawah kaki-Nya dan membiarkan Ia yang menulis kisah hidupku.

Aku belajar untuk punya iman. Kalau Tuhan nggak pernah merancangkan sesuatu yang buruk dalam hidup anak-anak-Nya. Dan rencana-Nya dalam hidup kita itu, terkadang di luar pemikiran kita, jauh lebih besar dan tak terbayangkan. Itu nggak mudah. Karena iman berarti melepaskan segalanya, dan benar-benar menaruh pengharapan akan janji-janji Tuhan.
Tapi sekarang aku sudah mengerti dan sudah menaruh semua keinginan dan cita-cita aku di bawah kaki Tuhan Yesus.

Puji Tuhan, pertengahan tahun lalu, orang tua aku akhirnya mengizinkan aku untuk lanjut kuliah di luar daerah. Aku benar-benar mengucap syukur karena Tuhan memberikan apa yang jadi keinginan hati aku.
Aku mulai mencari-cari perguruan tinggi yang akan kumasuki dan ternyata prosesnya juga nggak gampang. Banyak pertimbangan-pertimbangan, aku minta masukan-masukan dari senior-senior aku juga teman-teman aku dan tentunya meminta hikmat dari Tuhan, dimana Ia berkenan untuk aku kuliah.
Setelah aku menemukan perguruan tinggi yang aku akan masuki, nah kecemasan dan ketakutan justru mulai merayapi hati aku. Ada saat-saat dimana aku mau menyerah saja, nggak usah lanjut kuliah lagi karena ketakutan-ketakutan itu.

Dan Tuhan kembali mengajari aku untuk menaruh semua kecemasan dan ketakutan itu ke dalam tangan-Nya. Tuhan mengingatkan aku setiap saat kalau meskipun aku  nantinya bakal jauh dari orangtua, teman-teman, komunitas gereja aku, Dia tetap bersama aku.
Aku nggak perlu takut karena Dialah penjagaku.
And then, kini tinggal beberapa bulan sebelum aku pergi.

Justru goncangannya makin hebat, karena aku mulai meragukan apa ini benar-benar janji Tuhan untuk aku sedangkan jika aku pergi itu artinya aku meninggalkan pelayanan yang aku lakukan.
Banyak orang yang berasumsi kalau aku mau lari dari pelayanan. Banyak orang yang berasumsi kalau aku nggak mau ditunjuk jadi pemimpin, that’s why aku pergi sekolah sebelum musim pemilihan pengurus baru itu dimulai.

Jujur saja, aku nangis di kamar setelah mendengar hal tersebut. Sedetik pun aku nggak pernah punya pikiran untuk meninggalkan pelayanan aku. Aku malah terbeban untuk terus melayani mereka, apalagi dengan keadaan saat ini, dimana adik-adik remaja aku butuh banyak bimbingan dan binaan.
Aku benar-benar bingung dengan apa yang harus aku lakukan.
Lanjut sekolah dan meninggalkan pelayanan aku?
Atau menyerah terhadap mimpi aku dan terus pelayanan?
Sejujurnya, aku lebih memilih untuk sekolah, sebagian besar hati aku memilih untuk itu.
Tapi, aku takut kalau ternyata hati aku itu menipu, dan aku terlalu terkonsumsi dengan keinginan hati aku dan akhirnya menulikan telinga aku dari suara Tuhan.
Tiap hari aku bergumul dengan hal itu, sampai aku benar-benar kebingungan dan finally nangis di kamar sama Tuhan.

Sometimes, aku iri melihat teman-teman aku yang dengan mudahnya ngambil keputusan. Nggak mempertimbangkan macam-macam. Kayaknya gampang saja untuk memutuskan sesuatu.
Berbeda sekali dengan aku. Karena aku sudah commit sama Tuhan, kalo setiap langkah yang aku mau ambil dalam hidup aku harus berpadanan dengan kehendak Tuhan.
Dan finally jadi rumit begini, bikin aku stress sendiri…

Kenapa sih Tuhan nggak langsung bilang saja, aku harus pergi sekolah atau aku tetap tinggal dalam keadaan aku yang sekarang?
Akhirnya aku sadar kalau Tuhan sedang mengajariku hal baru.
KETAATAN.
Malam-malam ketika aku nangis ke Tuhan….Tuhan mengingatkan aku tentang Abraham.
Ketika Ia menyuruh Abraham untuk mengorbankan Ishak, anak satu-satunya, anak yang didapat berdasarkan janji Tuhan untuknya.
Bayangkan saja, Abraham menunggu bertahun-tahun lamanya untuk mendapatkan Ishak, menunggu begitu lama sampai Tuhan menggenapi janji-Nya tentang seorang anak.
Ishak, bagi Abraham bukan hanya seorang anak kandung, atau seorang ahli waris, tapi bukti dari janji Tuhan untuknya.
Dan sekarang, Tuhan bilang untuk mengorbankan Ishak,anaknya?
Tapi, Abraham tetap taat. Abraham membawa Ishak ke bukit Moria, untuk mengorbankannya sebagai Korban bakaran di hadapan Tuhan.
Tepat ketika Abraham hendak membunuh Ishak, Tuhan menghentikannya.
Tuhan ingin melihat ketaatan Abraham, Tuhan ingin menguji iman Abraham kepada-Nya.

Dan Tuhan rupanya ingin aku belajar hal yang sama.
Tuhan ingin menguji iman aku, ingin menguji ketaatan aku. Ingin menguji komitmen yang aku buat di hadapan-Nya.
Segala sesuatu yang aku inginkan tidak akan lebih besar dari keinginan aku untuk mengenal-Nya dan melakukan kehendak-Nya dalam hidup aku.
Tuhan belum reveal sampai sekarang ke aku, apa aku lanjut sekolah atau tetap tinggal, karena Ia ingin melihat sejauh mana aku bisa pegang komitmen aku, sejauh mana aku bakal taat sama perintah-Nya, sejauh mana aku menaruh iman aku kepada-Nya.
Aku memutuskan untuk menaruh semua mimpi aku, termasuk untuk lanjut kuliah lagi di mezbah korban bagi Tuhan.
Aku memutuskan untuk taat akan setiap kehendak Tuhan dalam kehidupan aku.
Aku mau seperti Abraham yang taat dengan setiap kehendak Tuhan dalam hidupnya,meski itu secara manusia, sangat sulit.

Semuanya, kakak-kakak blogger,, can you pray for me?
Agar aku bisa lebih peka dengar suara Tuhan, dan bisa berjalan terus dengan iman, juga terus pegang komitmen aku.

 God bless,,



Senin, 11 Februari 2013

His Silence = His Love and Trust



He answered her not a word ( Matt. 15:23).
He will be silent in his love ( Zeph. 3:17).

It may be a child of God is reading these words who has had some great crushing sorrow, some bitter disappointment, some heart-breaking blow from a totally unexpected quarter. You are longing for your Master's voice bidding you "Be of good cheer," but only silence and a sense of mystery and misery meet you --"He answered her not a word."

God's tender heart must often ache listening to all the sad, complaining cries which arise from our weak, impatient hearts, because we do not see that for our own sakes He answers not at all or otherwise than seems best to our tear-blinded, short-sighted eyes. The silences of Jesus are as eloquent as His speech and may be a sign, not of His disapproval, but of His approval and of a deep purpose of blessing for you.

"Why art thou cast down, O…soul?" Thou shalt yet praise Him, yes, even for His silence. 

Listen to an old and beautiful story of how one Christian dreamed that she saw three others at prayer. 
As they knelt the Master drew near to them.
As He approached the first of the three, He bent over her in tenderness and grace, with smiles full of radiant love and spoke to her in accents of purest, sweetest music. 

Leaving her, He came to the next, but only placed His hand upon her bowed bead, and gave her one look of loving approval. 

The third woman He passed almost abruptly without stopping for a word or glance.

The woman in her dream said to herself, "How greatly He must love the first one, to the second He gave His approval, but none of the special demonstrations of love He gave the first; and the third must have grieved Him deeply, for He gave her no word at all and not even a passing look.
"I wonder what she has done, and why He made so much difference between them?" 

As she tried to account for the action of her Lord, He Himself stood by her and said: "O woman! how wrongly hast thou interpreted Me. The first kneeling woman needs all the weight of My tenderness and care to keep her feet in My narrow way. She needs My love, thought and help every moment of the day. Without it she would fail and fall.

"The second has stronger faith and deeper love, and I can trust her to trust Me however things may go and whatever people do. 

The third, whom I seemed not to notice, and even to neglect, has faith and love of the finest quality, and her I am training by quick and drastic processes for the highest and holiest service.

"She knows Me so intimately, and trusts Me so utterly, that she is independent of words or looks or any outward intimation of My approval. She is not dismayed nor discouraged by any circumstances through which I arrange that she shall pass; she trusts Me when sense and reason and every finer instinct of the natural heart would rebel;--because she knows that I am working in her for eternity, and that what I do, though she knows not the explanation now, she will understand hereafter.

"I am silent in My love because I love beyond the power of words to express, or of human hearts to understand, and also for your sakes that you may learn to love and trust Me in Spirit-taught, spontaneous response to My love, without the spur of anything outward to call it forth."

He "will do marvels" if you will learn the mystery of His silence, and praise Him, for every time He withdraws His gifts that you may better know and love the Giver.
--Selected

Source : Streams in the Dessert (L.B. Cowman)


Sabtu, 12 Januari 2013

KEPOMPONG





Semua pasti tahu tentang kepompong.
Semua yang pernah duduk di SD dan belajar metamorphosis serangga di mata pelajaran IPA pasti tahu soal kepompong.
Kepompong adalah salah satu siklus hidup dari kupu-kupu. Pertama, ia adalah sebuah telur, menetas menjadi ulat, dan kemudian dibungkus menjadi kepompong lalu ia keluar menjadi kupu-kupu yang indah.
Kenapa aku jadi nulis soal kepompong?
Ini dimulai pas ibadah Minggu tanggal 30 Desember 2012 kemaren.
Aku menghadiri ibadah Minggu, ibadah itu sekaligus dengan ibadah peneguhan K’Reiny sebagai seorang Pendeta.
I was so excited! Gak setiap tahun kita bisa melihat peneguhan seorang Pendeta di gereja, also, K’Reiny adalah seorang hamba Tuhan yang aku hormati dan sayangi ^^.
She is such a lovely, charming and gentle woman who I adore. Jadi aku turut gembira saat mendengar bahwa K’Reiny akan diteguhkan menjadi seorang Pendeta.
Ibadah Peneguhan Pendeta sangat hikmat, dan bikin aku merinding juga pengen nangis.
Ada yang pas K’Reiny nyanyi solo “Ya Yesus Ku Berjanji” aku jadi pengen nangis saking tersentuh dan terharu :').
JUga pas para Pendeta senior menumpangkan tangan sama K’Reiny.
Terus ada juga momen menarik dimana Pendeta dari BPS GMIM memperkenalkan macam-macam stola, perlengkapan pembaptisan, perlengkapan Perjamuan Kudus, mimbar dan jemaat.
Dan saat pelayanan Firman Tuhan yang dipimpin sendiri oleh Pdt. Reiny Komaling-Moniaga, S.Th ^^, she talked about KEPOMPONG.
Pembacaan Alkitab diambil dari Keluaran 13:17-22, dimana bangsa Israel yang baru keluar dari tanah Mesir tidak dituntung Tuhan lewat jalan yang paling dekat, yaitu lewat orang Filistin, tapi mereka harus memutar lewat padang gurun, yang pada akhirnya mereka selama 40 tahun muter-muter padang gurun sebelum akhirnya bangsa Israel sampai ke tanah Kanaan.
Pertanyaannya, kenapa?
Kenapa Tuhan gak menuntun bangsa Israel lewat jalan yang paling pendek, tapi lewat jalan yang sangat panjang dan melelahkan? Perjalanan yang sebenarnya tidak sampai sebulan, akhirnya jadi empat puluh tahun :O.
Dan akhirnya K’Reiny bilang soal kepompong ini. Proses bangsa Israel menuju tanah Kanaan ini kayak proses dari kepompong menjadi kupu-kupu.
AKu jadi kepikiran juga soal kepompong,hehe…
Tuhan menuntun bangsa Israel melewati padang gurun selama 40 tahun bukan karena Tuhan itu jahat, kejam dan pengen bangsa Israel menderita dulu, tapi sebaliknya, Tuhan ingin yang terbaik buat mereka.
Pertama, kalo bangsa Israel itu lewat wilayah orang Filistin, mereka pasti bakal takut berperang, karena orang-orang Filistin itu kuat bahkan keturunan raksasa. Ingat Goliat? Dia itu salah satu keturunan raksasa dari orang Filistin. 
Tuhan bisa saja membuat orang Israel menang melawan orang Filistin, tentu saja, tapi itu akan membuat orang Israel manja, cengeng, dan gak punya iman, dan malah menyombongkan diri.
So, Tuhan memilih rute lain untuk bangsa pilihannya. Rute yang panjang dan berat, tapi akan menghasilkan hasil yang terbaik untuk mereka.
Simply He just love them.
Kedua, Tuhan ingin membuat bangsa Israel benar-benar siap memasuki tanah Perjanjian, dan Tuhan tahu bahwa untuk mempersiapkan bangsa Israel itu butuh waktu.
Dan bukan salah Tuhan kalau waktunya empat puluh tahun,huehehe…
Itu karena kesalahan bangsa Israel sendiri yang keras kepala, suka bersungut-sungut bahkan sering bikin Allah murka karena dosa-dosa mereka,makanya Tuhan membuat mereka muter-muter di padang gurun empat puluh tahun lamanya.
Selama empat puluh tahun di padang gurun, bangsa Israel belajar untuk benar-benar hanya bergantung sama pemeliharaan Tuhan Allah.
Mulai dari penuntun jalan mereka, yaitu tiang awan dan tiang api. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana jadinya berjalan di padang gurun tanpa perlindungan tiang awan dan tiang api. Tanpa tiang awan dan tiang api itu orang Israel pasti bakal tersesat dan mati di padang gurun.
Kemudian soal makanan, yaitu manna yang turun dari sorga tiap hari.
Juga perlindungan dari musuh-musuh mereka. Peperangan yang harus orang Israel alami gak sedikit selama perjalanan di padang gurun, apalagi pas mereka nyampe di Kanaan dan harus berperang melawan raja-raja bangsa Kanaan.
Lewat empat puluh tahun juga di padang gurun, Tuhan menguji hati bangsa Israel.
Karena dosa-dosa mereka pada akhirnya semua orang yang keluar dari Mesir,kecuali Yosua dan Kaleb, tidak melihat tanah Perjanjian, termasuk Musa. Keturunan merekalah yang pada akhirnya menjadi orang yang menerima janji itu, masuk ke dalam Tanah Perjanjian.
Dan selama empat puluh tahun di padang gurun, Tuhan mengajarkan bangsa Israel banyak hal. Peraturan-peraturan, hukum-hukum, cara beribadah, tempat beribadah dan perkakas-perkakasnya.
See? Tuhan itu bukan asal-asalan membuat orang Israel mengembara di padang gurun dalam kurun waktu yang begitu lama.
He have a purpose, He have a plan, dan seperti kitab Yesaya bilang “ Rancangan-Ku bukanlah rancanganmu, dan jalan-Ku bukanlah jalanmu,”.
Manusia memang tidak bisa memahami rencana Tuhan.
Pada akhirnya, ketika Tuhan melihat bahwa bangsa Israel telah siap untuk masuk tanah Kanaan, Ia sendiri yang membawa, menuntun dan menyertai bangsa Israel untuk masuk dan menduduki Kanaan.
Janji yang Tuhan berikan kepada Abraham, Ishak dan Yakub digenapi beberapa ratus kemudian.
Actually, aku merasa aku sedang ada di fase tersebut. Yah, banyak pergumulan dan tantangan yang aku hadapi dua tahun terakhir ini dan aku masih belum jelas soal panggilan aku dan many more things.
Aku merasa aku berjalan dalam gua yang gelap dan benar-benar gak tahu mo kemana.
Berulang kali aku bertanya sama Tuhan kenapa aku kok kayak dipermainkan, kayak menderitaa banget, kayak Tuhan ngasih aku pencobaan paling berat (padahal enggak :p), pokoknya ada momen-momen yang aku desperate banget, eh, dan kalo dipikir-pikir en diingat-ingat lagi aku jadi malu, karena yang aku alami itu biasa-biasa saja (aku baru nyadar) dan betapa tingkah aku lebaaaayyyy banget ,huehehehe…
Tapi lewat perenungan Firman Tuhan hari Minggu itu, Tuhan secara clearly (weitsss, hehehe) bilang ke aku, kalo aku ini sedang dalam fase kepompong.
KEPOMPONG!
Tuhan, kepompong itu jelek, gendut, jijik, aahhh pokoknya gak banget,deh!
Aku protes.
Tapi kupu-kupu gak akan jadi cantik kalo gak jadi kepompong dulu, Sweetheart… Tuhan berkata.
And I just smiled to Him also nodded.
Yes, He’s right.
Kupu-kupu adalah binatang yang istimewa menurut aku. Karena siklus hidupnya yang tidak biasa.
Kupu-kupu mengalami proses yang namanya metamorphosis. Setahu aku sih, hanya dua binatang yang mengalami metamorphosis, kupu-kupu dan katak.
Ada fase-fase yang harus dilewati oleh kupu-kupu sebelum ia jadi kupu-kupu dewasa.
Telur, menetas jadi Ulat, kemudian dibungkus jadi Kepompong, lalu jadi Kupu-kupu.
Yah, semuanya juga sudah pada tahu kan?
Kalo proses yang paling lama, paling berat adalah fase kepompong.
Saat ulat jadi kepompong, ia harus mengorbankan kebebasan dirinya.
Saat ia dibungkus jadi kepompong, ia gak bakal bisa bergerak kemana-mana lagi, ia harus diam, stay disitu sampai saatnya tiba ia keluar jadi kupu-kupu.
Saat ia dibungkus jadi kepompong, ia gak bakal bisa liat dunia luar. Di dalam kepompong itu pasti gelap.
Saat ia dibungkus jadi kepompong, ia harus bergantung hanya pada zat-zat makanan yang ada dalam kepompong itu.
Saat jadi kepompong, ia jadi mahluk yang lemah, mahluk yang rentan di dalam kepompong itu, dan kepompong itu jadi satu-satunya tempat yang aman buat dia.
Saat ia dibungkus jadi kepompong, ia harus menunggu. Sendirian, Gelap. Juga kesakitan. Karena dalam kepompong itu, tubuhnya mengalami perubahan-perubahan secara perlahan.
Jadi kepompong itu gak enak. Jadi kepompong itu sakit. Jadi kepompong itu menderita.
Sama seperti yang aku alami. Banyak saat-saat yang gak mengenakkan yang harus aku hadapi, kekecewaan, penolakan, dan sebagainya.
Aku benar-benar diuji sama Tuhan setahun belakangan ini dalam banyak hal. Di tempat kerja, di rumah bahkan di pelayanan.
Belum lagi harapan-harapan yang… kelihatannya ‘dihancurkan’ sama Tuhan.
Dan mungkin hal yang paling gak mengenakkan dari fase ‘kepompong’ ini adalah… aku nggak tahu kapan fase ini akan selesai.
Yang pasti, aku tahu kalo fase ini akan selesai ketika aku benar-benar udah cantik di mata Tuhan.
Ketika Tuhan melihat bahwa aku sudah siap untuk menerima janji-janji Tuhan.
Ketika Tuhan melihat kalau aku sudah siap ‘terbang’, dalam arti aku sudah siap untuk terjun dalam panggilan aku dari Tuhan.
Kupu-kupu kan diciptakan untuk terbang ya kan? Ia dilengkapi dengan sayap yang indah, untuk terbang.
So, aku bersyukur kalau sekarang aku ada di fase kepompong ini.
Walaupun gak enak, menderita, sakit, dan gak tahu kapan akan berakhir, tapi yang pasti Tuhan gak pernah ninggalin aku sedetik pun di fase ini.
Lagipula, aku belajar bahwa tanpa fase kepompong ini, aku akan selamanya jadi ulat.
Ulat itu mahluk lemah, diinjak dikit pasti mati. It means, aku nggak bisa menghadapi tantangan hidup.
Ulat itu hama perusak. Makanannya daun-daunan. Yang pasti kalau aku jadi ‘ulat’, aku bukannya jadi berkat tapi jadi batu sandungan buat orang lain, dan aku nggak mau itu.
Ulat itu gak menarik, huehehehe… Ulat gak bakal dilihat dua kali sama orang, ulat juga dijauhi sama orang.
Yang pasti, Tuhan gak pernah punya rencana buat anak-anak-Nya hidup sama seperti ulat.
Tuhan gak pernah kasih rancangan masa depan yang buruk buat anak-anak-Nya.
So, here I am. Aku sedang dalam fase kepompong.
Fase akhir dari persiapan menjadi kupu-kupu.
Fase dimana aku akan mempersiapkan diriku untuk punya sayap. Sayap indah yang nanti akan kugunakan untuk terbang saat aku keluar dari fase kepompong ini.
Aku benar-benar menantikan saatnya aku keluar dari kepompong ini.
Tapi aku juga tahu bahwa hidup dalam kepompong ini pun adalah hal terbaik yang aku alami sekarang.
Karena Tuhan sedang mempersiapkan diri aku untuk menerima janji-Nya.
Karena Tuhan sedang mempersiapkan diri aku menjadi wanita yang cantik dan berkenan di mata-Nya.
Karena Tuhan sedang membuat aku bertumbuh dalam iman, kasih dan pengenalan akan diri-nya.
Dan karena Tuhan pun…menanti-nantikan saatnya ketika aku siap, keluar dari kepompong ini dan menjadi kupu-kupu.
Ah, how I love You, Father!
Dari tulisan ini, mungkin aku akan menulis lagi tulisan soal fase kepompong ini. Yup, soalnya aku punya feeling kalau tahun ini akan makin gencar lagi tantangannya. Kemaren-kemaren, pas semakin dekat ke akhir tahun, Tuhan semakin clearly dan sering bilang hal itu ke aku lewat firman-Nya.
Please pray for me, and encouraging me in this phase.
God bless,,
Bergembiralah akan hal itu, sekalipun sekarang ini kamu SEKETIKA harus berdukacita oleh berbagai-bagai pencobaan. Maksud semuanya itu ialah untuk membuktikan kemurnian imanmu – yang jauh lebih tinggi nilainya dari pada emas yang fana, yang diuji kemurniannya dengan api- sehingga kamu memperoleh puji-pujian dan kemuliaan dan kehormatan pada hari Yesus Kristus menyatakan diri-Nya.”I Petrus 1:6,7

PS : Aku men-caps lock kata SEKETIKA, karena aku percaya bahwa setiap tantangan, pergumulan, pencobaan yang anak Tuhan harus hadapi hanyalah SEKETIKA waktunya. Artinya hanya sementara, tidak selamanya. Tuhan selalu menolong kita melewati itu semua. Dan aku percaya, Tuhan selalu menulis cerita BEST HAPPY ENDING! Lagipula, penderitaan yang kita alami itu hanya SEKETIKA…jika kita bandingkan dengan betapa lamanya HIDUP KEKAL yang akan kita terima nantinya di sorga.
Welcome 2013!!!!