Rabu, 03 April 2013

Obedience


Selama dua minggu terakhir ini, aku membaca buku ‘Crazy Love’-nya Francis Chan. Jujur saja, isi buku itu benar-benar menempelak. Intinya sih Francis Chan ingin agar kita benar-benar menghidupi Kristus dalam hidup kita. Benar-benar mencintai Tuhan, dan menjadikan Tuhan itu focus dalam kehidupan kita. Francis Chan memaparkan bagaimana sih hidup radikal itu.

Pas baca buku itu, aku jadi semangat lagi mengejar panggilan hidup aku dan melayani Tuhan di gereja aku yang sekarang. Aku juga jadi sadar bahwa wujud kasih yang sebenarnya itu adalah memberi.  Sama seperti Kristus telah memberikan segala yang Ia miliki, bahkan nyawa-Nya untuk aku, demikian pula yang harus aku lakukan. Memberi kepada orang lain.

Overall buku itu recommended banget buat dibaca, dan aku tertarik untuk buat review buku tersebut, jika punya waktu, hehehe…

Actually, akhir-akhir ini aku lagi menggumuli tentang rencana aku untuk lanjut kuliah lagi.
Aku sempat ragu apakah ini rencana Tuhan buat aku. Soalnya, dengan pergi sekolah, aku akan meninggalkan pelayanan yang aku lakukan selama ini. Hal itu berat buat aku. Dan aku sempat mikir, apa itu benar-benar rencana Tuhan kalau aku harus meninggalkan pelayanan yang aku lakukan sekarang?
Aku takut kalau aku nggak dengar baik-baik suara Tuhan, nggak peka sama Roh Kudus, sehingga nantinya salah ngambil keputusan. Keputusan yang aku ambil akan berdampak besar buat hidup aku.

Jujur saja, aku sangat, sangat, sangat ingin kuliah lagi. Aku ingin kuliah sampai S2. Aku sudah menggumulinya selama hampir 3 tahun ini dan sekarang Tuhan buka kesempatan aku untuk sekolah lagi.
Selama proses itu, aku melihat penyertaan Tuhan. Mulai dari aku nggak lulus tes masuk saat melamar pekerjaan, terus akhirnya kerja di kampus aku di bagian laboratorium, dan banyak banget pergumulan dan tantangan yang aku hadapi di tempat kerja, yang membuat aku makin tumbuh dan makin dekat dengan Tuhan. Aku merasakan kalau Tuhan mengajarkan aku banyak hal agar aku makin bertumbuh dan dewasa dalam iman.
Tuhan benar-benar mengubah aku.

Salah satu pelajaran penting yang Ia ajarkan kepadaku adalah untuk melepaskan semua keinginan dan cita-citaku di bawah kaki-Nya dan membiarkan Ia yang menulis kisah hidupku.

Aku belajar untuk punya iman. Kalau Tuhan nggak pernah merancangkan sesuatu yang buruk dalam hidup anak-anak-Nya. Dan rencana-Nya dalam hidup kita itu, terkadang di luar pemikiran kita, jauh lebih besar dan tak terbayangkan. Itu nggak mudah. Karena iman berarti melepaskan segalanya, dan benar-benar menaruh pengharapan akan janji-janji Tuhan.
Tapi sekarang aku sudah mengerti dan sudah menaruh semua keinginan dan cita-cita aku di bawah kaki Tuhan Yesus.

Puji Tuhan, pertengahan tahun lalu, orang tua aku akhirnya mengizinkan aku untuk lanjut kuliah di luar daerah. Aku benar-benar mengucap syukur karena Tuhan memberikan apa yang jadi keinginan hati aku.
Aku mulai mencari-cari perguruan tinggi yang akan kumasuki dan ternyata prosesnya juga nggak gampang. Banyak pertimbangan-pertimbangan, aku minta masukan-masukan dari senior-senior aku juga teman-teman aku dan tentunya meminta hikmat dari Tuhan, dimana Ia berkenan untuk aku kuliah.
Setelah aku menemukan perguruan tinggi yang aku akan masuki, nah kecemasan dan ketakutan justru mulai merayapi hati aku. Ada saat-saat dimana aku mau menyerah saja, nggak usah lanjut kuliah lagi karena ketakutan-ketakutan itu.

Dan Tuhan kembali mengajari aku untuk menaruh semua kecemasan dan ketakutan itu ke dalam tangan-Nya. Tuhan mengingatkan aku setiap saat kalau meskipun aku  nantinya bakal jauh dari orangtua, teman-teman, komunitas gereja aku, Dia tetap bersama aku.
Aku nggak perlu takut karena Dialah penjagaku.
And then, kini tinggal beberapa bulan sebelum aku pergi.

Justru goncangannya makin hebat, karena aku mulai meragukan apa ini benar-benar janji Tuhan untuk aku sedangkan jika aku pergi itu artinya aku meninggalkan pelayanan yang aku lakukan.
Banyak orang yang berasumsi kalau aku mau lari dari pelayanan. Banyak orang yang berasumsi kalau aku nggak mau ditunjuk jadi pemimpin, that’s why aku pergi sekolah sebelum musim pemilihan pengurus baru itu dimulai.

Jujur saja, aku nangis di kamar setelah mendengar hal tersebut. Sedetik pun aku nggak pernah punya pikiran untuk meninggalkan pelayanan aku. Aku malah terbeban untuk terus melayani mereka, apalagi dengan keadaan saat ini, dimana adik-adik remaja aku butuh banyak bimbingan dan binaan.
Aku benar-benar bingung dengan apa yang harus aku lakukan.
Lanjut sekolah dan meninggalkan pelayanan aku?
Atau menyerah terhadap mimpi aku dan terus pelayanan?
Sejujurnya, aku lebih memilih untuk sekolah, sebagian besar hati aku memilih untuk itu.
Tapi, aku takut kalau ternyata hati aku itu menipu, dan aku terlalu terkonsumsi dengan keinginan hati aku dan akhirnya menulikan telinga aku dari suara Tuhan.
Tiap hari aku bergumul dengan hal itu, sampai aku benar-benar kebingungan dan finally nangis di kamar sama Tuhan.

Sometimes, aku iri melihat teman-teman aku yang dengan mudahnya ngambil keputusan. Nggak mempertimbangkan macam-macam. Kayaknya gampang saja untuk memutuskan sesuatu.
Berbeda sekali dengan aku. Karena aku sudah commit sama Tuhan, kalo setiap langkah yang aku mau ambil dalam hidup aku harus berpadanan dengan kehendak Tuhan.
Dan finally jadi rumit begini, bikin aku stress sendiri…

Kenapa sih Tuhan nggak langsung bilang saja, aku harus pergi sekolah atau aku tetap tinggal dalam keadaan aku yang sekarang?
Akhirnya aku sadar kalau Tuhan sedang mengajariku hal baru.
KETAATAN.
Malam-malam ketika aku nangis ke Tuhan….Tuhan mengingatkan aku tentang Abraham.
Ketika Ia menyuruh Abraham untuk mengorbankan Ishak, anak satu-satunya, anak yang didapat berdasarkan janji Tuhan untuknya.
Bayangkan saja, Abraham menunggu bertahun-tahun lamanya untuk mendapatkan Ishak, menunggu begitu lama sampai Tuhan menggenapi janji-Nya tentang seorang anak.
Ishak, bagi Abraham bukan hanya seorang anak kandung, atau seorang ahli waris, tapi bukti dari janji Tuhan untuknya.
Dan sekarang, Tuhan bilang untuk mengorbankan Ishak,anaknya?
Tapi, Abraham tetap taat. Abraham membawa Ishak ke bukit Moria, untuk mengorbankannya sebagai Korban bakaran di hadapan Tuhan.
Tepat ketika Abraham hendak membunuh Ishak, Tuhan menghentikannya.
Tuhan ingin melihat ketaatan Abraham, Tuhan ingin menguji iman Abraham kepada-Nya.

Dan Tuhan rupanya ingin aku belajar hal yang sama.
Tuhan ingin menguji iman aku, ingin menguji ketaatan aku. Ingin menguji komitmen yang aku buat di hadapan-Nya.
Segala sesuatu yang aku inginkan tidak akan lebih besar dari keinginan aku untuk mengenal-Nya dan melakukan kehendak-Nya dalam hidup aku.
Tuhan belum reveal sampai sekarang ke aku, apa aku lanjut sekolah atau tetap tinggal, karena Ia ingin melihat sejauh mana aku bisa pegang komitmen aku, sejauh mana aku bakal taat sama perintah-Nya, sejauh mana aku menaruh iman aku kepada-Nya.
Aku memutuskan untuk menaruh semua mimpi aku, termasuk untuk lanjut kuliah lagi di mezbah korban bagi Tuhan.
Aku memutuskan untuk taat akan setiap kehendak Tuhan dalam kehidupan aku.
Aku mau seperti Abraham yang taat dengan setiap kehendak Tuhan dalam hidupnya,meski itu secara manusia, sangat sulit.

Semuanya, kakak-kakak blogger,, can you pray for me?
Agar aku bisa lebih peka dengar suara Tuhan, dan bisa berjalan terus dengan iman, juga terus pegang komitmen aku.

 God bless,,