Jumat, 28 Juni 2013

To Do List !




Ingin nulis, tapi gak tau mau nulis apa, jadinya nulis sesuatu yang random dan gak penting #sebenarnya,hahahaha….

Oke, kata teman-teman aku, aku ini manusia ‘List’… soalnya aku hobi bikin list :).

Kebiasaan ini mungkin ditularkan oleh Mama, yang suka juga bikin list. Mulai dari list belanjaan, barang bawaan dan sebagainya. Sejak kecil diajarin sama Mama, untuk bikin jadwal kegiatan sehari-hari, dan kalau mo belanja, mo pergi keluar harus nulis apa saja yang harus dibawa.

Akhirnya, aku jadi terbiasa membuat list..dan bisa dibilang aku manusia yang menyukai list, hahaha.

Ketika aku jadi panitia, misalnya seperti kemaren jadi Sekretaris, sebelum rapat aku sudah bikin list apa saja yang bakal aku lakukan, yang aku perlukan dan bikin jadwal pribadi.

Pas acara 3rd gathering EMF juga, aku nulis list semua yang kami butuhkan, padahal aku bukan Sekretaris, tapi pas rapat aku otomatis nulis itu semua tanpa disuruh,hehehe.

Aku bukan tipe orang yang spontan, aku tipe orang yang bisa stress kalo melakukan sesuatu tanpa pertimbangan, perencanaan, dan jadwal…. Aku orang yang hidup #ceileh dengan jadwal dan list to do tiap hari. Tiap pagi sebelum berangkat kerja, aku otomatis ‘menulis’ dalam pikiran aku, apa saja yang bakal aku lakukan hari ini.

And, that’s why, aku suka mencak-mencak (dalam hati, tapi) kalo orang batalin janji, datang telat, atau ngubah jam janjian atau tempat….karena itu merusak jadwal yang sudah kususun rapi dalam otak aku, hahaha.

Dan itulah sebabnya, aku kemana-mana bawa notes kecil (berisi list to do milik aku) dan alat tulis. Tapi sekarang udah ada fasilitas memo sama mini diary di hape, jadi lebih gampang, tinggal nulis disitu ^^.

Dan list yang baru selesai aku buat, :p, adalah “What Farha have to do before she leave Manado” list…
Kurang dari dua bulan, aku bakal ninggalin Manado dan tinggal di Jakarta karena lanjut kuliah, dan aku bikin list apa saja yang harus aku lakukan sebelum itu.
Hehehehe….
Dan pas kelar bikin, aku jadi sedih, maklum, tipe melankolis wkwkwkwk…. 

Padahal ini Cuma ke Jakarta, bukan ke luar negeri ato ke Kutub Utara… Cuma 3 jam perjalanan dengan pesawat, tapi bagi aku yang gak pernah lebih dari sebulan jauh dari orangtua, rumah, dan Manado, ini cukup berat.

Ini dia list-nya…. Aku berani share soalnya gak ada yang terlalu pribadi, dan somehow, it’s funny :p


  1. Fax ijazah ke ISTN 
  2. Hubungi Ibu Asri apa saja yang harus dibawa untuk pendaftaran ulang
  3. Hubungi Lia (temanku yang di Tangerang) and make sure tentang tempat kost
  4. Hubungi Pak Fitri dan tell him about my plan….
  5. Cari tiket (termurah ;p)
  6. Buat jadwal ibadah Komisi Remaja jemaat dan ibadah Pemuda Remaja kolom sampai Desember tahun ini
  7. Ngurus keperluan adik-adik remaja untuk PSR
  8. PIC ibadah wisata iman Komisi Remaja
  9. Pembubaran panitia LTPR di Sonder dan perpisahan dengan Pdt. Reiny
  10. Menyelesaikan soal Cerdas Cermat Alkitab dan Berpacu dalam Kidung Gereja
  11. Mulai memilih dan packing buku-buku yang harus dibawa
  12. Ngurus tetek bengek soal resign. Actually, satu kantor sudah tahu termasuk atasan, tapi tetep harus ngikutin SOP-nya, hehehe..
  13. Re-decorate Pharmaceutical laboratory. Maksudnya, membersihkan dan mengatur bahan-bahan obat di lab yang berantakan karena mahasiswa. Terus, renewing daftar alat dan bahan di lab. Ini hadiah terakhir aku buat K’Elvi dan teman-teman kantor di jurusan Farmasi :).
  14. Bantu mini gathering EMF yang mungkin terakhir (hiks…) buat aku. Karena aku mungkin bakal step down jadi admin di EMF. Tau sendiri kuliah farmasi itu kayak apa =____=.


Selesai!
Aku harap aku bisa melakukan itu semua sebelum aku berangkat nanti, khususnya yang no.13 hehehe, soalnya itu lumayan berat hahahaha… 




Kamis, 27 Juni 2013

Playing "WHAT IF"


Ngikut Mbak Dhieta, Mbak Mega dan kakak-kakak, juga teman-teman blogger lainnya yang main "What If" , aku akhirnya ikut bikin juga.

Ok, ini dia jawabanku untuk "What If" game :

^___________^


Orang-orang berkata kalo gue :
Baik,pintar, kecil (yup… I’m petite), religious, introvert, dan murah senyum *wink wink… dan K-Lovers :P

Kalo dapet 1 milyar gue pasti :
Yang pastinya kasih perpuluhan, bayarin biaya kuliah aku dan adik aku, bayar biaya sekolah sepupu dan ponakan aku,  kasih ke sodara2 yang laen, belanja buku, kasih Mama sama Papa, bikin apotek,  sisanya investasi ^^ 

Klo kejebak macet gue...
Baca buku sambil dengerin lagu ^^, sometimes ngobrol dalam hati dengan Daddy J.

Indonesia adalah negara yang...
Luar biasa… Mulai dari keindahan alam, kekayaan yang terkandung di dalamnya, keanekaragaman budaya dan hayatinya. Tapi yang kurang adalah, pengelolaannya. Bagaimanapun, saya bangga jadi orang Indonesia ^^.

Mantan gue...
Saya belum pernah pacaran…. Komitmen dari kelas 1 SMP,hehehe…Jadi, ga ada mantan ^^

Klo berada di depan kuburan M.J...
Mmmm, gak pernah punya pikiran untuk datang ke tempat itu. Mungkin sekedar foto-foto (?)

Hidup ini penuh dengan..
Banyak hal, hahahahaha…. Susah kalo cuma bilang satu, karena menurutku ada banyak hal dalam hidup ini. Pengalaman, pembelajaran, kejutan, kejadian, dll.

Tak ada tempat yang indah selain...
Rumah, tempat yang banyak bukunya, juga tempat tidur di saat ngantuk dan capek


Ke mana pun gue pergi, pasti bawa...
Buku….alat tulis, handphone, dompet.

Kalo divonis kanker....
Sedih, bingung,nangis ke Tuhan…. Yang pasti gak sanggup bilang ke ortu dan keluarga dan sama kayak Mbak Dhieta dan Anthony ahjussi di drama King of Drama, langsung bikin list apa saja yang mo dilakuin selama sisa hidup. ^^.

Pagi-pagi enaknya makan...
Tinutuan (bubur Manado) dengan sambal roa yang banyak, tahu rebus, milu muda rebus, perkedel nike.

Pekerjaan yang paling membosankan di dunia adalah...
Melakukan hal yang nggak disukai.

Hal yang paling mengerikan di dunia adalah...
Ketika matahari berhenti bersinar.

Bencana alam itu...
Terjadi atas perkenanan Tuhan, tapi bisa disebabkan karena ulah manusia dan siklus alam.

Waktu SMA gue dikenal sebagai...
Anak guru Sosiologi, ponakannya guru Kesenian, juara kelas.

Saat yang paling tenang, saat...
Saatnya baca buku dan nulis jurnal.

Paling males kalo ngelihat...
Orang yang ‘terlalu’ ….hehehe… Terlalu menor, terlalu cerewet, terlalu narsis, pokoknya yang berlebihan ^^

Kalo orang ciuman didepan gue...
Pura-pura gak liat.

Gue pengen banget...
Jadi ibu rumah tangga tapi juga pengajar.

Wanita2 cantik dan seksi di dpan gw sambil ketawa2 keras2, dalem pikiran gue...
Aduuuuuuhhhhhh... ribuuuuuttt....

Pria dengan jeans robek", baju hitam gambar tengkorak, ngerokok, nongkrong depan circle-K, dalem pkrn gue..
Berandalan atau preman, dan jangan sampe lewat di depan mereka.

Orang yang sok imut dan sok childish...
Gak mau berurusan sama mereka….Ngerepotin.

Lagi jalan, ada yang lewat pake motor bilang "fuck you"
Palingan Cuma mengernyit heran , siapa sih tuh orang?

Mama papa bilang kapan nikah?
Ortu gak pernah ngomongin itu,hihihihi…

Afgan dateng kerumah...
Jangan-jangan saya menang undian Pond’s atau semacamnya (?), hahahaha…

Kalo tengah malem ditelepon pacar...
Kalo masih bangun, diangkat, tapi kalo sudah tidur, jeongmal mianhae, sudah pasti ga diangkat soalnya pasti gak kedengeran, ^^.

Kalo besok kiamat..
Pasti deg-degan nunggu kedatangan Tuhan, trus ngumpul di rumah bareng semua keluarga ^^.

KKEUT!
Selesai sudah.... 
^______________________^

Rabu, 01 Mei 2013

Lessons from Flower Boy Next Door drama ^^


Saat ini, aku sedang menonton drama Korea (lagi ^^) yang judulnya “Flower Boy Next Door”. 
Sejauh ini sih aku merasa ceritanya bagus, pemain-pemainnya juga bagus, Yoon Shi Yoon dan Park Shin Hye adalah artis yang cukup terkenal dan aktingnya bagus.

Drama ini bercerita tentang Go Dok Mi, seorang editor buku yang punya impian menjadi penulis buku dongeng anak-anak. Kehidupannya berubah karena pengalaman di-bully waktu SMA, ia menjadi seseorang yang anti-social. Ia tinggal di sebuah apartemen Ocean Village, di apartemen nomor 402. Go Dok Mi punya seorang secret admirer, yaitu tetangga sebelahnya, apartemen 401, seorang pembuat web toon yang namanya Oh Jae Won.

Oh Jae Won menunjukkan cintanya kepada Go Dok Mi dengan diam-diam, ia tidak menunjukkannya secara langsung karena ia tidak ingin mengusik kehidupan gadis itu. Ia menunjukkan cintanya kepada Dok Mi dengan mencegah siapapun yang mau masuk ke dalam kehidupan Go Dok Mi dan mengusiknya. Oh Jae Won tidak ingin siapapun membuat Go Dok Mi tidak nyaman ataupun terganggu. Ia menyukai gadis itu selama 3 tahun mereka bersebelahan, tanpa pernah menyatakannya secara langsung kepada Go Dok Mi.

Kehidupan Go Dok Mi yang aman, nyaman, dan sepi, terusik dengan kehadiran Enrique Geum, yang adalah pembuat Game yang terkenal di dunia, yang datang dari Spanyol ke Seoul. Karena suatu dan lain hal, si Enrique ini jadi penasaran tentang kehidupan Go Dok Mi yang selalu mengunci diri di kamar, tidak mau bergaul dengan orang lain, bahkan tidak mau bicara.

Enrique akhirnya memutuskan untuk membuat Go Dok Mi berubah. Ia ingin Go Dok Mi mengenal dunia luar, keluar dari kamarnya dan bertemu dan bergaul dengan banyak orang, bekerja di kantor seperti kebanyakan orang lain, intinya punya kehidupan normal, tidak lagi penakut dan hidup sendirian di kamarnya. Yeah, seperti kebanyakan drama Korea  yang romantis, si Enrique ini akhirnya jatuh cinta pada Go Dok Mi.

Berbeda dengan Oh Jae Won yang menunjukkan cintanya kepada Go Dok Mi dengan membiarkan Go Dok Mi tetap tinggal tenang dalam ‘dunia’nya, alias sendirian di kamar, dan mengurung diri, juga menghindari interaksi dengan orang lain dan dunia luar,  Enrique Geum menunjukkan cintanya kepada gadis itu dengan cara yang lain.

Ia berusaha dengan sangat keras, bahkan sampai memaksa dan terkadang menyeret Go Dok Mi keluar dari kamarnya. Enrique tahu kalau diam terkurung di kamar sendirian serta menutup diri dari dunia luar, bukanlah hal yang baik bagi Go Dok Mi. Enrique ingin Go Dok Mi mengatasi ketakutan dan traumanya. Ia tahu bahwa Go Dok Mi tidak nyaman dengan dunia luar, juga ketakutan jika berada di tengah kerumunan karena trauma masa lalunya, bahkan nyaris tidak pernah bicara kepada orang lain tetapi ia tetap mendorong gadis itu untuk keluar. Meskipun ia berkali-kali ditolak oleh Go Dok Mi, yang tidak ingin dunia kecilnya yang aman terganggu, ia tidak menyerah.

Aku ingat satu kalimat yang pernah diucapkan oleh Enrique,
“ Kalau aku sudah memulai membuat suatu Game, aku tidak akan berhenti sampai melihat akhirnya,”
Enrique tidak menyerah sampai akhirnya Go Dok Mi mau keluar dari kamarnya, mau bergaul dengan orang lain, mengatasi traumanya dengan mantan sahabatnya, bekerja di kantor dan mulai mewujudkan impiannya menjadi penulis dongeng anak-anak.

Pokoknya, ceritanya so sweet ^^… juga banyak adegan lucu dan konyol yang membuat aku sering tertawa sendiri saat nonton,kkkkk…

Saat nonton drama ini, aku teringat pada sosok Yesus dan kita, manusia.

Seperti Go Dok Mi, kita dulunya hidup terkurung dalam dosa.

Kita hidup dalam dunia yang gelap, suram, dan tanpa sukacita ataupun damai sejahtera.

Kita tidak bisa keluar dari kamar ‘dosa’ kita, karena sekuat apapun kita berusaha kita tetap tidak bisa keluar.

Kita takut untuk keluar dari sana, kita merasa kita tidak bisa lepas dari dosa yang mengkungkung kehidupan kita.

Dan akhirnya, lama kelamaan, karena kita terlalu lama hidup dalam dosa, hidup dalam ‘kamar’ yang gelap, sendirian, kita menjadi nyaman dengan kehidupan kita yang penuh dosa, tidak lagi berusaha untuk keluar dari tempat itu, melainkan pasrah saja kalau hidup kita akan selamanya berada di tempat itu. Kita selamanya akan hidup dalam dunia yang gelap, suram, tidak ada masa depan buat kita. Kita tidak mau membuka diri kepada kebenaran dan terang, karena kita sudah terlalu nyaman dengan suasana yang gelap dalam hidup kita.

Dalam drama di atas, tokoh Enrique tanpa kenal lelah meminta Go Dok Mi untuk memulai kehidupan baru, tidak anti-social lagi, tidak  menutup diri lagi, dan menyelesaikan masalahnya dengan sahabatnya.
Hal itu tidak mudah, karena si Go Dok Mi sangat keras kepala. Ia terlalu nyaman ( tapi juga aku pikir ia takut) dengan keadaannya sekarang, sendirian di kamar, tidak ada yang mengganggu, walaupun kesepian, itu lebih baik daripada ia harus keluar dan bergaul dengan orang lain. Enrique harus berusaha sangat keras, bahkan pernah menyeret Go Dok Mi keluar dari kamarnya. Ia juga pernah ditolak mentah-mentah, dimarahi oleh Go Dok Mi yang kesal karena kehidupannya yang ‘diganggu’ oleh Enrique.

Tapi syukurlah, seperti tokoh Enrique yang menolong Go Dok Mi, ada Pribadi Tuhan Yesus yang mau mendorong kita keluar dari kamar ‘dosa’ kita.

Tuhan Yesus tahu kalau kehidupan dalam kamar yang gelap, suram, penuh dosa bukan hal yang baik buat kehidupan kita.

Ia ingin mengeluarkan kita dalam kehidupan yang gelap dan penuh dosa, dan membawa kita pada kebenaran dan terang.

Ia ingin membebaskan kita dari ketakutan-ketakutan, trauma, masalah yang selama ini mengurung kita, dan membawa kita pada kehidupan yang penuh kasih, sukacita dan damai sejahtera.

Hmm,
Berapa kali kita menolak Dia, saat Ia memanggil-manggil nama kita untuk keluar dari kamar ‘dosa’ kita?

Berapa kali kita mengacuhkan Dia, saat Ia mengetuk pintu hati kita, berulang-ulang, tanpa henti, setiap hari? Namun kita pura-pura tidak mendengarnya.

Berapa kali kita membanting pintu di hadapan Tuhan, mengatakan kalau kita tidak suka diganggu dan tidak ingin dipanggil keluar dari kamar ‘dosa’ kita?

Berapa kali kita menyakiti hati-Nya dengan penolakan kita untuk lepas dari dosa?

Kita tidak percaya kalau kehidupan di bawah terang-Nya jauh lebih baik

Kita tidak yakin kalau hidup dengan Tuhan akan nyaman buat kita.

Kita terlalu lama hidup dalam kegelapan, sehingga terang matahari akan menyakiti mata kita, dan membuat kita enggan untuk keluar.

Kita tidak percaya bahwa Ia benar-benar mengasihi kita dan juga janji-janji-Nya, ketika Ia menjanjikan rancangan masa depan yang membawa damai sejahtera dan bukan kecelakaan.

Ketika aku menonton drama tersebut, aku sempat gemes melihat si Go Dok Mi yang cuek, keras kepala, dan gak peduli sama semua usaha Enrique, dan…. aku sadar kalau seringnya aku juga begitu sama Tuhan.

Berapa kali aku ditegur sama Tuhan dan aku cuek, nggak peduli, bahkan sebal? Kayaknya sering, deh.
Sering aku menganggap remeh semua anugerah, kasih karunia, juga berkat-Nya dalam hidup aku.
Ketika membayangkan Tuhan yang kecewa dan sedih karena perlakuan aku pada-Nya, aku merasa malu.
Tuhan, ampuni Farha >,<…

Selain itu, aku juga belajar bahwa kasih Tuhan pada kita itu adalah kasih yang ‘aktif’.
Dalam drama itu, ada dua pria yang jatuh cinta pada Go Dok Mi, Oh Jae Won dan Enrique. Mereka berdua menunjukkan bentuk cinta yang berbeda. Oh Jae Won, menunjukkan kasih yang pasif, kasih yang salah (menurut aku), karena ia membiarkan Go Dok Mi hidup dalam ‘cangkang’ nya, ia menunjukkan kasihnya kepada Go Dok Mi dengan membiarkan kehidupan gadis itu tetap seperti yang ia inginkan. Tertutup, anti social, dan penakut. 
Secara pribadi, meskipun Oh Jae Won ini baik, menyayangi Go Dok Mi dengan tulus, tapi bentuk kasih yang ia tunjukkan itu salah. Membiarkan Go Dok Mi terus hidup secara tertutup dan menjadi pribadi antisocial karena gadis itu merasa nyaman dan kelihatan ‘bahagia’, bukanlah hal yang benar. Pria ini tidak tega membuat Go Dok Mi keluar dari ‘zona nyaman’nya, padahal untuk hidup bahagia, Go Dok Mi harus mau keluar dari ‘zona nyaman’nya alias kamarnya, dan mulai hidup bergaul dengan orang lain.

Sebaliknya, bentuk kasih yang ditunjukkan Enrique, adalah bentuk kasih yang aktif. Sama seperti Tuhan Yesus yang tidak ingin membiarkan kehidupan kita dikuasai dosa dan hidup dalam kegelapan. Tuhan Yesus berusaha agar kita mau keluar dari kehidupan kita yang penuh dosa. Tidak berhenti memanggil nama kita, berdiri di depan pintu dan tanpa henti mengetuk. Sebanyak apapun kita memberi kata penolakan, ia tidak pernah menyerah terhadap kita.

Dan ekspresi kasih terbesar yang Ia lakukan buat kita adalah dengan mengorbankan nyawa-Nya di kayu salib. Karena Ia begitu mengasihi kita, Ia mengambil posisi kita sebagai ‘pendosa’ dan dihukum mati. Semua itu agar kita bisa keluar dari kungkungan dosa, tidak hidup lagi dalam kegelapan tapi dalam terang, hidup kekal bersama dengan-Nya selamanya di sorga.

Saat merenungkan hal ini, aku merasakan ada sukacita, karena sekali lagi Tuhan mengingatkan aku bahwa betapa aku sangat dicintai oleh-Nya.
Dan fakta bahwa Tuhan rela melakukan apapun untuk membuat aku menyadari betapa besar kasih-Nya, untuk membuat aku menyerahkan hidupku kepada-Nya, I feel so loved, so grateful. I’m precious in His eyes.

Terimakasih Yesus, karena Engkau telah menarik aku keluar dari kungkungan dosa dan memberiku hidup yang baru di bawah terang-Mu.

God bless,,


Senin, 22 April 2013

Everything I do, I do it for You



Saat Teduh pagi ini, aku mengakhirinya dengan doa, dan saat berdoa aku mendengar kata-kata ini,
“ Just do it. Do it for Me.” 
Kata-kata itu terus-menerus terngiang, sampai aku mikir apa maksudnya nih?

Dan aku ingat kalau akhir-akhir ini aku sibuuuukkk banget (lebaaayyy).

Aku terlibat dalam 3 kepanitiaan. Panitia LTPR (latihan tenaga Pembina remaja), panitia ulang tahun jemaat dan panitia 3rd gathering komunitas aku. Dan sejak awal tahun ini, di kantor aku masuk kerja 7.30 dan pulang jam 4. Belum lagi jadwal pelayanan di gereja aku, rasa-rasanya tiap hari ada ibadah.

Dua minggu berturut-turut, pulang kerja, mandi, makan langsung pergi keluar lagi, entah pelayanan, entah ibadah, entah rapat panitia, entah cari dana,dsb dan pulang larut malam.
Dan akhirnya aku jatuh sakit. Ga parah sih, cuma berasa demam, badan pegal, suara hilang dan tenggorokan sakit. Mo dibilang flu, yah maybe, gejala-gejalanya kearah situ sih, meskipun aku merasa ini kayaknya udah kena radang tenggorokan gara-gara virus (klo karena bakteri, biasanya udah panas tinggi) sampai sekarang masih setia minum multivitamin, nambah jam istirahat dan minum air hangat. Ga mau minum antibiotik soalnya penyebabnya bukan karena bakteri, jd ga guna klo minum AB hehehe... adanya nanti malah resisten ^^.

Pagi ini Tuhan ngomong begitu ke aku, “ Just do it. Do it for Me,”. 
Kenapa ya?
Ok, aku  ngaku kalau aku sempat bersungut-sungut sama Tuhan karena beban yang terlalu banyak menurut aku. Aku juga sempat merasa jangan-jangan orang lain bakal berpikir kalo aku ‘maruk’ dalam pelayanan. Gara-gara kesibukan aku, aku jadi jarang ngobrol sama Mama, jarang nge-blog hehehe, pokoknya jarang punya ‘me time’ lagi. Tambahan lagi, sekarang aku sakit.

Akhirnya, aku sadar kalau Tuhan ngomong begitu agar aku ingat kalau semua kesibukan pelayanan yang aku lakukan itu,  untuk Dia.
Kalau Tuhan memberi kepercayaan yang menurut aku begitu banyak, seharusnya aku bersyukur karena Tuhan mempercayakan perkara-perkara-Nya kepadaku.
Dan Tuhan ingin aku melakukannya dengan focus untuk-Nya. Hanya untuk-Nya.

Aku ingat, aku sering bilang ke Tuhan, “ Tuhan, aku ingin belajar mengasihi Engkau lebih sungguh lagi,”
dalam doa-doaku.
Nah, rupanya inilah cara untuk belajar mengasihi Tuhan lebih sungguh.
Melakukan semua pekerjaan yang Tuhan percayakan kepadaku, dengan dasar cinta kepada-Nya.
Tuhan ingin aku belajar untuk melihat semua pelayanan yang aku kerjakan sebagai wujud kasih aku kepada-Nya.

Ketika kita mengasihi seseorang, bukankah kita akan melakukan apapun untuk orang tersebut?
Karena pada dasarnya kita mengasihi orang tersebut, semua yang kita lakukan, yang kita kerjakan hanya untuk menyenangkan atau membahagiakan orang tersebut.

Melakukan pekerjaan Tuhan dalam hidup kita seharusnya didasari dengan rasa cinta kita kepada Tuhan, juga kesadaran bahwa apa yang kita lakukan itu untuk Pribadi yang kita cintai.
Saat aku menyadari hal tersebut, ada sukacita yang mengalir di hati aku.

Aku pikir, balasan yang tepat untuk kata-kata Tuhan tadi adalah :
“ Everything I do, I do it for You,”
Yup, semua yang kita lakukan, yang kita kerjakan seharusnya hanya untuk Dia. Hanya untuk kemuliaan nama-Nya.

God bless,,

Singleness Season



I love my singleness season!

I enjoyed it! I enjoy every second of this season.

Aku menikmati waktu-waktu dimana aku bisa terjun pelayanan di gereja, bisa ikut macam-macam kegiatan di luar rumah, aku menikmati pekerjaan aku, aku menikmati saat-saat aku bisa keluar sampai malam, aku menikmati saat-saat aku bisa duduk di tempat tidur dan baca buku sepuas mungkin, aku bebas mencoba berbagai resep masakan, doing housekeeping dan menulis.

Aku menikmati saat-saat bersama teman-teman aku, mengenal orang-orang baru.

Aku menikmati masa-masa ini, dimana aku focus untuk mengejar panggilan hidup dan mimpi-mimpi aku.

Aku menikmati saat-saat kencan berdua dengan Tuhan Yesus, jam 4 subuh sampai jam setengah enam pagi, juga saat aku menyembah-Nya jam 11 sampai jam 12 malam.

Aku menikmati saat aku menulis jurnal harian aku, juga menulis surat untuk my future husband.
Aku menikmati panggilan aku untuk melayani anak-anak remaja di gereja aku.

Aku belajar untuk menerima bahwa masa single aku adalah masa-masa yang berharga dan tidak untuk disia-siakan.

Aku belajar bahwa justru di masa single, aku harus mempersiapkan diri aku untuk jadi penolong yang sepadan buat suami masa depan aku, juga ibu yang baik untuk anak-anakku.

Aku belajar prinsip cinta sejati di masa single ini. Aku belajar dari Allah yang adalah cinta itu sendiri.

Aku belajar bahwa aku tidak akan bisa mencintai pasangan aku dengan sungguh-sungguh dan murni, jika aku tidak mencintai Allah terlebih dahulu.
Aku belajar bahwa baik single, menikah ataupun menjadi ibu adalah sebuah panggilan. Dan tidak ada di antara panggilan tersebut yang lebih besar dari yang lainnya, ketiganya sama.

Aku belajar bahwa tidak ada satu manusia pun di dunia ini yang bisa membuat aku feel complete, content, or secure selain My Heavenly Husband, Jesus Christ.

Aku belajar bahwa keputusan memilih pasangan hidup adalah keputusan terbesar kedua dalam hidup, setelah keputusan untuk menerima Tuhan Yesus sebagai Juruselamat hidupku.

Aku belajar untuk menaruh semua mimpi, cita-cita dan harapan aku di kaki Tuhan Yesus.

Aku menyerahkan pena kehidupan dan pena kehidupan cintaku pada Tuhan Yesus dan membiarkan Ia menulis cerita hidup dan cerita cintaku, yang aku percaya, pasti sangat indah.

Aku belajar bahwa untuk segala sesuatu ada masanya.

Dan sekarang aku berada di masa single.
Aku mau menghargainya dan menggunakan setiap detiknya untuk memuliakan Tuhan Yesus.
Akan tiba saatnya dimana aku menikah ataupun menjadi seorang ibu.

Saat dimana aku tidak bisa lagi terjun ke pelayanan gereja sebanyak yang aku lakukan sekarang.

Saat dimana aku tidak bisa lagi keluar rumah seenaknya, atau pulang rumah malam.

Saat dimana aku harus memikirkan suami dan anak-anak, menyediakan kebutuhan mereka dan memastikan mereka bahagia dan kebutuhan mereka tercukupi.

Saat dimana aku harus bangun pagi-pagi sekali dan mempersiapkan kebutuhan keluarga aku.

Saat dimana aku tidak bisa berlama-lama ‘dating’ dengan Tuhan Yesus karena harus mengurus rumah tangga aku.

Saat dimana aku tidak bisa sering ngobrol dengan teman-teman aku karena sibuk mengurus rumah.

Saat dimana…aku harus mengorbankan kepentinganku untuk kepentingan keluargaku.

Saat dimana…aku harus tunduk dan taat pada suami aku dan nggak bisa seenaknya ikut kemauan sendiri.

Menjadi isteri dan seorang ibu, adalah mimpi aku juga.
Dan bila saat itu tiba, aku juga mau belajar dari Tuhan Yesus bagaimana melakukan itu semua demi kemuliaan nama-Nya.

Karena sekali lagi, baik single, menikah ataupun menjadi seorang ibu adalah sebuah panggilan.

Aku menantikan saat dimana aku bertemu dengan seseorang yang Tuhan sediakan untukku, seorang godly man yang telah berdoa untukku, seperti aku telah mendoakannya selama ini.

Tapi, jika Tuhan menginginkan aku menjalani masa single seumur hidupku, aku siap, karena sebesar apapun keinginan aku akan sesuatu, tidak akan lebih besar dari keinginanku untuk mengenal-Nya dan melakukan kehendak-Nya dalam hidupku ^^.

Masa single… adalah masa yang harus dihargai dan dimanfaatkan sebaik mungkin.

I decided to enjoy my singleness season also cherish it.

So when 10 years, 20 years, or maybe 30 years from now, when I look back my past, I wouldn’t regret it ^^