Senin, 11 Februari 2013

His Silence = His Love and Trust



He answered her not a word ( Matt. 15:23).
He will be silent in his love ( Zeph. 3:17).

It may be a child of God is reading these words who has had some great crushing sorrow, some bitter disappointment, some heart-breaking blow from a totally unexpected quarter. You are longing for your Master's voice bidding you "Be of good cheer," but only silence and a sense of mystery and misery meet you --"He answered her not a word."

God's tender heart must often ache listening to all the sad, complaining cries which arise from our weak, impatient hearts, because we do not see that for our own sakes He answers not at all or otherwise than seems best to our tear-blinded, short-sighted eyes. The silences of Jesus are as eloquent as His speech and may be a sign, not of His disapproval, but of His approval and of a deep purpose of blessing for you.

"Why art thou cast down, O…soul?" Thou shalt yet praise Him, yes, even for His silence. 

Listen to an old and beautiful story of how one Christian dreamed that she saw three others at prayer. 
As they knelt the Master drew near to them.
As He approached the first of the three, He bent over her in tenderness and grace, with smiles full of radiant love and spoke to her in accents of purest, sweetest music. 

Leaving her, He came to the next, but only placed His hand upon her bowed bead, and gave her one look of loving approval. 

The third woman He passed almost abruptly without stopping for a word or glance.

The woman in her dream said to herself, "How greatly He must love the first one, to the second He gave His approval, but none of the special demonstrations of love He gave the first; and the third must have grieved Him deeply, for He gave her no word at all and not even a passing look.
"I wonder what she has done, and why He made so much difference between them?" 

As she tried to account for the action of her Lord, He Himself stood by her and said: "O woman! how wrongly hast thou interpreted Me. The first kneeling woman needs all the weight of My tenderness and care to keep her feet in My narrow way. She needs My love, thought and help every moment of the day. Without it she would fail and fall.

"The second has stronger faith and deeper love, and I can trust her to trust Me however things may go and whatever people do. 

The third, whom I seemed not to notice, and even to neglect, has faith and love of the finest quality, and her I am training by quick and drastic processes for the highest and holiest service.

"She knows Me so intimately, and trusts Me so utterly, that she is independent of words or looks or any outward intimation of My approval. She is not dismayed nor discouraged by any circumstances through which I arrange that she shall pass; she trusts Me when sense and reason and every finer instinct of the natural heart would rebel;--because she knows that I am working in her for eternity, and that what I do, though she knows not the explanation now, she will understand hereafter.

"I am silent in My love because I love beyond the power of words to express, or of human hearts to understand, and also for your sakes that you may learn to love and trust Me in Spirit-taught, spontaneous response to My love, without the spur of anything outward to call it forth."

He "will do marvels" if you will learn the mystery of His silence, and praise Him, for every time He withdraws His gifts that you may better know and love the Giver.
--Selected

Source : Streams in the Dessert (L.B. Cowman)


Sabtu, 02 Februari 2013

Kristus di dalam aku



“ namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku. Dan hidupku yang kuhidupi sekarang di dalam daging, adalah hidup oleh iman dalam Anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk aku,”
( Galatia 2: 20, ITB)

“ … I identified myself completely with Him. Indeed, I have been crucified with Christ. My ego is no longer central. It is no longer important that I appear righteous before you or have your good opinion, and I am no longer driven to impress God. But CHRIST LIVES IN ME. The life you see me living is not ‘mine’ but it is lived by faith in the Son of God, who loved me and gave himself for me.”
( The Message)

Apa artinya “ Kristus di dalam aku?”
Pagi ini, aku membaca ayat ini dan berpikir. 
Hmm, rasul Paulus menganggap bahwa hidupnya adalah benar-benar milik Kristus, bahkan menyebut bahwa bukan lagi dia sendiri yang hidup dalam dirinya, melainkan Kristus hidup di dalam dia juga.

Bahkan dalam versi The Message, rasul Paulus menulis bahwa:
-         -  Ia telah disalibkan bersama-sama dengan Kristus.
-          - Egonya bukan lagi pusat dirinya.
-          - Penilaian orang tentang dirinya tidak lagi penting
-          - Hidupnya bukan lagi ‘mine’ tapi ia hidup berdasarkan iman kepada Anak Allah.

Jadi... menurut aku,

Ketika Kristus hidup di dalam aku, maka aku pun ikut disalibkan dengan-Nya.
Aku menyalibkan egoku, keinginan-keinginan duniawiku, semua kebiasaan burukku, semua dosa-dosaku.

Ketika Kristus hidup di dalam aku, maka aku SEHARUSNYA berpikir seperti Kristus berpikir.
bertindak seperti Kristus bertindak,
berbicara seperti Kristus berbicara,
berdoa seperti Kristus berdoa,
mengasihi seperti Kristus mengasihi,
sabar dan murah hati seperti Kristus yang senantiasa penuh kesabaran dan kemurahan hati.
Memiliki hati dan pikiran yang serupa dengan Kristus.
Keinginanku harus selaras dengan keinginan-Nya.
Dialah yang menjadi pusat kehidupanku.
Dialah yang memiliki kendali atas hidupku, sepenuhnya, seutuhnya.

Hidup kita ini serupa kapal laut yang rusak, kotor, dan hampir tenggelam di lautan lepas.
Kitalah pemiliknya, kitalah nakhodanya. Kita memegang kendali atas kemudi kapalnya, kabin-kabinnya, dan seluruh mesin kapal tersebut.
Tapi, kita bukanlah pelaut yang ulung, bukanlah nakhoda yang baik, tidak menguasai navigasi kapal, sehingga kapal kita ini berjalan tidak tentu arah, menabrak batu karang berulang-ulang, diterpa badai sehingga hampir hancur bahkan tenggelam.

Kemudian, suatu hari datanglah Yesus.
Ia menawarkan untuk membeli kapal kita dengan harga yang sangat mahal. Setara dengan harga nyawanya sendiri. Bahkan ia menawarkan bahwa kita bisa tetap tinggal di dalam kapal itu bersamanya, bahkan ia berjanji akan membawa kita dan kapal itu menuju rumah-Nya.
Yesus membeli kapal kita, sehingga ia berhak atas setiap inchi di dalam kapal kita.

Pertama, ia menggantikan posisi kita sebagai nakhoda kapal.
Ia seorang nakhoda yang baik, mengetahui navigasi, dan berani. Badai, batu karang, angin kencang, gelombang tinggi tidaklah membuat-Nya takut. Ia bahkan meredakan semua badai di lautan.

Kedua, ia masuk ke dalam kabin-kabin kapal kita. Ada beberapa kabin dalam kapal kita.
Masa lalu kita, yang kita kunci rapat-rapat. Masa kini, yang kotor dan gelap, yang kini kita tempati, dan kabin masa depan, yang terkunci dan kelihatannya dari luar gelap, juga ada kabin ‘rahasia hidup’, di dalamnya kita menyimpan semua rahasia buruk yang kita tidak ingin orang lain tahu.
Karena Ia telah membeli kapal kita, maka kabin-kabin itu juga menjadi miliknya.
Ia masuk ke dalam setiap kabin. Ia membersihkan, membuang semua sampah dan kotoran di dalamnya, dan mendekorasi ulang kabin itu. Dan hei, lihat, bahkan kabin masa depan yang masih terkunci rapat itu, dari luar kelihatan bersih dan indah, kabin itu terlihat menjanjikan kehidupan yang berkelimpahan.

Apa yang kita lakukan kalau begitu?
Kita tunduk dan taat pada apa yang Ia lakukan. Kita menerima semua perubahan yang Ia lakukan, karena kita yakin dan percaya bahwa apa yang Ia lakukan itu terbaik buat kapal kita.

Kapal kita berubah kepemilikan, menjadi kapal milik Yesus.
Sehingga, kapal yang ‘mungkin’ dulunya bernama…
“ Farha yang egois,” atau “ Farha yang hancur,”, kini berganti nama menjadi…
“ KRISTUS DI DALAM FARHA,”

“ Dan kita semua mencerminkan kemuliaan Allah dengan muka yang tidak berselubung. Dan karena kemuliaan itu datangnya dari Tuhan yang adalah Roh, maka kita diubah menjadi serupa dengan gambar-Nya, dalam kemuliaan yang semakin besar,”( 2 Korintus 3:18)
“ Sebab semua orang yang dipilih-Nya dari semula, mereka juga ditentukan-Nya dari semula untuk menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya, supaya Ia, Anak-Nya itu, menjadi yang sulung di antara banyak saudara.”( Roma 8:29)
“ Yang aku kehendaki ialah mengenal Dia dan kuasa kebangkitan-Nya dalan persekutuan dalam penderitaan-Nya, dimana aku menjadi serupa dengan Dia dalam kematian-Nya,”( Filipi 3:10 )

God bless,,


Selasa, 29 Januari 2013

Hujan 27 Januari



Tanggal 27 Januari kemaren, kota tempat tinggal aku, Manado, mengalami cuaca buruk. 
Pas aku bangun pagi jam 4, hujan disertai angin melanda dan keadaan seperti itu berlangsung sampai siang. Aku nggak bisa lihat matahari pas hari itu, sepanjang hari itu menduuuungg dan gelap.

Ketika hari agak sore, cuaca mulai membaik. Hujan reda, meskipun awan gelap masih menggantung.
Sore itu, pukul 3 sore, aku menghadiri ibadah Remaja Wilayah di jemaat tetangga, meskipun sebenarnya merasa agak khawatir, karena di kebaktian Malam di gereja aku bertugas jadi singer (klo di gereja aku istilahnya prokantor/kantoria), takutnya aku datang telat ke gereja.

Tapi… aku ‘maksa’ banget datang ke ibadah itu, hehehe… Somehow, aku pengen aja datang, entah kenapa. Aku pergi dengan Penatua dan adik-adik remaja aku, dan kita datangnya agak telat.
Kami nyampe di gereja Victory pukul setengah 4, dan coba tebak?
Kami adalah peserta pertama, wkwkwk… 
Ibadahnya molor karena Komisi Remaja yang lain belum datang juga ternyata.

Aku mulai merasa cemas dalam hati, tapi berusaha menenangkan diri, kalo ibadahnya akan dimulai jam 4 tepat. Ibadah Malam di gereja aku jam 6 sore, paling lambat aku harus nyampe di gereja,15 menit sebelum jam 6. Pokoknya, selesai terima Berkat, langsung pulang ke rumah, begitu pikirku.

Tapi… ibadahnya baru mulai jam lima kurang. Dan hati aku benar-benar ketar-ketir karenanya. Di sisi yang satu, aku sudah ingin cepat-cepat pulang, tapi…. masa aku pulang pas ibadahnya baru mulai? Gak enak sama teman-teman yang lain.
Ibadahnya mulai, dan jujur saja, aku gemas karena sesi Praise and Worshipnya memakan waktu yang lama banget. Aku menyanyi memuji Tuhan, tapi sama sekali nggak ada rasa damai sejahtera, karena di pikiran aku tuh, pengen cepat-cepat pulang ke rumah dan prepare buat kebaktian Gereja malam.

Pas pengakuan dosa, aku minta ampun ke Tuhan, aku merasa sangat,sangat berdosa karena aku nggak sungguh-sungguh menyembah-Nya, tapi mau bagaimana lagi… Aku benar-benar sudah terlambat untuk pulang.
Finally, pas Khotbah, Penatua aku yang tahu aku harus bertugas di gereja, memberi isyarat mengizinkan aku untuk pulang. Itu sudah hampir setengah 6 sore. Aku akhirnya pulang sendiri.

Untuk pulang, satu-satunya transportasi yang tersedia adalah OJEK!
Aku menunggu selama kurang lebih 5 menit, sambil berdoa dalam hati, dan akhirnya ada tukang ojek yang lewat. Saat itu, cuacanya masih bagus. Gak hujan, cuma memang mendung.
Tapi… 100 meter dari jalan raya besar, tiba-tiba angin kencang disertai hujan turun.

Aku langsung panik. Gimana caranya aku pulang ke rumah kalau hujan lebat disertai angin badai kayak gini? Apalagi semakin lama hujan dan anginnya tambah deras dan kuat. Posisi aku saat itu dekat laut dan aku ngeri melihat lautan yang bergelora, ombaknya ngamuk kesana kemari dan langit sangat gelap.

Puji Tuhan, si tukang ojek itu masih bersedia untuk mengantar aku sampai ke rumah, padahal cuacanya sangat, sangat buruk. Unfortunately, tukang ojek itu hanya punya 1 jas hujan. Bapak itu bertanya kalau aku nggak apa-apa basah kuyup, dan setelah mikir beberapa detik, I think it’s okay.
Yang ada di pikiran aku itu adalah yang penting aku sampai di rumah sebelum jam 6 sore.
Aku berdoa lagi dalam hati agar Tuhan menyertai perjalanan kami, soalnya jalanan jadi benar-benar licin karena hujan lebat.

Aku basah kuyup, dan kedinginan, Alkitab yang aku pegang pun nyaris basah. Dalam hati aku pengen nangis, dan sempat nanya dengan nada marah dalam hati ke Tuhan,
“ Tuhan kok tega ya bikin aku kayak gini? Tuhan kan tahu aku tuh mau pelayanan, kok aku bisa ditimpa kesialan kayak gini?”
Aku benar-benar gak ngerti kenapa aku diizinkan ‘menderita’ seperti itu.
Syukurlah, aku tiba dengan selamat meski seluruh tubuh basah kuyup dan menggigil kedinginan.
Makasih banyak buat bapak tukang ojek yang bersedia mengantar aku karena tahu aku mau ke gereja ^^.

Pas lihat keadaan aku, Mama hanya geleng-geleng kepala dan aku langsung lari ke kamar mandi, mandi terus siap-siap. Dan pas masuk ke kamar, ternyata listrik mati. Aku setengah mati mencoba untuk tidak bersungut-sungut, walau rasanya sangat susah.

Setengah berlari aku berjalan ke gereja, lima menit lagi jam enam sore.
Dan aku masih ‘ngomel’ ke Tuhan, kenapa Tuhan tega-teganya?

Then, aku bisa mendengar Ia berbisik,
“ Baru halangan kecil seperti hujan ini saja kamu sudah mengeluh. Banyak orang Kristen yang bahkan tidak bisa ke gereja karena bisa dibunuh, Farha,”

Dan hati aku seperti dicubit. Sakit.
Teguran Tuhan itu memang sakit.
Dan pada saat itu aku benar-benar merasa malu sama diri sendiri. 
Aku nggak tahu mengucap syukur.
Aku nggak tahu menghargai berkat Tuhan.

Yup, aku teringat ada begitu banyak orang Kristen di luar sana yang nggak bisa ke gereja.

Gereja mereka dibakar, ataupun mereka dilarang beribadah sama orang-orang sekitar maupun pemerintah.

Ada anak-anak Tuhan yang menempuh jarak berkilo-kilometer untuk beribadah.

Ada anak-anak Tuhan yang beribadah di gereja kecil yang sangat,sangat sederhana, bahkan mungkin gak ada listrik atau tempat duduk.

Ada anak-anak Tuhan yang beribadah terpaksa harus sembunyi-sembunyi karena terancam ditangkap bahkan dibunuh.

Betapa beruntungnya aku bisa tinggal di daerah yang bisa beribadah dengan leluasa. 
Kalau ke Sulawesi Utara, apalagi di Minahasa, ada begitu banyak gereja, dan banyak yang merupakan bangunan megah. Disini setiap anggota jemaat seakan berlomba untuk membangun gereja yang megah dan nyaman bagi jemaatnya.

Disini, aku tidak perlu takut untuk pergi ke gereja. 
Disini, aku nggak perlu menempuh jarak berkilo-kilometer untuk ke gereja. 
Disini, aku beribadah di gereja yang besar, megah dan nyaman. 
Disini, aku nggak pernah dilarang untuk ke gereja.

Dan aku sadar aku nggak pernah sekalipun mengucap syukur karena hal itu.
Malahan aku ngeluh dan marah ke Tuhan karena aku harus kehujanan, basah kuyup untuk ke gereja.
Padahal, banyak orang Kristen yang tiap minggu mengalami halangan yang sangat besar untuk sekedar beribadah di gereja.

Ampuni aku, Tuhan karena aku nggak mengucap syukur atas berkat yang Engkau berikan kepadaku.
Sekarang aku jadi belajar untuk mengucap syukur dalam segala keadaan.

Melalui hujan 27 Januari kemarin, Tuhan menegur aku untuk mensyukuri hal yang mungkin kelihatan sepele buat aku selama ini, tapi bagi orang lain adalah hal yang sangat,sangat berharga,

KEBEBASAN BERIBADAH J

Dan aku benar-benar belajar untuk mesyukuri hal itu. Lain kali, ketika aku punya halangan untuk ke gereja, aku akan mengingat bahwa betapa banyaknya orang Kristen yang punya kesulitan untuk datang beribadah.

God Bless,,

Minggu, 27 Januari 2013

When God says no to something that seems so right

Commit to the Lord whatever you do, and He will establish your plans. (Proverbs 16:3)


Just because something looks and feels right does not mean it's God's will. 

It might be a good and beneficial thing or relationship but not necessarily in line with God's plan for your life. 

Sometimes we get so caught up on how good something feels that we neglect to simply ask, "Lord is this your will". A simple yet powerful question, that can possibly save you years of grief and regret. 

Something that looks like a set-up can very well be a set-back. 

But you have a loving, all knowing Heavenly Father that desires you to run to Him and embrace the foresight He offers. Holy foreknowledge that will keep you from adversity and harm's way. 

He's calling you to blindly trust Him with your life and seek Him. 

Share your plans, your relationships, your desires, and place them before Him; 

confirm if it's all indeed in line with His will. 

God promises to guide you and lead you in straight paths, to help you walk and not be held back,

He will always steer you in the right direction, the direction He has planned out just for you.(Proverbs 4:11-12) This path might not be the easiest nor the most convenient but it'll be perfect because it's right where He wants you to be. 

-Source : Spiritually Single (http://spirituallysingle1.blogspot.com/)






Sungut-sungut dan Jumbai Peringatan



Sampai hari ini, progress Baca Alkitab Setahunku sudah sampai di kitab Bilangan.




Yeayyy…!




Nggak mudah memang, dan setiap hari itu jadi tantangan tersendiri buat aku untuk baca Alkitab minimal 10 pasal tiap hari.




Pagi ini, aku membaca sampai kitab Bilangan pasal 16 dan ada dua hal yang aku pelajari selama aku membaca kitab Bilangan ini.



Oh ya, Kitab Bilangan ini, memuat perjalanan bangsa Israel sampai ke tepi sungai Yordan, tepat sebelum memasuki tanah Kanaan. Dan mengapa disebut kitab Bilangan? Hmm, aku belum tahu secara pasti sih, masih harus cari tahu lebih banyak lagi,wkwkwk... tapi di kitab ini banyak sekali dimuat jumlah orang, jumlah persembahan, dan sebagainya, yang berhubungan dengan bilangan (penjelasannya payah, maaf yah :p)



Ok, kembali ke dua hal tadi, yang aku dapat selama baca kitab Bilangan ini.



1.  Tuhan sangat membenci sungut-sungut.



Sejak bangsa Israel keluar dari tanah Mesir, nggak terhitung banyaknya bangsa Israel bersungut-sungut sama Tuhan, Musa juga Harun. Kalau dibaca dari kitab Keluaran, mulai dari menyeberangi Laut Teberau saja, bangsa Israel sudah bersungut-sungut, terus di Mara, kemudian kalau di kitab Bilangan ini, pada pasal 11, orang Israel bersungut-sungut karena nggak bisa makan daging, juga ada pemberontakan Korah, Datan dan Abiram di pasal 16.



Menurut aku, salah satu penyebab bangsa Israel itu bersungut-sungut, karena mereka tidak mengenal Tuhan dengan pengertian yang benar.

Orang Israel hanya melihat tangan Tuhan, tapi tidak mencari wajah-Nya.
Orang Israel berpikir bahwa Tuhan Allah adalah Allah yang berkuasa, dingin, keras dan hobinya menghukum yang salah, dan berniat membuat mereka menderita di padang gurun.
Padahal sebaliknya, Tuhan Allah adalah Tuhan yang panjang sabar dan kasih setia-Nya berlimpah-limpah ( Bilangan 9:11)
Bangsa Israel salah mengartikan janji Tuhan tentang Tanah Kanaan. Mereka berpikir bahwa untuk sampai ke tanah Kanaan mereka nggak perlu melewati fase padang gurun, langsung saja sampai ke tanah Kanaan dan mereka hidup bahagia selamanya disitu.


Bangsa Israel nggak mengenal Tuhan dengan benar, mereka nggak mencari wajah-Nya, akibatnya mereka punya pengenalan yang salah akan Tuhan.

Sehingga, ketika mereka harus melewati fase padang gurun, dimana mereka merasa nggak nyaman, menderita dan sebagainya, mulailah mereka bersungut-sungut dan mengeluh kepada Tuhan.
Bangsa Israel hanya mau janji-Nya Tuhan, tapi mereka tidak mau mengenal siapa Tuhan itu sebenarnya, dan apa yang Tuhan kehendaki dalam hidup mereka.


Seringkali, kita pun demikian.

Kita hanya mau melihat tangan Tuhan, bukan mencari wajah-Nya.
Kita mengenal Tuhan dengan pengenalan yang salah tentang Dia.
Kita sering menganggap Tuhan itu kayak kartu kredit atau kayak kartu ATM, yang kita bisa minta apapun dari-Nya dan Dia bakal kasih apa yang kita minta.
Tanpa sekalipun kita berniat untuk mengenal Tuhan lebih dekat, lebih intim, mencari wajah-Nya, dan bukan hanya sekedar tangan-Nya.


Makanya kita sering bersungut-sungut, ketika kita tidak menerima apa yang kita minta dari Tuhan, ketika banyak masalah dan tantangan hidup menerpa kehidupan kita, ketika Tuhan menempatkan kita di fase padang gurun, keluar dari zona nyaman kita, tanpa kita mau tahu apa tujuan Tuhan mengizinkan itu semua terjadi.

Kita tidak mau cari tahu apa kehendak Tuhan.
Karena kita punya pengenalan yang salah akan Tuhan, makanya kita terkadang tidak bisa mengerti rencana Tuhan dalam kehidupan kita.
Kita bersungut-sungut, dan pada akhirnya menyalahkan Tuhan, dan… meninggalkan-Nya.
Tuhan sangat membenci roh bersungut-sungut.
Hukuman bagi bangsa Israel karena mereka bersungut-sungut adalah kematian.


Dalam Bilangan 11: 1-3, Tuhan menghukum orang yang bersungut-sungut dengan api Tuhan. Kemudian, pada ayat 31-35, Tuhan menghukum orang-orang yang bernafsu rakus, yang bersungut-sungut meminta daging, dengan tulah dan menyebabkan kematian. Kemudian, dalam Bilangan 16: 1-50, ada pemberontakan Korah, Datan dan Abiram. Mereka semua bersungut-sungut kepada Musa dan Harun dan memberontak. Datan dan Abiram beserta seisi rumahnya mati ditelan bumi, sedangkan Korah dan pengikutnya, mati terbakar oleh ukupan perbaraan di Kemah Pertemuan. Selanjutnya, orang Israel kembali bersungut-sungut kepada Tuhan, sehingga Tuhan menimpakan tulah kepada mereka dan sebanyak 14.700 orang mati karena bersungut-sungut.



Jika sampai sekarang masih ada roh sungut-sungut di antara kita, artinya kita tidak mengenal Tuhan dengan pengertian yang benar, kita tidak mempercayai kuasa Tuhan, dan juga kita meragukan rencana Tuhan dalam hidup kita.



That’s why, Tuhan membenci sikap bersungut-sungut, karena kita seolah menantang Tuhan, gak percaya bahwa He can provide us, He will brought us an abundant life.



Zaman sekarang memang Tuhan gak menghukum mati orang yang bersungut-sungut. Tapi, ketika kita mulai bersungut-sungut, iman kita kepada Tuhan perlahan mulai mati. Pada akhirnya, jika kita terus menerus bersungut-sungut, kita nggak lagi percaya sama Tuhan dan mengingkari iman kita.



Daripada bersungut-sungut, mari kita memilih untuk bersukacita dalam segala hal dan setiap waktu.

Daripada bersungut-sungut, mari kita memilih untuk senantiasa mengucap syukur.
Daripada bersungut-sungut, mari kita memilih untuk menghitung berkat yang telah Tuhan berikan bagi kita.
Ketika keadaan sepertinya menekan kita untuk menjadi orang yang bersungut-sungut, just remember God’s promise to us. Baca deh, Yeremia 29 :11 ^^.


Tuhan mengizinkan kita untuk menghadapi tantangan dan pergumulan setiap hari, bukan untuk menyakiti kita, tapi itu semua adalah bagian dari rencana-Nya untuk memurnikan kita, membuat kita semakin serupa dengan-Nya.

Sama seperti emas yang dimurnikan dengan pemanasan pada suhu yang sangat tinggi, kita pun juga demikian.


Dan selain itu, mari belajar untuk mengenal Tuhan dengan pengenalan yang benar. Cari wajah Tuhan, bukan sekedar tangan-Nya. Tuhan berkenan pada orang yang dengan segenap hatinya mencari wajah-Nya, yang berseru kepada-Nya (Yeremia 29:12-14).




2.  Jumbai peringatan (Bilangan 15: 37-41)



Tuhan memerintahkan kepada Musa untuk menyampaikan kepada orang Israel, agar mereka membuat jumbai-jumbai pada punca baju mereka, yang dibubuhi benar ungu kebiru-biruan. Jumbai-jumbai itu dibuat sebagai peringatan akan setiap perintah Tuhan.



Jumbai itu harus dipasang di pakaian setiap orang Israel, agar ketika mereka melihat jumbai tersebut mereka mengingat perintah Tuhan dan melakukannya.

“ You will have this tassels to look at and so you will remember all the commands of the Lord, that you may obey them and not prostitute yourselves by chasing after the lusts of your own hearts and eyes. Then you will remember to obey all my commands and will be consecrated to your God.”(Numbers 15: 39-40, NIV)
Tuhan ternyata menginginkan umat-Nya senantiasa mengingat akan perintah-Nya dan melakukannya, sehingga jumbai itu dipasang di pakaian bangsa Israel yang tentunya akan mereka pakai setiap hari.


Tuhan ingin, agar dimanapun kita berada, apapun yang kita kerjakan, kita selalu mengingat akan perintah dan ketetapan-Nya.



Menurut aku, jumbai peringatan itu, kalau zaman sekarang ini, adalah firman Tuhan. Tuhan menginginkan agar firman-Nya itu menjadi bagian yang tidak terpisahkan dalam kehidupan anak-anak-Nya.



Tuhan menginginkan agar kita selalu mengingat firman-Nya setiap saat, dimanapun kita berada, apapun yang kita kerjakan, sehingga kita terhindar dari perbuatan yang tidak berkenan kepada-Nya.



Ini jadi ‘cambuk’ buat aku untuk semakin rajin dan tekun untuk baca firman Tuhan dan merenungkannya, juga tentunya melakukan firman itu setiap hari.



Dan ini juga jadi ‘cambuk’, hehehe… agar aku nggak bolong-bolong lagi hafal satu ayat Alkitab tiap hari. Salah satu ‘jumbai peringatan’ yang bisa kita bawa tiap hari adalah ayat Alkitab yang kita hafal.

Mari kita menjahit ‘jumbai peringatan’ dalam hati dan pikiran kita, lewat firman Tuhan.


God bless,,