Sabtu, 12 Januari 2013

KEPOMPONG





Semua pasti tahu tentang kepompong.
Semua yang pernah duduk di SD dan belajar metamorphosis serangga di mata pelajaran IPA pasti tahu soal kepompong.
Kepompong adalah salah satu siklus hidup dari kupu-kupu. Pertama, ia adalah sebuah telur, menetas menjadi ulat, dan kemudian dibungkus menjadi kepompong lalu ia keluar menjadi kupu-kupu yang indah.
Kenapa aku jadi nulis soal kepompong?
Ini dimulai pas ibadah Minggu tanggal 30 Desember 2012 kemaren.
Aku menghadiri ibadah Minggu, ibadah itu sekaligus dengan ibadah peneguhan K’Reiny sebagai seorang Pendeta.
I was so excited! Gak setiap tahun kita bisa melihat peneguhan seorang Pendeta di gereja, also, K’Reiny adalah seorang hamba Tuhan yang aku hormati dan sayangi ^^.
She is such a lovely, charming and gentle woman who I adore. Jadi aku turut gembira saat mendengar bahwa K’Reiny akan diteguhkan menjadi seorang Pendeta.
Ibadah Peneguhan Pendeta sangat hikmat, dan bikin aku merinding juga pengen nangis.
Ada yang pas K’Reiny nyanyi solo “Ya Yesus Ku Berjanji” aku jadi pengen nangis saking tersentuh dan terharu :').
JUga pas para Pendeta senior menumpangkan tangan sama K’Reiny.
Terus ada juga momen menarik dimana Pendeta dari BPS GMIM memperkenalkan macam-macam stola, perlengkapan pembaptisan, perlengkapan Perjamuan Kudus, mimbar dan jemaat.
Dan saat pelayanan Firman Tuhan yang dipimpin sendiri oleh Pdt. Reiny Komaling-Moniaga, S.Th ^^, she talked about KEPOMPONG.
Pembacaan Alkitab diambil dari Keluaran 13:17-22, dimana bangsa Israel yang baru keluar dari tanah Mesir tidak dituntung Tuhan lewat jalan yang paling dekat, yaitu lewat orang Filistin, tapi mereka harus memutar lewat padang gurun, yang pada akhirnya mereka selama 40 tahun muter-muter padang gurun sebelum akhirnya bangsa Israel sampai ke tanah Kanaan.
Pertanyaannya, kenapa?
Kenapa Tuhan gak menuntun bangsa Israel lewat jalan yang paling pendek, tapi lewat jalan yang sangat panjang dan melelahkan? Perjalanan yang sebenarnya tidak sampai sebulan, akhirnya jadi empat puluh tahun :O.
Dan akhirnya K’Reiny bilang soal kepompong ini. Proses bangsa Israel menuju tanah Kanaan ini kayak proses dari kepompong menjadi kupu-kupu.
AKu jadi kepikiran juga soal kepompong,hehe…
Tuhan menuntun bangsa Israel melewati padang gurun selama 40 tahun bukan karena Tuhan itu jahat, kejam dan pengen bangsa Israel menderita dulu, tapi sebaliknya, Tuhan ingin yang terbaik buat mereka.
Pertama, kalo bangsa Israel itu lewat wilayah orang Filistin, mereka pasti bakal takut berperang, karena orang-orang Filistin itu kuat bahkan keturunan raksasa. Ingat Goliat? Dia itu salah satu keturunan raksasa dari orang Filistin. 
Tuhan bisa saja membuat orang Israel menang melawan orang Filistin, tentu saja, tapi itu akan membuat orang Israel manja, cengeng, dan gak punya iman, dan malah menyombongkan diri.
So, Tuhan memilih rute lain untuk bangsa pilihannya. Rute yang panjang dan berat, tapi akan menghasilkan hasil yang terbaik untuk mereka.
Simply He just love them.
Kedua, Tuhan ingin membuat bangsa Israel benar-benar siap memasuki tanah Perjanjian, dan Tuhan tahu bahwa untuk mempersiapkan bangsa Israel itu butuh waktu.
Dan bukan salah Tuhan kalau waktunya empat puluh tahun,huehehe…
Itu karena kesalahan bangsa Israel sendiri yang keras kepala, suka bersungut-sungut bahkan sering bikin Allah murka karena dosa-dosa mereka,makanya Tuhan membuat mereka muter-muter di padang gurun empat puluh tahun lamanya.
Selama empat puluh tahun di padang gurun, bangsa Israel belajar untuk benar-benar hanya bergantung sama pemeliharaan Tuhan Allah.
Mulai dari penuntun jalan mereka, yaitu tiang awan dan tiang api. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana jadinya berjalan di padang gurun tanpa perlindungan tiang awan dan tiang api. Tanpa tiang awan dan tiang api itu orang Israel pasti bakal tersesat dan mati di padang gurun.
Kemudian soal makanan, yaitu manna yang turun dari sorga tiap hari.
Juga perlindungan dari musuh-musuh mereka. Peperangan yang harus orang Israel alami gak sedikit selama perjalanan di padang gurun, apalagi pas mereka nyampe di Kanaan dan harus berperang melawan raja-raja bangsa Kanaan.
Lewat empat puluh tahun juga di padang gurun, Tuhan menguji hati bangsa Israel.
Karena dosa-dosa mereka pada akhirnya semua orang yang keluar dari Mesir,kecuali Yosua dan Kaleb, tidak melihat tanah Perjanjian, termasuk Musa. Keturunan merekalah yang pada akhirnya menjadi orang yang menerima janji itu, masuk ke dalam Tanah Perjanjian.
Dan selama empat puluh tahun di padang gurun, Tuhan mengajarkan bangsa Israel banyak hal. Peraturan-peraturan, hukum-hukum, cara beribadah, tempat beribadah dan perkakas-perkakasnya.
See? Tuhan itu bukan asal-asalan membuat orang Israel mengembara di padang gurun dalam kurun waktu yang begitu lama.
He have a purpose, He have a plan, dan seperti kitab Yesaya bilang “ Rancangan-Ku bukanlah rancanganmu, dan jalan-Ku bukanlah jalanmu,”.
Manusia memang tidak bisa memahami rencana Tuhan.
Pada akhirnya, ketika Tuhan melihat bahwa bangsa Israel telah siap untuk masuk tanah Kanaan, Ia sendiri yang membawa, menuntun dan menyertai bangsa Israel untuk masuk dan menduduki Kanaan.
Janji yang Tuhan berikan kepada Abraham, Ishak dan Yakub digenapi beberapa ratus kemudian.
Actually, aku merasa aku sedang ada di fase tersebut. Yah, banyak pergumulan dan tantangan yang aku hadapi dua tahun terakhir ini dan aku masih belum jelas soal panggilan aku dan many more things.
Aku merasa aku berjalan dalam gua yang gelap dan benar-benar gak tahu mo kemana.
Berulang kali aku bertanya sama Tuhan kenapa aku kok kayak dipermainkan, kayak menderitaa banget, kayak Tuhan ngasih aku pencobaan paling berat (padahal enggak :p), pokoknya ada momen-momen yang aku desperate banget, eh, dan kalo dipikir-pikir en diingat-ingat lagi aku jadi malu, karena yang aku alami itu biasa-biasa saja (aku baru nyadar) dan betapa tingkah aku lebaaaayyyy banget ,huehehehe…
Tapi lewat perenungan Firman Tuhan hari Minggu itu, Tuhan secara clearly (weitsss, hehehe) bilang ke aku, kalo aku ini sedang dalam fase kepompong.
KEPOMPONG!
Tuhan, kepompong itu jelek, gendut, jijik, aahhh pokoknya gak banget,deh!
Aku protes.
Tapi kupu-kupu gak akan jadi cantik kalo gak jadi kepompong dulu, Sweetheart… Tuhan berkata.
And I just smiled to Him also nodded.
Yes, He’s right.
Kupu-kupu adalah binatang yang istimewa menurut aku. Karena siklus hidupnya yang tidak biasa.
Kupu-kupu mengalami proses yang namanya metamorphosis. Setahu aku sih, hanya dua binatang yang mengalami metamorphosis, kupu-kupu dan katak.
Ada fase-fase yang harus dilewati oleh kupu-kupu sebelum ia jadi kupu-kupu dewasa.
Telur, menetas jadi Ulat, kemudian dibungkus jadi Kepompong, lalu jadi Kupu-kupu.
Yah, semuanya juga sudah pada tahu kan?
Kalo proses yang paling lama, paling berat adalah fase kepompong.
Saat ulat jadi kepompong, ia harus mengorbankan kebebasan dirinya.
Saat ia dibungkus jadi kepompong, ia gak bakal bisa bergerak kemana-mana lagi, ia harus diam, stay disitu sampai saatnya tiba ia keluar jadi kupu-kupu.
Saat ia dibungkus jadi kepompong, ia gak bakal bisa liat dunia luar. Di dalam kepompong itu pasti gelap.
Saat ia dibungkus jadi kepompong, ia harus bergantung hanya pada zat-zat makanan yang ada dalam kepompong itu.
Saat jadi kepompong, ia jadi mahluk yang lemah, mahluk yang rentan di dalam kepompong itu, dan kepompong itu jadi satu-satunya tempat yang aman buat dia.
Saat ia dibungkus jadi kepompong, ia harus menunggu. Sendirian, Gelap. Juga kesakitan. Karena dalam kepompong itu, tubuhnya mengalami perubahan-perubahan secara perlahan.
Jadi kepompong itu gak enak. Jadi kepompong itu sakit. Jadi kepompong itu menderita.
Sama seperti yang aku alami. Banyak saat-saat yang gak mengenakkan yang harus aku hadapi, kekecewaan, penolakan, dan sebagainya.
Aku benar-benar diuji sama Tuhan setahun belakangan ini dalam banyak hal. Di tempat kerja, di rumah bahkan di pelayanan.
Belum lagi harapan-harapan yang… kelihatannya ‘dihancurkan’ sama Tuhan.
Dan mungkin hal yang paling gak mengenakkan dari fase ‘kepompong’ ini adalah… aku nggak tahu kapan fase ini akan selesai.
Yang pasti, aku tahu kalo fase ini akan selesai ketika aku benar-benar udah cantik di mata Tuhan.
Ketika Tuhan melihat bahwa aku sudah siap untuk menerima janji-janji Tuhan.
Ketika Tuhan melihat kalau aku sudah siap ‘terbang’, dalam arti aku sudah siap untuk terjun dalam panggilan aku dari Tuhan.
Kupu-kupu kan diciptakan untuk terbang ya kan? Ia dilengkapi dengan sayap yang indah, untuk terbang.
So, aku bersyukur kalau sekarang aku ada di fase kepompong ini.
Walaupun gak enak, menderita, sakit, dan gak tahu kapan akan berakhir, tapi yang pasti Tuhan gak pernah ninggalin aku sedetik pun di fase ini.
Lagipula, aku belajar bahwa tanpa fase kepompong ini, aku akan selamanya jadi ulat.
Ulat itu mahluk lemah, diinjak dikit pasti mati. It means, aku nggak bisa menghadapi tantangan hidup.
Ulat itu hama perusak. Makanannya daun-daunan. Yang pasti kalau aku jadi ‘ulat’, aku bukannya jadi berkat tapi jadi batu sandungan buat orang lain, dan aku nggak mau itu.
Ulat itu gak menarik, huehehehe… Ulat gak bakal dilihat dua kali sama orang, ulat juga dijauhi sama orang.
Yang pasti, Tuhan gak pernah punya rencana buat anak-anak-Nya hidup sama seperti ulat.
Tuhan gak pernah kasih rancangan masa depan yang buruk buat anak-anak-Nya.
So, here I am. Aku sedang dalam fase kepompong.
Fase akhir dari persiapan menjadi kupu-kupu.
Fase dimana aku akan mempersiapkan diriku untuk punya sayap. Sayap indah yang nanti akan kugunakan untuk terbang saat aku keluar dari fase kepompong ini.
Aku benar-benar menantikan saatnya aku keluar dari kepompong ini.
Tapi aku juga tahu bahwa hidup dalam kepompong ini pun adalah hal terbaik yang aku alami sekarang.
Karena Tuhan sedang mempersiapkan diri aku untuk menerima janji-Nya.
Karena Tuhan sedang mempersiapkan diri aku menjadi wanita yang cantik dan berkenan di mata-Nya.
Karena Tuhan sedang membuat aku bertumbuh dalam iman, kasih dan pengenalan akan diri-nya.
Dan karena Tuhan pun…menanti-nantikan saatnya ketika aku siap, keluar dari kepompong ini dan menjadi kupu-kupu.
Ah, how I love You, Father!
Dari tulisan ini, mungkin aku akan menulis lagi tulisan soal fase kepompong ini. Yup, soalnya aku punya feeling kalau tahun ini akan makin gencar lagi tantangannya. Kemaren-kemaren, pas semakin dekat ke akhir tahun, Tuhan semakin clearly dan sering bilang hal itu ke aku lewat firman-Nya.
Please pray for me, and encouraging me in this phase.
God bless,,
Bergembiralah akan hal itu, sekalipun sekarang ini kamu SEKETIKA harus berdukacita oleh berbagai-bagai pencobaan. Maksud semuanya itu ialah untuk membuktikan kemurnian imanmu – yang jauh lebih tinggi nilainya dari pada emas yang fana, yang diuji kemurniannya dengan api- sehingga kamu memperoleh puji-pujian dan kemuliaan dan kehormatan pada hari Yesus Kristus menyatakan diri-Nya.”I Petrus 1:6,7

PS : Aku men-caps lock kata SEKETIKA, karena aku percaya bahwa setiap tantangan, pergumulan, pencobaan yang anak Tuhan harus hadapi hanyalah SEKETIKA waktunya. Artinya hanya sementara, tidak selamanya. Tuhan selalu menolong kita melewati itu semua. Dan aku percaya, Tuhan selalu menulis cerita BEST HAPPY ENDING! Lagipula, penderitaan yang kita alami itu hanya SEKETIKA…jika kita bandingkan dengan betapa lamanya HIDUP KEKAL yang akan kita terima nantinya di sorga.
Welcome 2013!!!!

Jumat, 28 Desember 2012

Sweet Words From Him


“ Walau tidak ada hal lain di dunia ini yang bisa kaupercayai, percayalah bahwa aku mencintaimu, sepenuh hatiku,”


Kalimat di atas adalah kalimat yang ada di dalam novel Ilana Tan yang berjudul “ Sunshine Becomes You”. Kalimat yang diucapkan Mia Clark, tokoh utama wanita di novel itu pada Alex Hirano, tokoh utama prianya.

Kalimat yang menyentuh dan membuat aku sempat mewek ( tipe melankolis, soalnya) pas baca,hehehe..

Tapi, aku bukan ingin mengulas atau menceritakan isi novel itu dalam tulisan ini.

Aku ingin menulis tentang kalimat di atas.

Jujur saja, saat aku membaca kalimat itu, yang pertama muncul di pikiranku adalah,
“ Adakah seseorang yang  akan mengatakan hal semanis, seromantis dan semenyentuh itu padaku?”
Hehehe… Baiklah, para cewek kebanyakan memang berpikir tentang hal-hal romantis dalam hidupnya, including me… ^^

Saat aku menanyakan hal tersebut (dalam hati), sebuah suara kecil, lebih tepatnya terdengar seperti bisikan ,
“ I will and I’m already do that for you, Sweetheart,”

Dan aku pun tersadar bahwa mungkin saja tidak akan pernah ada laki-laki, sekalipun nantinya aku menikah, yang akan mengucapkan kalimat tersebut kepadaku.

Tapi, seorang Pribadi mau, dan telah melakukannya untukku.

Lama sebelum ini.
Tuhan Yesus telah mengatakan hal itu kepadaku. Bukan hanya sekali, tapi berkali-kali.

Saat aku sedih, saat aku dikecewakan, hatiku disakiti dan aku merasa  I really have nothing…
Saat aku merasa tidak ada lagi yang benar-benar peduli padaku
Saat aku menangis sendirian di kamar..

Ia datang dan memelukku erat, sangat erat dan berkata,
“ Aku mengasihimu. Walaupun tidak ada hal lain yang bisa kau percayai di dunia ini, walaupun tidak ada orang yang mengasihimu, percayalah bahwa Aku sangat, sangat mengasihimu,”

Dan Tuhan bukan hanya sekedar berkata, Ia melakukannya.

Ia membuktikan bahwa Ia benar-benar mengasihi aku, saat Ia rela datang ke dunia, mengambil rupa manusia, hidup dalam kesederhanaan bahkan hina, lalu mati di kayu salib untuk menebus dosa-dosaku, tetapi kemudian bangkit.

Sehingga aku bisa menerima janji hidup kekal.
Hidup bersama-Nya, di sorga, bahkan lebih baik lagi, selama-lamanya.

Ia membuktikan bahwa Ia benar-benar mengasihi aku, ketika masalah-masalah datang dan Ia tidak pernah sekalipun meninggalkan aku ( Ibrani 13:5b)
Ia berjanji dan selalu setia akan janji-Nya, dan Ia tidak pernah sekalipun berdusta.
Ia mengasihi aku, ketika dunia tidak.
Ia mencintai aku, dengan kasih-Nya yang kekal, tidak berkesudahan, dan sejati.

Dan Ia memintaku untuk selalu percaya kepada-Nya, menaruh pengharapanku pada-Nya, yakin bahwa Ia mencintaiku, sepenuh hati-Nya.

AKu hidup dengan kepercayaan akan kata-kata-Nya.

Aku hidup dengan iman bahwa Tuhan Yesus sangat mencintaiku dan Ia ingin memberikan yang terbaik dalam hidupku.

How I can resist a True Lover like Him?

No one, even the greatest man in this world can do same things like He did for me!


Saat ini..
Kalau kau merasa tidak dikasihi, tidak dicintai oleh siapapun..
Dunia sepertinya menentangmu, segala macam kepahitan dan pergumulan tak hentinya menerpa hidupmu.
Dan kau merasa begitu sendirian, begitu kesepian, begitu menderita dan tak satupun orang bisa tahu persis bagaimana perasaanmu.
Trust me, Jesus know.
He knows everything about you, better than yourself.
Talk to Him, it’s okay if you want to cry front of Him, don’t be shy, He won’t laugh on you.
He will listen to you, He is a very good Listener.
He loves you, more than anyone in this world. Dia bahkan rela mati untuk dosa-dosamu!
Dan Ia akan mengatakan kalimat manis ini di telingamu,
“ Walau tidak ada hal lain di dunia ini yang bisa kaupercayai, percayalah bahwa aku mencintaimu, sepenuh hatiku,”
Percayalah akan kata-kata-Nya.
Perlukah kukatakan sekali lagi bahwa Ia tidak pernah sekalipun berdusta?
Percayalah pada-Nya.
Maka damai dan sukacita sejati akan mengalir di hatimu.
Cinta-Nya sanggup menyembuhkan luka separah apapun di hatimu.
Percayalah bahwa Ia mencintai-Mu, sepenuh hati-Nya.

***
Hari Natal kedua!!!
Aku merasa sangat, sangat, sangat bersyukur, diberkati dan dicintai.
Betapa Tuhan Yesus itu setia sepanjang kehidupanku dan keluargaku tahun ini.
Banyak pergumulan dan tantangan yang dihadapi, dan tidak sedikit airmata yang bercucuran juga sakit hati karena kekecewaan.
Tapi, satu hal yang membuat aku kuat adalah kenyataan bahwa maybe I have nothing in this world, but Jesus loves me, and that’s enough.
His grace is always sufficient for me.

Merry Christmas everyone
Jesus loves U…

God bless

Farha














KNOCK! KNOCK! KNOCK!


Tok! Tok! Tok!

Suara ketukan lembut terdengar dari balik pintu hatiku.

“ Siapa yang datang?” Aku bertanya pada diriku sendiri.

Pelan-pelan, aku berjalan ke arah pintu, lalu mengintip dari balik jendela.

Aku terkejut ketika melihat sosok yang berdiri di luar pintu.

Itu Tuhan Yesus!

Aku terkesiap panik.

Yesus?

Yesus datang dan Ia mengetuk pintu hatiku, rumahku.

Dan lihat, Ia menunggu aku untuk membukakan pintu bagi-Nya

Haruskah aku membuka pintu?

Aku mendesah pelan sambil menatap sekelilingku.


Ah, bagaimana aku bisa membiarkan-Nya masuk ke dalam sini? Ke dalam hatiku? Ke dalam rumahku?

Disini kotor dan berantakan.

Lihat, dinding-dindingnya retak akibat terlalu banyak sakit hati yang kurasakan,

catnya terkelupas karena aku terlalu banyak menelan kekecewaan.

Jendela-jendelanya kusam dan kotor karena banyak kepahitan yang kualami.

Perabotan-perabotannya tua, rusak dan tertutup dengan debu masa lalu yang kelam.

Tiang-tiangnya hampir rubuh karena imanku sering digoncang oleh badai pergumulan.


Dan kamarku?

Penuh sampah dan kotoran.

Terlalu banyak dusta, iri hati, kesombongan, egois dan amarah yang kusimpan di dalamnya.


Oh! Lihat kursi-kursiku!

Tua dan rusak juga hampir patah karena tidak ada lagi harapan.

Mana mungkin aku menyuruh-Nya duduk disitu?


Juga… disini sangat gelap.

Tidak ada setitik pun cahaya di dalam sini.

Yang ada hanyalah kegelapan.


Tidak! Tidak! Tidak!

Aku tidak layak menerima-Nya di rumahku.

Rumahku sempit, kotor, penuh debu dan berantakan.

Aku malu.

Mana mungkin seorang Raja masuk ke dalam sini?

Hatiku yang rusak, penuh luka dan kotor karena dosa.


Tok!Tok!Tok!

Ketukan lembut itu terdengar kembali.

Rupanya Ia masih berdiri di depan pintu.

Aku membuatnya menunggu terlalu lama.

Aku berjalan ke arah pintu dan siap memutar kunci, tapi…

Kupandangi lagi isi rumahku yang bobrok.

Aku jadi ragu-ragu dan menarik kembali kunci itu.


Tidak! Tidak! Tidak!

Kujauhkan tanganku cepat-cepat dari pintu dan mundur menjauhi pintu.

Aku tidak akan membiarkan Ia masuk ke dalam sini.

Lagipula, untuk apa Ia ke sini? Ke rumahku?

Rumahku tidak layak didatangi seorang Tuhan yang mulia.

Tidak, aku tidak akan membukanya.


“ Anak-Ku, bukalah pintunya,”

Aku terkejut mendengar suara-Nya dari balik pintu.

Ah, bagaimana mungkin ada suara yang selembut dan seindah ini?

“ Anak-Ku, Kumohon, bukalah pintunya,”

“ Biarkan aku masuk ke dalam,” kata-Nya lagi, memohon.

“ Tidak, TUHAN,” Aku menggeleng dengan putus asa.

“ Disini kotor dan berantakan, penuh sampah. Kau akan jijik melihat semua di dalam sini,”

“ Aku,aku… tidak bisa menerima-Mu di dalam sini,” ujarku.

“ Lagipula, untuk apa Kau kesini, Tuhan? Aku tidak punya apa-apa disini. Aku tidak bisa memberikan apapun kepada-Mu,” Aku bersikeras dengan pendirianku.


“ Anak-Ku, biarkanlah Aku masuk ke dalam rumahmu, ke dalam hatimu,”

Kenapa Ia begitu keras kepala?

Aku sudah menolak-Nya tadi. Apa Ia tetap akan bersikeras seperti ini?

“ Tidak, Tuhan. Pergilah. Kau tidak tahu seperti apa di dalam sini. Disini gelap dan kotor.”

Kuharap Ia segera pergi dari depan pintuku.

Aku tidak butuh diri-Nya.

Aku bisa sendirian.

Aku sudah terbiasa di dalam sini.

Aku terbiasa sendirian, juga…ehm, kesepian.


“ Anak-Ku, Aku tahu persis keadaan di dalam sana. Tapi, biarkanlah Aku masuk,”

Ah, kenapa Tuhan begitu memaksa? Aku mulai kesal.

“ Untuk apa, Tuhan? Untuk apa Kau datang kesini?!” Nada suaraku mulai meninggi.

“ Untuk mengubahnya,” jawab-Nya mantap.

“ Aku akan mendekorasi ulang hatimu, - rumahmu-, Aku akan menghiasinya dengan kasih,”

“ Pertama-tama, Aku akan membuka semua jendela-jendelamu sehingga wangi sukacita akan memenuhi ruangan-ruangan di dalam rumahmu. Bau busuk kesedihan akan segera hilang dari dalam rumahmu,”

“ Aku akan membersihkan setiap sampah dusta, iri hati, juga amarah yang kau simpan dalam kamarmu,”

“ Perabotanmu yang kotor dan penuh debu kesombongan juga mementingkan diri sendiri, akan kubuang,”

“ Akan Kuberikan perabotan yang baru untukmu. Ruangan-ruangan hatimu akan diisi dengan kejujuran, kelemahlembutan, kerendahan hati juga kesetiaan.”

“ Dan dinding-dindingmu? Aku akan menggantung hiasan visi keselamatan juga hidup kekal dan itu akan dibingkai oleh pemenuhan yang seutuhnya dari-Ku,”

“ Kau tahu? Aku akan mengecat rumahmu dengan warna-warna yang memberi kehangatan, keramahan, sukacita, kelembutan dan Aku akan mengokohkan tiang-tiang rumahmu dengan iman, pengertian dan hikmat, sehingga engkau bisa bertahan sampai pada akhirnya, meskipun badai pergumulan datang.

“ Dan lantainya… akan Kupasangi dengan kepercayaan, dindingnya akan kuhiasi dengan kesabaran, dan Aku akan menaruh cahaya pengharapan yang menyingkirkan setiap sisi gelap, mengusir kegelapan yang selama ini ada di dalammu,”

“ Dan cermin di rumahmu akan merefleksikan komitmen untuk saling mengasihi antara Aku dan engkau,”

“ Nah, Anak-Ku, Aku akan melakukan semuanya itu asal kau mau membuka pintu untuk-Ku.

Aku berjanji akan mengubah seluruhnya dan percayalah, karena Aku tidak pernah berdusta.

Aku akan menjadi penjaga hatimu dan tidak akan membiarkan hatimu disakiti asalkan kau 
mau membiarkan Aku masuk dan mengubahmu.”

“ So, here I stand, My child… Would you please let Me in?”

Kupandangi lagi sekelilingku. Rumahku yang kotor dan bobrok.

Bisakah Ia mengubahnya?

Kupandangi kunci di tanganku dan pintu di depanku bergantian.

Perlahan, aku berjalan ke arah pintu, dengan langkah pasti.

Perlahan, keraguanku menghilang dan benar-benar tidak ada lagi yang menghalangiku saat aku memutar kunci pintu dan membukakan pintu bagi Yesus.

Lalu membiarkan Ia masuk ke dalam rumahku, ke dalam hatiku.

Dan kau tahu? Sejak saat itu, hidupku tak pernah sama lagi. ^^

***

Hati aku adalah rumahku.

Salomo menulis,
“ Seperti air mencerminkan wajah, demikianlah hati manusia mencerminkan manusia itu,”
Amsal 27:19.

Keadaan hati kita menentukan kehidupan kita, mempengaruhi kesehatan tubuh kita, kalau hati kita sakit maka seluruh tubuh kita akan terkena dampaknya.

Karena itulah, kita harus menjaga hati kita sebaik-baiknya.
“ Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan,”
Amsal 4:23

Bagaimana menjaga hati kita dengan segala kewaspadaan?

Biarkan Tuhan Yesus masuk ke dalam hati kita.

Jangan hanya membiarkan Ia masuk dan duduk di ruang tamu, tapi biarkan Ia masuk ke dalam kamarmu, ruang paling pribadi dalam hatimu.

Biarkan Ia tinggal di dalam hatimu. Biarkan Ia mengubah hatimu agar menjadi serupa dengan-Nya.

Selaraskan hatimu dengan hati-Nya.

Mungkin ada perubahan-perubahan yang akan tidak kau sukai.

Mungkin Ia akan membuang perabotan-perabotan tua yang kau sayangi tapi hanya mengotori rumahmu (dalam hal ini,, hatimu)

Mungkin Ia juga akan merombak total hatimu sehingga tampaknya jadi lebih berantakan, tapi percayalah hasilnya akan jauh lebih indah dan jauh lebih daripada yang kau bayangkan.

Ia arsitek terhebat. Ia juga desainer interior paling hebat di seluruh dunia dan di sorga. ^^.

Lihat, Ia berdiri di depan pintu hatimu.

Mungkin Ia sudah mengetuk ribuan kali tapi kau tak kunjung membukakan pintu.

Tapi Ia tidak akan menyerah padamu, Ia tidak akan menyerah sampai kau membuka pintu.

Tuhan bisa saja menerobos masuk ke dalam, tapi Ia tidak mau.

Ia ingin kau sendiri yang MEMILIH untuk membukakan pintu rumahmu, pintu hatimu.

Jangan membiarkan Ia menunggu terlalu lama.

Segera ambil kunci hatimu, dan bukalah pintu hatimu.

Biarkan ia masuk dan mengubah hatimu!


Inspired from book " what to do until you find love?"  Michelle McKinney Hammond ^^.


God  bless,

Minggu, 04 November 2012

WHEN I START TO PRAY FOR OTHERS




Kira-kira sebulan yang lalu, aku membaca majalah on-line Pearl. Temanya kali ini adalah tentang “Misi”, dan tulisan-tulisan di Pearl benar-benar membuka mata dan pikiran aku soal pelayanan misi.

Jujur saja, jika mendengar kata “Misi” maka yang ada dalam pikiranku adalah misionaris, memberitakan Injil di pedalaman-pedalaman, bertaruh nyawa demi iman. Melayani di bidang “Misi” sama sekali tidak ada dalam pikiran aku, dan yang jelas bukan jenis pelayanan yang akan aku pilih (seandainya aku bisa milih,hehe..)

Tapi, setelah aku baca majalah Pearl, pikiran aku soal misi langsung berubah dan muncul kerinduan untuk melayani di bidang misi. Salah satu keinginanku sebelum usia aku 30 tahun, adalah ikut mission trip meskipun cuma yang short trip atau bahkan hanya sekali, aku ingin ikut mission trip.

Aku sadar bahwa mungkin sekarang Tuhan belum memberikan aku kesempatan untuk melakukannya, jadi aku memutuskan untuk melakukan hal lain yang berhubungan dengan misi. Pelayanan misi ternyata tidak hanya terbatas pada pekerjaan sebagai misionaris saja, ataupun mengikuti mission trip, ada banyak bidang yang berkaitan dengan misi.

Salah satunya adalah menjadi pendoa syafaat.

Aku mengetahuinya saat membaca tulisan Ci Grace Suryani di majalah Pearl.
Bagaimana menjadi pelayan misi melalui doa syafaat?
Salah satunya, dengan kita mendoakan bangsa-bangsa ataupun suku-suku yang termasuk unreached people (yang terabaikan/ yang belum terjangkau) agar mereka bisa mengenal Kristus dan mengakui-Nya sebagai Juruselamat pribadi mereka serta menerima Roh Kudus dan hidup sesuai kebenaran Firman Tuhan.
Kita juga mendoakan para misionaris maupun orang-orang yang terlibat dalam pelayanan kepada unreached people, agar mereka bisa memberitakan Injil dan memenangkan banyak jiwa untuk Tuhan Yesus, juga berdoa agar Tuhan menolong mereka dalam menghadapi tantangan bahkan kesulitan yang mereka hadapi di ladang penginjilan.

Masih banyak negara maupun tempat-tempat yang sulit dimasuki oleh para misionaris karena terbentur bahasa, politik, agama lain, tradisi dan sebagainya. Setelah membuka beberapa situs, aku jadi tahu bahwa ada begitu banyak tantangan dan kesulitan yang dialami di negara-negara maupun daerah-daerah ketika hamba-hamba Tuhan ingin memberitakan Injil kepada mereka. Sebagai referensi, kalian bisa mengunjungi www.joshuaproject.net dan www.operationworld.org

Menjadi pendoa syafaat mungkin terdengar sepele dan nggak ‘wow’, tapi sebagai orang percaya, bukankah tidak ada yang meragukan kuasa sebuah doa?

Prayer can change everything.

Jadi, aku memutuskan untuk mulai berdoa untuk pelayanan misi dan bagi unreached people. Sebenarnya, aku sudah mulai mendoakan suku-suku terabaikan di Indonesia sejak bulan Agustus lalu, tapi jujur saja sering lupa dan nggak disiplin,hehe…. Jadi ini merupakan tantangan buat aku.

Aku membuka beberapa situs seperti Joshua Project kemudian Operation World Prayer dan disitu ada beberapa program untuk mendoakan bangsa-bangsa juga suku-suku yang terabaikan atau belum dijangkau oleh Injil.
I’m so grateful when I found those sites, karena aku merasa pada akhirnya I can do something, even it’s small, and I can be a part of mission ^^.

AKu mengikuti proyek 60 Days Challenge Prayer, itu semacam proyek doa syafaat selama 60 hari, dimana kita mendoakan satu negara tiap hari selama 60 hari. Kemudian aku join milis yang tiap hari kirim email ke aku tentang unreached people yang perlu didoakan.

Buat siapapun yang punya kerinduan untuk melihat tranformasi di negara-negara ataupun daerah-daerah di dunia ini, aku menganjurkan agar ikut proyek semacam ini, karena kita jadi lebih terarah dan teratur juga focus, kemudian doa kita jadi lebih spesifik untuk mereka.

Dan tidak terasa sudah sebulan lebih sejak aku ikut proyek itu.
Aku merasakan kesulitan, dan sampai sekarang masih,hehehe…. Masalah kedisiplinan juga waktu.
Aku masih cukup kesulitan dalam menentukan waktu untuk berdoa syafaat yang tepat, juga masih sering bolong-bolong doanya. Sempat mikir untuk give up and quit, intimidasi si jahat yang tentu saja tidak ingin melihat anak Tuhan berdoa buat keselamatan orang lain. He wants us to become an egoist Christian, yang tidak peduli sama keselamatan orang lain, yang hanya mementingkan keselamatan diri sendiri.

Meskipun sampai sekarang aku belum melihat perubahan secara nyata dari negara maupun daerah yang aku doakan, tapi aku yakin bahwa Tuhan mendengar doa-doaku juga setiap orang yang rindu dan terlibat dalam doa syafaat ini.  Dan aku yakin, suatu hari nanti semua bangsa, semua orang di dunia ini akan mendengar tentang Yesus Kristus yang telah datang ke dalam dunia, dengan satu tujuan, untuk menyelamatkan dunia ini belenggu dosa. Aku percaya, bahwa doa bisa mengubah segala sesuatu, bahkan hati yang paling keras sekalipun.

Terlebih lagi, aku merasakan bahwa saat aku mendoakan orang lain, aku juga diubahkan oleh Tuhan.
Aku pernah baca tulisan Ci Lia, bahwa saat kita berdoa, hati kita ikut diubahkan agar sesuai dan selaras dengan hati Bapa.

Dan itulah yang aku rasakan, saat berdoa untuk bangsa ataupun suku yang belum terjangkau, aku bisa merasakan betapa Bapa sangat mengasihi mereka dan kerinduan-Nya agar mereka bisa mengenal-Nya.
Yohanes 17:23
“Aku di dalam mereka, dan Engkau di dalam Aku, supaya mereka sempurna menjadi satu, agar dunia tahu, bahwa Engkaulah yang telah mengutus aku dan bahwa Engkau mengasihi mereka sama seperti Engkau mengasihi Aku,”

Ini salah satu ayat dalam perikop “Doa Yesus untuk murid-murid-Nya” dalam Yohanes 17:1-26. Pasal favorit aku. Doa yang sangat… romantis menurut aku. Karena Tuhan berdoa untuk murid-murid-Nya, juga untuk mereka yang percaya kepada-Nya oleh pemberitaan mereka, which is US.. which is me and you ^^. Doa yang nggak egois, doa yang sangat indah, doa yang diungkapkan dari ketulusan hati Yesus yang terdalam.

Bapa mengasihi semua manusia ciptaan-Nya, tidak terkecuali. Ia mengasihi kita, dan rindu, sangat rindu agar kita mengetahui hal tersebut. Bahwa Ia mengasihi kita, sama seperti Ia mengasihi Anak-Nya, dan lebih lagi Ia mengasihi kita dengan kasih yang kekal. Juga oleh karena kasih-Nya, Ia rela mengorbankan Anak-Nya untuk mati di kayu salib demi menebus dosa seluruh umat manusia.

Aku sangat mengucap syukur karena aku bisa terlibat dalam proyek ini. Menjadi pendoa syafaat mungkin terdengar sepele, tapi sangat penting, dan dibutuhkan keinginan yang kuat, kedisiplinan juga hati yang mau dibentuk. Aku jadi lebih sadar bahwa tugas kita di dunia ini, adalah melayani-Nya.

Mungkin kita merasa kita memiliki keterbatasan dalam melayani Tuhan. Baik waktu, pekerjaan, tanggung jawab, atau bahkan materi. Yup, kita manusia yang terbatas, dan aku pun merasakan hal yang sama saat aku ingin ikut pelayanan misi. Karena pekerjaan dan orang tua aku, aku tidak bisa ikut mission trip yang jauh-jauh, dan juga di gereja aku, sangat jarang mengadakan mission trip, tapi aku akhirnya dibukakan jalan untuk menjadi pendoa syafaat bagi unreached people ^^.

Yang aku pelajari adalah Tuhan kita tidak mengenal keterbatasan, sehingga kita tetap bisa melayani-Nya di tengah keterbatasan kita jika kita mau dan meminta-Nya untuk menolong kita.
Keterbatasan kita, baik dari segi waktu, pekerjaan, materi, bukanlah penghalang yang berarti jika kita mau dan sungguh-sungguh rindu untuk melayani Tuhan.

Aku ditegur cukup keras sama Tuhan soal yang satu ini, karena beberapa waktu yang lalu aku mengambil side job, dari sore sampe malam, dan mengabaikan pelayanan aku juga ibadah-ibadah dengan alasan kesibukan pekerjaan. Aku belajar bahwa Ia tidak mau dijadikan yang kedua, atau yang ketiga dalam kehidupan aku. Tuhan mau jadi yang pertama dan yang terutama.

Seperti bunyi Matius 6:33
“ Carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya akan ditambahkan kepadamu,”

Kemudian, mendoakan keselamatan orang lain itu penting,lho. Ingat Amanat Agung Tuhan Yesus dalam atis 28:19,20 ?
Tuhan Yesus ingin agar semua bangsa menjadi murid-Nya dan dibaptis dalam nama Bapa, Anak dan Roh Kudus.
Kita bisa jadi bagian dari misi ini dengan mendoakan bangsa-bangsa dan suku-suku yang belum terjangkau pemberitaan Injil.
Jelas bahwa pelayanaan doa syafaat bagi bangsa-bangsa ini bukan hal yang sepele ^^.

Kemudian pelayanan ini bisa dilakukan oleh siapa saja, kita hanya butuh lutut yang mau bertelut dan hati yang mau diubahkan, yang penting kita mau commit untuk melakukannya, karena ini tidak semudah dan se-simple yang kita bayangkan.

Secara pribadi aku rindu, agar makin banyak anak Tuhan yang turut mendoakan bangsa-bangsa dan suku-suku yang belum terjangkau. Agar makin banyak anak Tuhan yang diubahkan hatinya selaras dengan hati Bapa. Agar anak-anak Tuhan jangan menjadi orang Kristen yang egois, yang hanya peduli pada keselamatan diri sendiri, tapi tidak mau peduli pada keselamatan orang lain.

By the way, jangan hanya berdoa bagi bangsa-bangsa dan suku-suku yang belum terjangkau, tapi juga bagi pribadi-pribadi di sekitar kita yang belum ‘terjangkau’.
Adakah orang tua, saudara, teman, tetangga kita yang belum mengenal Tuhan secara pribadi?

Let’s pray for them, too…  Berdoa agar Tuhan mengetuk pintu hati mereka agar dibukakan untuk-Nya. dan berdoa agar Tuhan mengetuk pintu hati mereka lebih keras lagi jika mereka belum mau membukakannya, terus dan terus sampai mereka mau membukanya.

Seperti kata Myles Munroe dalam bukunya “ Waiting and Dating”, tujuan Allah mempertemukan kita dengan orang-orang di sekitar itu, bukan karena kebetulan semata, tapi agar kita memberi dampak terang buat mereka ^^.

God bless,,

Farha