Kamis, 04 Oktober 2012

Sukacita sebagai Gaya Hidup


Annyeong... #bow90degrees


Aku mau nulis tentang hal-hal yang aku dapat selama PMA bulan September kemarin.
Tema bulan September adalah Sweet Joy in September... SUKACITA. 
Jadi ayat-ayat hafalannya bertemakan sukacita.


Sebelumnya, aku mau sharing dulu bagaimana caranya aku terlibat di PMA ini. 
Proyek Menghafal ayat ini adalah proyeknya Mbak Dhieta dan Mbak Mega, dan aku ikut serta. Kalian bisa cek blog mereka di >>



PMA ini dimulai dari bulan Agustus dengan tema Kasih, dan di bulan September temanya, Sukacita. Untuk bulan Oktober, temanya Damai Sejahtera. Secara pribadi, aku berdoa agar ada makin banyak orang yang mau terlibat dalam proyek ini, karena aku sendiri merasakan efek dan manfaat yang luar biasa dari proyek ini.

Proyek ini simpel saja, kita menghafal ayat hafalan tiap hari dan merenungkannya. 
For me, yang dari SD sering hafal ayat Alkitab, ikut lomba Cerdas Cermat Alkitab sampai sekarang, agak mudah sih menjalankannya, tapi tetap saja keteteran,hehehe..

Jadi kalo ada yang bolong, aku tebus di hari berikutnya. Juga, aku usahain untuk hafal seluruh ayat-ayat itu sampai akhir bulan. Jadi meskipun tiap hari ada ayat hafalan baru, ayat dari hari-hari sebelumnya tetap harus hafal! ^^

Kalo teman-teman lain agak kesulitan menghafal, karena belum terbiasa, sebaliknya, aku lebih mudah menghafalnya karena sudah terbiasa, tapi.... yang jadi masalahnya adalah,, saking HAFALNYA, kata-kata di ayat itu sering nggak masuk ke otak, alias gak bisa direnungkan.

Hhh... kadang-kadang ayat-ayat itu cuman lewat begitu saja, tanpa aku pernah merenungi apa makna dari ayat itu.

Padahal, inti dari proyek ini bukan HAFALnya, tapi bagaimana kita merenungkan dan mengaplikasikannya.

Itu yang aku mau ubah, agar ayat-ayat itu gak cuma dihafal tapi benar-benar dihayati dan dilakukan.

Nah, kalo bulan September kemarin kan temanya Sukacita... Aku menemukan (cieee...menemukan >,< )
satu hal yang Tuhan ajarkan padaku selama bulan September yaitu menjadikan Sukacita sebagai Gaya Hidup.

Nah, apa sih gaya hidup itu?

Menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) gaya hidup adalah pola tingkah laku sehari-hari segolongan manusia di dalam masyarakat.
Gaya hidup menunjukkan bagaimana orang mengatur kehidupan pribadinya, kehidupan masyarakat, perilaku di depan umum, dan upaya membedakan statusnya dari orang lain melalui lambang-lambang sosial. Gaya hidup atau life style dapat diartikan juga sebagai segala sesuatu yang memiliki karakteristik, kekhususan, dan tata cara dalam kehidupan suatu masyarakat tertentu.

A lifestyle typically reflects an individual's attitudes, values or world view (dari Abang Wikipedia, kkkk...)

Sedangkan arti Sukacita...

Sukacita berasal dari bahasa Yunani, yaitu Chara. Kalo kalian yang penyuka Korean music, tau girlband Kara, nah namanya diambil dari Chara yang artinya sukacita (intermezo)^^v. 

Chara sendiri bukan berarti sukacita yang berasal dari hubungan-hubungan atau hal-hal duniawi, tetapi berasal dari hubungan dengan Allah. 

Seorang ahli lain mendefinisikan Chara sebagai perasaan yang riang gembira, kesenangan yang tenang, dan kegembiraan yang besar sebagai suatu sifat khusus dari watak Kristen yang lebih berarti dari kegembiraan sesaat. 

Sukacita adalah kegembiraan yang TIDAK ditentukan oleh keadaan, tetapi adalah suatu sifat TETAP dalam setiap SITUASI, entah baik atau buruk, karena berdasarkan Allah.

Dari tanggal 01 September, aku tersentak dengan ayat hafalan yang ini
Rm 14:17Sebab Kerajaan Allah bukanlah soal makanan dan minuman, tetapi soal kebenaran, damai sejahtera dan sukacita oleh Roh Kudus.
Sukacita adalah esensi dari Kerajaan Allah. 

Sebagai orang percaya, kita kan warga negara Kerajaan Allah. Nah, kalo kita ini warga negara Kerajaan Allah, maka kita harus punya karakteristik Kerajaan Allah, dong, dan  salah satunya dalam ayat ini disebutkan sukacita. 
Apa yang membedakan orang percaya yang hidupnya bener-bener dalam Tuhan dan orang yang belum percaya? 
Aku rasa, adalah sukacita. 
Orang percaya tidak menggantungkan sukacitanya pada keadaan tetapi pada Tuhan Yesus, sedangkan orang yang belum percaya menggantungkan sukacita atau kebahagiaannya pada hal-hal duniawi yang temporary

Itulah alasan kenapa Rasul Paulus bisa terus bersukacita meskipun ia harus dipenjara, didera, disesah, mengalami karam kapal, terkatung-katung di lautan selama sehari semalam, difitnah, dan mengalami penganiayaan. Karena ia tidak menggantungkan sukacitanya pada manusia, atau pada keadaannya, tetapi pada Tuhan,sang sumber sukacita sejati ^^.

Kemudian,,
1 Tesalonika 5:16Bersukacitalah senantiasa.
Filipi 4:4Bersukacitalah senantiasa dalam Tuhan ! Sekali lagi kukatakan: Bersukacitalah!
 Mazmur 118:24 Inilah hari yang dijadikan TUHAN, marilah kita bersorak-sorak dan bersukacita karenanya!

Sukacita itu adalah perintah. 

Perintah dari Tuhan kepada anak-anak-Nya. 

Dan kapan kita harus bersukacita?

Rasul Paulus berkata, "..senantiasa,"

Pemazmur Daud bersukacita atas hari yang dijadikan oleh Tuhan. 

Bukankah setiap hari adalah hari yang dijadikan oleh Tuhan?

Intinya adalah, kita harus bersukacita senantiasa, setiap hari, setiap waktu, tidak peduli apapun yang kita alami, kita harus bersukacita, di dalam Tuhan tentunya ^^. 

Sepanjang bulan September, banyak hal yang membuat aku sukacita, tapi juga tidak sedikit hal yang membuat aku BT, marah, kesal, sebal, pokoknya gak bersukacita,huehehe... 
Apalagi kalo pas PMS atau masa M, wuahhhh...hal-hal sepele saja bisa bikin mood aku jelek. Padahal yah, pagi-pagi itu aku sudah doa, n commit untuk gak mengeluh, marah-marah, dll kalo aku mengalami kejadian2 yang tidak mengenakkan. 

Tapi di saat-saat aku mulai marah-marah,, Roh Kudus mengingatkan untuk "bersukacita"... Biasanya, aku tarik napas dalam-dalam, dan ucapin ayat hafalan aku hari itu, atau paling gampang bilang dalam hati, " Bersukacitalah senantiasa," lalu senyummmmm ^____^.

Walo aneh, tapi itu mempan hehehe... Itu kayak jadi mood booster gituuu ,hehehe...

Pernah, aku nanya  (baca: komplain)  begini ke Tuhan, 

" Tuhan, Engkau nyuruh anak-anakMu senantiasa bersukacita. Jadi, orang Kristen itu gak boleh marah, sebal, kesel, gitu? Gak mungkin, Tuhan,, yang namanya manusia kan masih 'daging'. Kalo misalnya orang lain berbuat hal yang salah ke kita apa kita gak punya hak untuk marah, gitu? Kok kayaknya gak adil n berat banget ya Tuhan?"


Waktu itu, Tuhan cuma 'diam'... Gak ngomong apa-apa, gak ada angin badai, gak ada kilat menyambar-nyambar, hahahaha....

Pokoknya waktu itu, Tuhan seakan-akan cuma senyum-senyum misterius gitu (istilah apa ini???) 

Dan aku ingat ayat hafalan aku yang ini

Mazmur 33:21Ya, karena Dia hati kita bersukacita,sebab kepada nama-Nya yang kudus kita percaya.
Hmm,, saat kita merasa seakan-akan gak ada hal yang membuat kita bersukacita, sebenarnya kita harus tetap bersukacita karena satu  hal. 

Karena kita punya Tuhan. 

Hal itu saja merupakan alasan kenapa kita bisa bersukacita selalu, tak peduli seberat apapun yang kita alami. 
Aku sadar bahwa, yeah, kita bisa marah, sedih, kecewa, sebal sama seseorang dan Tuhan menciptakan perasaan-perasaan itu dalam diri kita. Mengalami hal semacam itu adalah hal yang alami,, tapi...itu tidak boleh menghilangkan sukacita dalam hati kita. 

Saat hati kita merasa marah, kesal, kecewa, sedih...ingatlah bahwa kita masih punya Tuhan.
Mengingat kita tuh punya Tuhan yang luar biasa baik, penyayang, dll itu pun hati kita patut bersukacita, dalam nama-Nya yang kudus itu kita meletakkan iman kita untuk percaya selalu kepada-Nya.

Nehemia 8:11
Jangan kamu bersusah hati, sebab sukacita karena TUHAN itulah perlindunganmu !"

Aku paling suka ayat ini... Sukacita adalah perlindungan dari Tuhan. 

Jadi sukacita termasuk dalam kategori APD (Alat Pelindung Diri) dari Tuhan, hehehe... (jadi ingat materi kuliah K3)

Fungsi alat pelindung kan untuk melindungi tubuh kita dari benda-benda yang bisa merusak,membahayakan diri kita, ya kan?

Demikian juga dengan sukacita, sukacita bisa melindungi kita dari yang namanya "self-pity", "depresi", "doubt", dan GALAU,.. itu sih yang aku alami sendiri. 
Saat kita bersukacita karena sadar akan berkat, anugerah, dan kasih setia Tuhan,, itu akan jadi tembok pertahanan jiwa kita terhadap rasa self-pity, depresi, keraguan dan juga galau ^^.

Hal-hal di atas, yang membuat aku menemukan Sukacita sebagai gaya hidup.
Sebagaimana yang sudah aku tulis di awal tadi,, gaya hidup adalah pola tingkah laku kehidupan manusia sehari-hari.

Menjadikan sukacita (karena Tuhan) sebagai gaya hidup adalah hal yang baik menurut aku. 
Siapa yang gak mau setiap hari hidupnya penuh sukacita, ya kan? 
Aku pikir dengan menjadikan sukacita sebagai gaya hidup maka kita akan diberikan kekuatan dari Tuhan, jika ada masalah atau pencobaan yang datang.

Kemudian, itu akan berdampak dalam hubungan kita dengan Tuhan. 
Kalo ingin senantiasa bersukacita, kita gak boleh jauh-jauh dari sumber sukacita itu sendiri, yaitu Tuhan Yesus. Makin rajin baca Firman, berdoa, terlibat dalam persekutuan, juga Jadi, yang jelas ini akan memperdalam hubungan kita dengan Tuhan. Semakin dekat, semakin intim dan semakin mengenal Tuhan Yesus. Ah, how amazing is that???

Kemudian, kalo dari dalam diri kita ini sudah diliputi dengan sukacita, itu pun akan berdampak pada penampilan luar kita. 

Sukacita membuat wajah kita berseri-seri, lebih banyak senyum dan lebih sehat tentunya!
Ofc, lebih cantik,kkkk...
Pekerjaan yang berat pun akan terasa ringan jika dikerjakan dengan hati yang bersukacita ^^.

Terus, lebih sering memuji Tuhan. Entah dengan nyanyian, puisi, tulisan, dan lain-lain...
Wow,, hati yang penuh sukacita akan membuat kita itu lebih mudah memuji Tuhan,, dan hati Tuhan juga senang kalau Ia dipuji dan dimuliakan.

Yuk, mari jadikan sukacita sebagai gaya hidup kita. 
Pancarkan sukacita karena Tuhan lewat kata-kata, sikap dan perbuatan kita sehari-hari.
Jadi berkat bagi orang lain dan memuliakan Tuhan.




Regards,

Farha 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar