Jumat, 26 Juli 2013

Wisdom in Book "Youth Adagio"

Wisdom In Book Youth Adagio

Judul Buku                          : Youth Adagio
Pengarang                          : Alberta Natasia Adji
Kategori Buku                    : Novel
Penerbit                              : Lingua Kata, 2013

Saya membaca buku ini di bulan Mei 2013. Alasan saya membeli novel ini sebenarnya karena judulnya. Ada kata Adagio, yang merupakan salah satu istilah music, yang saya sukai.
Novel ini bercerita tentang seorang siswi SMA jurusan music yang bernama Kana Hyuuga. Ia sangat menyukai piano dan bercita-cita untuk menjadi pianis professional juga belajar di Conservatoire Paris. Hana sangat mencintai bermain piano dan berbakat, namun sayangnya ia selalu saja gagal ketika mengikuti kompetisi piano. Walaupun ia sudah berusaha semaksimal mungkin, tetap saja ia gagal. Hal itu diperburuk dengan salah satu teman sekolahnya, Hino. Hino yang sangat berbakat bermain piano dan selalu menjuarai kompetisi piano, selalu mengejek dan merendahkan Hana. Hal itu membuat Hana selalu merasa tertekan baik di sekolah maupun saat mengikuti kompetisi piano.
Hana kemudian bertemu dengan Nagano, pegawai toko kue di samping rumahnya. Nagano punya mimpi untuk menjadi patiserrie terkenal. Mereka berdua akhirnya dekat, namun Hana kembali mengalami kekecewaan karena Nagano ternyata punya hubungan masa lalu dengan Hino.
Hana merasa kalah dan tidak cukup baik. Ia merasa hidupnya selalu diperhadapkan pada hal yang sulit. Sekuat dan sekeras apapun ia berusaha, ia tetap saja tidak gagal. Keinginannya yang kuat untuk menggapai mimpinya membuatnya menjadi gadis yang mudah emosi, cepat tawar hati dan kadang tidak bersyukur dengan apa yang ia miliki saat ini, seperti orangtua dan sahabat juga guru yang perhatian dan sayang padanya. Fokus hidupnya hanyalah pada pencapaian mimpinya, sehingga ketika segala sesuatu tidak berjalan seperti yang ia inginkan, ia menjadi sangat sedih dan mencap diri sendiri sebagai orang yang gagal.

Hikmat yang aku dapat setelah membaca buku ini :
1.       Mengucap syukur
Saking fokusnya untuk mewujudkan mimpinya, Hana nyaris tidak melihat perhatian juga cinta dari orang tua, sahabat, dan gurunya. Ia juga nyaris kehilangan passion-nya untuk bermain piano, karena ia terlalu focus untuk memenangkan kompetisi. Ia tidak mengucap syukur dengan apa yang ia miliki sekarang.
Saya juga punya mimpi dan keinginan untuk saya capai, dan terkadang saya kecewa dan langsung down ketika apa yang saya impikan itu atau yang saya inginkan tidak bisa saya dapatkan, atau jalan menuju mimpi itu terlampau sulit buat saya. Tapi, saya jadi belajar bahwa mengejar dan mengusahakan mimpi kita itu baik, tapi jangan terlalu focus pada hal tersebut sehingga kita lupa dengan apa yang kita miliki saat ini.
Kita lupa ada begitu banyak berkat Tuhan yang kita miliki sampai saat ini, dan lupa mengucap syukur untuk itu. Saat kita gagal atau menghadapi tantangan yang sulit, kita menjadi kecewa dan down, kita merasa kita tidak punya apa-apa, padahal kita sebenarnya banyak hal yang berharga. Pandangan mata kita yang terlalu focus pada sesuatu yang kita belum capai, membuat kita tidak melihat banyak hal berharga yang sebenarnya telah kita miliki dan kita lupa mengucap syukur kepada Tuhan.

2.       Pencapaian yang lambat bukan berarti kalah atau gagal.
Saya menggarisbawahi sebuah percakapan antara Hana dan mendiang neneknya waktu ia masih kecil.
Nenek Hana berkata,
“ Mimpi tidak bisa diraih dalam waktu semalam seperti mimpi yang layaknya kau dapat saat tidur di malam hari. Karenanya, kau harus melewati proses kerja keras dan pengorbanan waktu yang lama untuk meraihnya. Bukankah itu mirip dengan istilah tempo dalam musik yang disebut adagio?

Mimpi tidak bisa tercapai dalam semalam. Ada proses yang di dalamnya berisi kerja keras dan pengorbanan waktu yang lama untuk meraihnya. Selain kerja keras, tantangan juga ada masa-masa penantian yang berat ketika kita ingin meraih mimpi. Orang sering tidak sabar, ingin meraih keinginannya dengan cepat, terburu-buru, tidak sabaran, sehingga sering putus asa bahkan mengambil jalan pintas untuk mendapatkannya walaupun itu bukan jalan yang benar.

Saya belajar bahwa pencapaian mimpi yang lambat bukan berarti kita gagal atau kalah. Justru dengan proses yang terasa ‘lambat’ itulah pribadi kita makin dibentuk dan ditempa. Justru dengan banyaknya tantangan yang me’lambat’kan kita, kita justru menjadi lebih kuat dan bijak. Justru dengan berjalan lebih ‘lambat’ kita mengamati sesuatu dengan lebih jeli dan teliti, memaknai sesuatu lebih baik, melihat hal-hal berharga yang akan terlewat dari pandangan kita ketika kita berjalan tergesa-gesa atau bahkan berlari.

3.       Segala sesuatu indah pada waktunya
Dalam pengantar novelnya, Alberta sempat menulis :
Adagio, novel ini mengajarkan pula bahwa dalam proses dan perjalanan panjang kita dalam meraih impian, bukan berarti kita harus terus berfokus pada tujuan dan memanfaatkan orang-orang di sekeliling kita sebagai batu pijakan. Justru sebaliknya, segala macam hal yang terjadi seiring perjalanan hidup kita dan setiap orang yang kita jumpai, meski sesingkat apapun, bukanlah sesuatu yang dapat dilupakan begitu saja.

Dan kembali saya mengutip perkataan nenek Hana padanya :

“ Adagio berarti perlahan-lahan atau lambat…. Bukankah akan lebih baik bila seseorang tidak sedemikian berambisi atau terburu-buru untuk mencapai impian dan tujuannya, melainkan menjalani dan menikmati seluruh proses kerja kerasnya dengan perlahan-lahan namun pasti?”

“ Ibarat hidup adalah sebuah sonata panjang yang tiap bagiannya memiliki not dan tanda tempo yang berlainan. Kita tak perlu begitu tergesa untuk menuju klimaks dari sonata itu, sebab asal kita memainkan sesuai dengan penghayatan, bagaimanapun kita akan menuju klimaks dengan kokoh. Sama halnya dengan kehidupan, justru dengan menjalaninya demikian, kau akan mendapat banyak sekali hal berharga dari sekitarmu, bahkan tidak kau sangka-sangka.”

Proses menggapai mimpi tidak mudah dan tidak singkat. Daripada merasa kecewa, sedih dan mulai menaruh self-pity pada diri sendiri, kenapa tidak menikmati perjalanan itu sesuai dengan ‘tempo’nya? Saya belajar untuk bersabar dan menanti dengan tenang penggenapan janji Tuhan dalam hidup saya, sambil berjalan mengikuti tempo yang telah Tuhan berikan. Setiap not-not dalam sonata hidup sudah diatur oleh Tuhan, dan kalau kita menjalaninya sesuai dengan arahan dari-Nya, tidak terlalu cepat dan tidak terlalu lambat, hidup kita akan seperti sonata indah. Lagipula, klimaks yang terlalu awal atau terlalu cepat, tidak enak didengar di telinga dan menjadikan sonata yang indah itu rusak meskipun not yang dimainkan tepat.
Segala sesuatu indah pada waktunya ( Pengkhotbah 3:11)…sungguh tepat sekali ^^.
Aplikasi yang aku lakukan setelah membaca buku ini :
1.       Saya belajar untuk mengucap syukur atas apa yang telah Tuhan berikan kepada saya di masa sekarang. Saya masih mengejar mimpi-mimpi saya, tapi saya tidak menjadikan mimpi-mimpi saya di masa depan menjadi satu-satunya focus dalam hidup saya. Saya sadar kalau saya memiliki banyak hal untuk dikerjakan di masa sekarang, contohnya quality time dengan keluarga saya dan pelayanan di gereja. Saya juga bersyukur untuk masa-masa sulit yang Tuhan izinkan terjadi dalam hidup saya sebagai bagian dari proses pengejaran mimpi-mimpi saya. Saya bersyukur karena lewat momen-momen berat dan sulit itulah saya menjadi lebih kuat, lebih bijak dan makin banyak pelajaran berharga yang saya dapat.

2.       Saya pernah punya rasa iri terhadap teman-teman saya yang hidupnya kelihatan sangat mudah dibandingkan dengan saya. Mereka dengan mudahnya mendapat pekerjaan tetap, dengan mudahnya melanjutkan sekolah, dan masih banyak hal lain lagi yang dengan mudah mereka dapatkan. Berbeda dengan saya yang harus dengan perjuangan dan waktu yang cukup lama untuk mendapatkannya disertai dengan beberapa kali kegagalan. Tapi saya tahu kalau rasa iri hati itu tidak berkenan di hadapan Tuhan dan saya berusaha menghilangkannya dari dalam hati saya. Saya belajar untuk beriman akan janji yang Tuhan berikan untuk saya. Saya punya pandangan baru dalam hidup bahwa segala sesuatu yang berjalan lebih lambat bukan berarti kegagalan atau kekalahan. Jika Tuhan menginginkan hidup saya berjalan dalam tempo Adagio, maka saya mau berjalan dalam tempo seperti itu.
“ dalam tinggal tenang dan percaya terletak kekuatanmu,” Yeremia 31:11

3.       Saya mengambil keputusan untuk menantikan janji Tuhan dengan lebih bersabar lagi. Saya orang yang kurang bisa bersabar, dan gampang tawar hati juga kecil hati. Setiap kali sesuatu yang saya harapkan tidak terjadi, saya jadi lebih sabar dan tenang, tahu bahwa Tuhan pegang kontrol atas itu semua.

Hal-hal inilah yang bisa saya bagikan dari buku Youth Adagio yang saya baca. Semoga bisa memberkati teman-teman semua,

God bless,,

Senin, 22 Juli 2013

Fainting in Prayer?

Seeing then that we have a great high Priest… Jesus, the Son of God, let us hold fast our profession. Let us come boldly unto the throne of grace, that we may obtain mercy, and find grace to help in time of need (Hebrews 4:14-16).
 
Our great Helper in prayer is the Lord Jesus Christ, our Advocate with the Father, our Great High Priest, whose chief ministry for us these centuries has been intercession and prayer. He it is who takes our imperfect petitions from our hands, cleanses them from their defects, corrects their faults, and then claims their answer from His Father on His own account and through His all-atoning merits and righteousness.

Brother, are you fainting in prayer? Look up. Your blessed Advocate has already claimed your answer, and you would grieve and disappoint Him if you were to give up the conflict in the very moment when victory is on its way to meet you. He has gone in for you into the inner chamber, and already holds up your name upon the palms of His hands; and the messenger, which is to bring you your blessing, is now on his way, and the Spirit is only waiting your trust to whisper in your heart the echo of the answer from the throne, "It is done."
--A. B. Simpson

The Spirit has much to do with acceptable prayer, and His work in prayer is too much neglected. He enlightens the mind to see its wants, softens the heart to feel them, quickens our desires after suitable supplies, gives clear views of God's power, wisdom, and grace to relieve us, and stirs up that confidence in His truth which excludes all wavering.

Prayer is, therefore, a wonderful thing. In every acceptable prayer the whole Trinity is concerned.
--J. Angell James

Tulisan ini aku ambil dari Streams in the Desert devotional.

Semoga menguatkan setiap kita yang sedang bergumul dalam doa untuk sesuatu. 

Semoga yang sedang mengalami 'kelelahan' dalam berdoa, dapat kembali bersemangat dan makin tekun berdoa.

Ini jadi reminder juga buat aku... Suatu hari nanti, kalau aku juga mengalami fainting in prayer, aku baca lagi tulisan ini dan kembali semangat.


Mari berjuang sampai garis finish!

God bless,

Wisdom in Book Passion and Purity




Judul Buku          : Passion and Purity ( Hasrat dan Kekudusan) 

Pengarang           : Elisabeth Elliot

Penerbit               : Pionir Jaya, Juli 2010



Saya membaca buku ini pada awal tahun 2012. Jujur saja, saya membeli buku ini karena penulisnya, Elisabeth Elliot, saya penasaran love story antara beliau dan suaminya, Jim Elliot. Pada awalnya saya pikir akan menjumpai tulisan biografi atau semacamnya, tapi saat membacanya kemudian saya tertegun karena Elisabeth Elliot bukan hanya membagikan kisah cintanya bersama suaminya, Jim Elliot, tapi juga begitu banyak pelajaran yang sangat berharga untuk para wanita Kristen.

Dalam buku ini, Elisabeth Elliot membagikan pengalamannya ketika menjadi seorang wanita single yang ingin memuliakan Allah melalui hidupnya dengan menjaga kekudusan, tapi juga ia harus mengendalikan hasrat dan keinginannya sebagai seorang wanita. Melalui penggalan surat, buku harian, petikan lagu dan puisi, Elisabeth Elliot menceritakan tentang godaan, tantangan, kemenangan dan pengorbanan dua orang muda yang memiliki komitmen untuk memuliakan Allah melebihi cinta mereka.

Bahasanya begitu jujur, dan meskipun ini kisah cinta yang terjadi  bertahun-tahun yang lalu, cerita yang dituliskan di buku ini, saya rasa relevan dengan keadaan sekarang ini. Saat membaca buku ini, saya merasa mendapatkan nasehat-nasehat dari seorang ibu kepada puterinya ^^.

Rhema atau hikmat yang saya dapatkan dari buku ini, yaitu
Pertama, pengendalian diri. Saya belajar untuk mulai mengendalikan diri terhadap keinginan daging. Hasrat manusia adalah sebuah medan pertempuran, dan Tuhan ingin kita belajar menggunakan senjata kita untuk melawannya, yaitu Firman Tuhan. Banyak anak muda yang ‘kalah’ dalam medan pertempuran ini, karena mereka tidak menggunakan ‘senjata’ mereka. Hasrat disini bukan saja dalam soal seksual, tetapi hasrat terhadap keinginan daging yang tentu saja tidak berkenan kepada Tuhan.

Kedua, mendahulukan Allah di atas segalanya. Baik Jim dan Elisabeth Elliot bergumul dengan rasa cinta mereka, tapi juga panggilan Allah dalam kehidupan keduanya. Mereka selalu bertanya kepada Tuhan, langkah apa yang harus mereka ambil. Elisabeth Elliot sering dilanda kebingungan, tapi ia mencari Allah dalam setiap godaan dan tantangan yang ia hadapi. Mereka memegang komitmen mereka untuk melayani Tuhan, meskipun resikonya adalah mereka harus berpisah. Pelajaran bagi saya untuk menjadikan Allah sebagai prioritas utama dalam kehidupan saya, mencari tahu kehendak-Nya, mengejar panggilan hidup dari-Nya, dan memegang komitmen saya kepada Tuhan dengan teguh.

Ketiga, mengetahui bahwa Tuhan saja cukup. Elisabeth Elliot membagikan pengalamannya saat ia merasa kesepian, kekhawatiran kalau harus membujang, dan sebagainya. Ia menceritakan apa saja yang ia lakukan untuk mengatasi itu semua. Kesimpulannya, ia selalu kembali kepada Allah. Kasih karunia Allah selalu cukup baginya setiap hari. Mengetahui bahwa Tuhan saja sudah cukup, adalah kunci mengatasi semua kegelisahan, ketakutan, kesepian. 

Keempat, menjaga kekudusan hidup. Elisabeth dan Jim Elliot adalah pasangan yang menjaga kekudusan mereka selama menjalin hubungan. Kisah cinta mereka adalah kisah cinta yang ditulis oleh Allah, karena mereka melibatkan Allah dalam setiap langkahnya. Mereka menjadi contoh bagi para kaum single bagaimana menjaga kekudusan hidup selama pacaran. 

Kelima, peran pria dan wanita yang sesuai dengan kehendak Allah dalam sebuah hubungan. Prialah inisiator sebuah hubungan, bukan wanita. Tapi banyak yang kita temui sekarang justru sebaliknya. Wanita bertindak sebagai inisiator, yang mengejar, yang menyatakan, sedangkan pria hanya diam dan menunggu. 

Setelah membaca buku ini, ada beberapa hal yang mulai saya aplikasikan dalam kehidupan saya, yaitu
Mulai menulis jurnal harian. Saya mengikuti contoh Elisabeth Elliot yang menulis jurnal hariannya. Jurnal harian ini bukan berisi perasaan-perasaan, curhatan-curhatan, tapi perjalanan saya bersama Kristus. Jurnal ini bukan hanya berisi pengalaman pribadi, tapi juga perenungan dari firman Tuhan yang saya baca, ayat Alkitab, doa, quote yang menguatkan saya, juga kutipan-kutipan renungan yang saya baca. Sudah lebih dari 1 tahun saya menulis jurnal harian, dan kini sudah  ada 10 buku,hehehe…. Jurnal harian itu sangat membantu saya dalam mengembangkan hubungan pribadi saya dengan Kristus. Saya jadi lebih disiplin untuk membaca Firman Tuhan dan merenungkannya. Dan saat saya menemui keadaan yang sulit, kadang isi jurnal lama saya, bisa membantu mengingatkan saya akan kesetiaan Tuhan dalam hidup saya, sehingga menguatkan saya.

Kemudian, saya belajar untuk mengendalikan hasrat dalam diri saya. Belajar memerangi keinginan daging. Tidak mudah, dan saya masih sering jatuh. Tapi ada langkah-langkah praktis yang saya mulai terapkan untuk melawan hasrat saya, untuk mencegah saya melakukan dosa. Saya menghafal Roma 6:13-14 setiap pagi, dan menyanyikan hymne “Lawanlah Godaan” dalam hati setiap kali mau marah atau tergoda berbuat dosa. 

Kedengarannya aneh, tapi itu terbukti berhasil. Saya juga mengajak teman-teman untuk mengambil langkah-langkah praktis setiap hari untuk berperang melawan hasrat diri kita ^^.

Yeah, inilah yang bisa saya bagikan dari buku Passion and Purity karya Elisabeth Elliot.

Semoga tulisan ini bisa memberkati kita semua.

Tuhan Yesus memberkati ^^

Rabu, 17 Juli 2013

Manasseh and Ephraim :To Forget and Be Fruitful



Pembacaan Alkitab sepanjang minggu di gerejaku terdapat dalam Kejadian 41: 37-57, Yusuf di Mesir sebagai penguasa. Dalam kisah hidup Yusuf di Alkitab, menurut aku perikop ini adalah bagian klimaks J

Setelah mendengar penafsiran mimpinya oleh Yusuf dan ‘presentasi’ tentang gimana mengatasi bencana kelaparan yang akan datang, Firaun mengambil keputusan untuk mengangkat Yusuf menjadi penguasa atas Mesir, orang kedua setelah Firaun sendiri.

Yusuf mungkin tidak pernah menyangka ia yang adalah seorang Ibrani akan menjadi penguasa atas seluruh tanah Mesir! Ia yang beberapa jam yang lalu masih seorang narapidana, kini mengenakan jubah lenan, cincin meterai Firaun dan diarak dengan kereta kencana Firaun.

Tuhan mengubah keadaannya yang terpuruk dalam sekejap!

Yusuf, seorang pemimpi, anak kesayangan ayahnya karena lahir dari isteri yang paling dicintainya juga lahir di masa tua ayahnya Yakub. Seorang yang elok, baik hati maupun parasnya. Yang hanya tahu kemah ayahnya juga padang penggembalaan ternak.

Kemudian dibuang oleh saudara-saudaranya dan dianggap meninggal. Dijual, dibawa ke tanah asing, menjadi budak. Tapi karena sikapnya yang takut akan Tuhan dan setia, ia diberikan kepercayaan atas rumah tuannya. Namun itu tidak bertahan lama ternyata, karena isteri tuannya memfitnahnya, dan ia masuk penjara. Meskipun demikian, ia tidak mengeluh, tetap percaya dan setia sama Tuhannya.

Pernah sekali ia menaruh harap pada manusia, si juru minuman yang diartikan mimpinya, tapi ia harus menanggung kecewa. Ia akhirnya mendapat pelajaran baru yang berharga, “ Jangan menaruh harapan pada manusia, taruh harapanmu pada Tuhan saja,”

Yup, karena Tuhan itu setia. Dia tidak pernah melupakan anak-anak yang dikasihi-Nya. Ia hanya menunggu sampai Yusuf siap, saat waktunya tiba, Ia akan segera bertindak J

Dan Yusuf melihat sendiri bagaimana pekerjaan tangan Tuhan yang luar biasa dalam hidupnya.

Secara pribadi, aku suka sekali perikop ini, dari kemarin dibaca berulang-ulang dan baca beberapa versi lainnya.

Hal yang menarik buat aku adalah nama-nama yang diberikan Yusuf kepada dua orang anaknya, Manasye dan Efraim.

Manasye artinya Allah telah membuat aku lupa sama sekali kepada kesukaranku dan kepada rumah bapaku.
Pas aku baca versi Amplified, ditulis making to forget.

Kesukaran yang dialami Yusuf itu…banyak banget. Menurut aku, jika orang lain mengalami seperti yang Yusuf alami, dibenci dan dibuang saudara-saudaranya, dijual, dijadiin budak, difitnah sampai masuk penjara, plus dilupakan begitu saja oleh orang yang sudah ditolongnya, belum tentu dia bakal lupa.

Meskipun orang itu pada akhirnya sukses, tetap saja dia nggak lupa sama semua orang yang bikin dia menderita. Banyak malah yang ingin balas dendam. Akar pahit kebencian itu begitu merasuk dalam hati, sampai-sampai kita nggak bisa melupakan perbuatan jahat yang sudah orang lain lakukan pada kita.

Tapi, disinilah kita belajar dari teladan Yusuf.

Ia mengampuni juga memilih untuk melupakan.

Ia memilih melupakan perbuatan jahat kakak-kakaknya, perbuatan jahat isteri Potifar, kesulitannya saat dijual dan menjadi budak, masuk penjara, dan dilupakan sama orang yang ditolongnya.

Dan siapa yang membuat Yusuf bisa dan mampu untuk mengampuni dan melupakan segala kesukarannya?

Ini jelas dalam nama Manasye…. Allah telah membuat aku lupa sama sekali kepada kesukaranku dan kepada rumah bapaku.
God made me forget all my hardships and my parental home (MSG)
Allah yang membuat hati Yusuf menjadi lembut, sehingga ia mampu mengampuni dan melupakan segala kesukaran yang ia telah alami. Kalau kita baca dalam pasal-pasal selanjutnya, sangat jelas kalau Yusuf benar-benar sudah FORGIVE AND FORGET semua kejahatan kakak-kakaknya, malah mengasihi mereka.

Anugerah dan berkat dari Allah kepadanya, membuat Yusuf mampu melupakan segala kesukaran yang ia alami. Baginya, kesukaran-kesukaran itu tidak sebanding dengan apa yang diberikan Allah selama ini kepadanya J

Sedangkan Efraim, Allah telah membuat aku mendapat anak dalam negeri kesengsaraanku
Kalo versi Amplified to be fruitful; God has caused me to be fruitful in the land of my affliction dan dalam The Message, ditulis Double Prosperity.

Arti nama yang indah. Menurut aku, nama ini menggambarkan kebaikan Tuhan dalam hidup Yusuf.

Satu lagi yang bisa kita teladani dari Yusuf adalah…. INTEGRITASnya.

Mo di rumah ayahnya, di padang belantara, di rumah Potifar, dikamar berduaan sama isteri Potifar, di dalam penjara, di istana Firaun, Yusuf tetap sama…. 
Yusuf yang cinta Tuhan, Yusuf yang takut Tuhan, Yusuf yang setia, jujur, baik, rajin,dll.
Dimanapun dan kapanpun, Yusuf tetap jadi anak Tuhan, tetap bawa Tuhan sebagai prioritas nomor satu dalam kehidupannya, apapun keadaannya.

Yusuf berada di tempat yang benar-benar nggak nyaman buat dia. Mesir, yang pastinya bukan tempat favorit Yusuf, soalnya dia di Mesir bukan karena dia jalan-jalan :p, tapi karena dia dijual ke tanah ini, dijadikan budak dan di zaman itu, budak itu bukan manusia, nyaris gak ada hak asasinya. 

Di Mesir ia juga masuk penjara karena difitnah sama tante-tante girang, di penjara ketemu sama juru minuman raja yang lupa sama jasanya dia. Pokoknya, Mesir pastilah bukan tempat yang bakal dipilih oleh Yusuf buat tinggal, ia ingin pulang saja ke kemah ayahnya Yakub.

Mesir itu bagaikan dapur kesengsaraan bagi Yusuf. 
Yusuf tidak menemukan harapan disana, apalagi punya pikiran kalau mimpinya bakal terwujud di negeri itu.
Tapi, justru di Mesir, Tuhan membentuk Yusuf, mempersiapkan Yusuf  menjadi seorang pemimpin yang besar. 
Tuhan itu memang luar biasa, Ia memakai tanah kesengsaraan menjadi tanah dimana Yusuf bisa bertumbuh dan menghasilkan buah.
Ketika anak-anaknya lahir di tanah Mesir, Yusuf menyaksikan perbuatan tangan Tuhan dalam hidupnya lewat nama kedua anaknya.

Hebat ya, si Yusuf ini, nggak pernah sekalipun ia berubah setia terhadap Tuhan. Hal inilah yang membuat Tuhan mengaruniakan begitu banyak berkat dalam hidupnya.

Aku belajar dua hal dari kisah Yusuf hari ini.

Pertama, belajar mengampuni dan melupakan. Aku sadar, sometimes aku sudah memaafkan kesalahan orang lain, tapi sulit untuk lupa, dan akhirnya itu mempengaruhi hubungan antara aku dengan orang tersebut. Aku mau belajar untuk melupakan dan mengasihi. Asli, susah banget. Tapi aku percaya kalau aku berserah sama Tuhan, punya hati yang mau diajar, pasti bisa ^^.

Kedua, be fruitful in sorrow times.
Aku belajar untuk tidak menyerah dalam masa-masa sukar, malah lebih produktif. Masa sukar bisa jadi tanah subur untuk kita berbuah. Masa sukar bisa jadi cara Tuhan untuk membuat kita makin dekat dengan-Nya. Masa sukar bisa jadi dapur peleburan sifat-sifat buruk kita. Aku ngalamin sendiri hal ini pada akhir tahun 2010 lalu. Masa sukar jangan dijadikan tempat buat kita menumbuhkan buah self-pity dan menyalahkan Tuhan, tapi jadikan masa sukar untuk bertumbuh dan berbuah. Jadi berkat buat diri sendiri dan orang lain.

God bless you, ^^



Selasa, 16 Juli 2013

Happy Thanksgiving, South Minahasa



Perayaan Thanksgiving bukan hanya ada di Amerika Serikat, di daerah saya juga ada. Kami biasanya menyebutnya dengan " Pengucapan Syukur", atau disebut "Pengucapan" saja. Setahu saya di Sulawesi Utara, daerah Minahasa, kota Tomohon dan sebagian wilayah Manado juga Bolmong merayakannya. Berbeda dengan US dan Kanada yang kalo Thanksgiving itu jadi libur nasional, hari Pengucapan Syukur ini gak ada libur daerah, dirayakan pas hari Minggu saja, dan tanggalnya berubah-ubah tiap tahun tergantung dari pemerintah mau dilaksanakan tanggal berapa. Dan tiap daerah beda juga tanggalnya. 

Contohnya nih, kota Tomohon dan sebagian daerah Minahasa Utara merayakannya tanggal 7 Juli, sedangkan daerah Minahasa Selatan merayakannya hari Minggu kemarin, tanggal 14 Juli. Minggu depan, giliran kabupaten Minahasa yang merayakannya, termasuk saya karena tempat tinggal saya masuk wilayah Kabupaten Minahasa :)

Alasan masyarakat Sulawesi Utara merayakan Pengucapan Syukur, kira-kira sama dengan masyarakat di US dan Kanada merayakannya. Mengucap syukur karena hasil panen. Meskipun gak semua orang itu petani, tapi kami tetap merayakannya, karena sudah jadi tradisi dan budaya di Sulut. 

Kata Mama aku, dulunya kalau hari Pengucapan Syukur itu, orang-orang bawa hasil panen pertamanya ke gereja. Jadi di depan gereja itu ada padi, jagung (milu, kalo kata orang sini), ubi (ubi jalar, ubi kayu, ubi bete), pisang, kelapa, pokoknya hasil pertanian deh. Semuanya itu dikasih buat Tuhan, dan buat para pendeta. 

Kebiasaan ini memang sudah jarang ditemui lagi, karena zaman sekarang orang-orang lebih suka memberi persembahan dalam bentuk uang di gereja. Tapi masih ada beberapa desa di Minahasa, yang masih membawa hasil bumi sebagai persembahannya ke gereja ^^.
Aku share fotonya nih (dari Google wkwkwk) :

( ini di Tomohon kalo gak salah... hasil buminya di bawa ke gereja)

Hari Minggu kemarin, daerah Minahasa Selatan merayakan hari Pengucapan Syukur. Karena Mama saya orang MinSel ( singkatan Minahasa Selatan ;p) yah, kami juga turut merayakannya :). Kalau Pengucapan Syukur kami biasanya pulang kampung, ke rumah opa dan saudara-saudara. Hari Pengucapan Syukur memang selalu jadi ajang pulang kampung buat masyarakat Sulut, ketemu dengan keluarga, masuk gereja bareng-bareng, bikin dodol dan nasi jaha  ( nasi dengan bumbu jahe yang dibakar dalam bambu) rame-rame, dan makan masakan Minahasa yang suanggggaaaat enak pake bangetttt #lebeh ;p, hahaha... 

Tinoransak, kawok, paniki, RW, babi leilem, brenebon, sayur pangi, kue biji-biji, dan masih banyak lagi #jadilapar ahahhaha...

( Dodol dibungkus dengan daun woka. Ini makanan khas kalo Pengucapan)

( Nasi jaha -jahe-)

( Nasi jaha yang siap dilahappp :p)
Taken frim reginarobot.wordpress.com

Bagi masyarakat Sulut, selain hari Natal, hari Pengucapan Syukur juga menjadi salah satu hari yang ramai. Dijamin pasti macet dan supermarket pasti penuh jelang hari Pengucapan Syukur.

Oh ya, kalau di hari Pengucapan Syukur, kita bisa bebas pesiar ke rumah siapapun, lho. Jadi biar kagak kenal, masuk aja, pasti tuan rumahnya menerima,hehehe dikasih makan dan minum malah kadang dibungkusin dodol sama nasi jaha juga.

Tradisi Pengucapan Syukur di Sulawesi Utara memang sangat positif, karena mempererat persaudaraan dan banyak lagi. Tapi, ada juga hal negatif yang dijumpai kalau hari Pengucapan Syukur.

1.     Bukannya ber-pengucapan syukur, tapi ber-pengecapan syukur
Ada semacam istilah nih, kalo orang Manado/Minahasa itu “biar kalah nasi, tapi jangan kalah aksi”. Maksudnya ada kecenderungan di daerah aku kalau hari Pengucapan Syukur itu harus dengan makanan dan minuman yang berlimpah, bukan hanya pas Pengucapan sih, tapi hari Natal ataupun perayaan yang lain. Meskipun harus ngutang sana-sini, pokoknya harus berpesta pas hari Pengucapan. Ada semacam persepsi kalo orang Minahasa itu suka pamer, gak mau kalah, gengsian. Ini yang bikin aku cukup sedih dan struggle dengan daerah aku.
Hari yang seharusnya kita mengucap syukur kepada Tuhan, bukan hanya karena materi yang berlimpah tapi juga berkat lainnya seperti kesehatan dan perlindungan Tuhan, tapi disalahartikan sebagai hari untuk berpesta pora, bersenang-senang. Bukan untuk mengucap syukur, tapi sekedar untuk mengecap makanan dan minuman.

2.     Banyak Marta-marta baru yang bermunculan
Hehehe…. Ini hal yang sering aku temui, walaupun aku sama sekali nggak bangga. Banyak ibu-ibu yang pas hari Pengucapan Syukur terlalu focus untuk menyiapkan makanan dan minuman buat para tamunya, sibuk belanja, begadang bikin dodol dan bakar nasi jaha, sibuk masak sampai lupa masuk gereja ataupun terlambat masuk gereja.
Ini seperti sikap Marta, saudara Maria. Makanya aku bilang banyak Marta-marta baru yang bermunculan. Hal ini pun sering dibahas dalam khotbah di gereja. Fokus saat Pengucapan Syukur adalah Tuhan, sang pemberi Berkat, tapi sering focus kita teralih pada kepuasan orang lain, bukannya memberi diri beribadah pada Tuhan.

3.     Many people drunk when Thanksgiving Day
Hampir setiap rumah menyediakan minuman keras saat hari Pengucapan Syukur. Bahkan rumah para pejabat dan pelayan Tuhan. And also I can say my uncle house, too L . Sungguh ironis, karena slogan Polda Sulut sekarang ini adalah ‘BRENTI JO BAGATE’ ( Berhentilah minum minuman keras) dan daerah Minahasa disebut daerah 1000 Gereja. Dan minum minuman keras juga mabuk menjadi fenomena biasa bahkan terkesan wajar. Bukan hanya bapak-bapak atau cowok-cowok, tapi sampai ibu-ibu!
Hari yang seharusnya menjadi hari dimana umat Tuhan menyembah-Nya dalam kekudusan dan hati yang mengucap syukur, justru dinodai dengan dosa minuman keras.
Tau tidak, tingkat kejahatan di daerah Sulut banyak terjadi karena dipicu oleh minuman keras?
Ini adalah salah satu hal yang aku gumuli untuk daerah aku.

Ini pendapat aku sih, tapi perayaan Pengucapan Syukur sempat dilarang juga lho oleh pemerintah beberapa tahun lalu, yah mungkin karena alasan-alasan yang aku kemukakan di atas, khususnya poin 1 dan 3 ^^. Tapi sekarang perayaan Pengucapan Syukur sudah dihidupkan kembali oleh pemerintah.

Secara pribadi, aku sangat menyukai tradisi Pengucapan Syukur di daerah aku. Aku bangga jadi orang Minahasa, yang dikenal dengan sikap toleransi dan tenggang rasa yang tinggi. Aku bangga tinggal di Sulawesi Utara dimana kebebasan beragama itu dijunjung tinggi. Aku bangga jadi orang Minahasa karena masih menggunakan logat khas daerah kami, budaya dan tradisi yang dipegang seperti Mapalus, makanan kulinernya luar biasa enak dan dipuji-puji. Pokoknya, aku bersyukur sekali karena dilahirkan di sini ^^.
                                                                                   
Tapi, sebagai warga Sulut, ada banyak hal yang perlu digumuli di daerah aku. Minuman keras, prostitusi, trafficking, sex bebas, bahkan ‘mati’nya gereja. Aku tidak mau menghakimi, tapi itulah fenomena yang aku lihat selama ini, dan aku punya kerinduan agar anak-anak Tuhan di Sulut bersatu hati untuk menggumuli daerah kami.

Aku punya kerinduan kalau tradisi Pengucapan Syukur ini bakal benar-benar dipahami oleh warga Sulut sebagai hari dimana kita merendahkan diri di hadapan Tuhan dan mengucap syukur buat setiap berkat yang Tuhan anugerahkan dalam kehidupan mereka. Bukan lagi ajang pamer, ajang hura-hura, ajang untuk meng-halal-kan perilaku mabuk-mabukkan.


Happy Thanksgiving Day, my beloved South Minahasa ^^





Senin, 01 Juli 2013

Avalon - I Don't Want To Go

I'm a big fans of Avalon.
Yeay! #apasih

Aku suka banget lagu-lagu mereka, kata-katanya sangat bagus, indah, dan menyentuh U.U.
Banyak lagu mereka yang menguatkan aku ^^. 
Selain itu kualitas vokal para anggotanya juga tidak diragukan lagi. Harmonisasinya luar biasa ^^. Kualitas musiknya juga patut diacungi jempol.
Banyak lagu Avalon yang jadi favorit aku, such as Everything To Me, Another Time another place, dan I don't want to go.

Lagu I Don't Want To Go sendiri sempat membuat aku nangis saat pertama kali mendengarnya.
Liriknya dalam dan menancap di hati aku #lebeh. Bukan apa-apa sih, soalnya ini pas banget dengan komitmen aku untuk terus ikut Tuhan, kemanapun Tuhan mau bawa aku. 
Tuhan benar-benar mengubah hidup aku saat aku mengenal-Nya. 
Tuhan menghidupkan sebuah hasrat, sebuah api dalam diri aku untuk melayani-Nya. 

Kemarin, aku sempat struggle soal My will and His will in my life. Entah kenapa, aku dilanda kebingungan lagi, diperhadapkan pada dua pilihan. Nah, lagu ini mengingatkan aku kembali soal komitmen aku sama Tuhan. Aku jadi sadar kalau pilihan apapun yang nantinya aku pilih, jalan apapun yang nantinya aku pilih untuk jalani, semuanya gak bakal ada artinya kalau itu bukan dari Tuhan.
Dan buat apa memilih jalan dimana ga ada Tuhan disitu?

Menurut aku, lagu ini liriknya sangat radikal. Tapi bukankah yang namanya ikut Tuhan itu harus radikal ya?
Tidak boleh setengah-setengah. 


You changed my world
When You came to me
You drove a passion
In my soul down deep
Lord, to follow You in everything

I don't want to go somewhere
If I know that You're not there
'Cause I know that me without You is a lie
And I don't want to walk that road
Be a million miles from home
'Cause my heart needs to be where You are
So I don't want to go

So come whatever
I'll stick with You
I'll walk, You'll lead me
Call me crazy or a fool
For forever I promise you that...

repeat chorus

Without Your touch
Without Your love
Filling me like an ocean
For Your grace is enough
Enough for me
To never want to go somewhere
If I know that You're not there




Imagine me Without You

Seperti apa sih hidup kita tanpa Tuhan?
Nothing... Bener-bener nothing.
Kosong...hampa... pokoknya saat aku mencoba membayangkan hidup tanpa Tuhan itu >.<.... pastilah sangat,sangat berat. 
Tidak mungkin kita bisa hidup tanpa-Nya


Salah satu lagu yang mungkin bisa menggambarkan bagaimana hidup tanpa Tuhan itu (menurut aku, yah) lagu Jaci Velazques yang judulnya "Imagine Me Without You". 

Secara pribadi, ini lagu favorit aku dan masuk playlist "bed time songs" hehehe....
Juga jadi ringtone aku di hape.

As long as stars shine down from heaven
And the rivers run into the sea
Til the end of time forever
You’re the only love I’ll need

In my life you’re all that matters
In my eyes the only truth I see
When my hopes and dreams have shattered
You’re the one that’s there for me

When I found you I was blessed
And I will never leave you, I need you

Chorus:
Imagine me without you
I’d be lost and so confused
I wouldn’t last a day, I’d be afraid
Without you there to see me through
Imagine me without you
Lord, you know it’s just impossible
Because of you, it’s all brand new
My life is now worthwhile
I can’t imagine me without you

When you caught me I was falling
You’re love lifted me back on my feet
It was like you heard me calling
And you rush to set me free

When I found you I was blessed
And I will never leave you, I need you

Chorus
When I found you I was blessed
And I will never leave you, I need you oh

Chorus

I can’t imagine me without you


Psalm 63:3 
"Because your love is better than life,my lips will glorify you. "