Jumat, 25 Januari 2013

Farmasis bercerita....

Hai, hai....
Annyeonghaseyooo #bow90degrees..


Kali ini saya mau nulis yang berkaitan dengan bidang yang saya tekuni, yaitu farmasi.



Saya lulusan diploma III Farmasi dan profesinya disebut Asisten Apoteker. 

Setelah 3 tahun kuliah yang menguras otak karena susyaahnya minta ampun, lumayan menguras uang juga (tapi kayaknya sekarang dimana-mana pendidikan itu mahal), saya benar-benar lega karena bisa lulus dengan nilai yang baik pula ^^.


Sebelum kerja di tempat kerja aku sekarang, aku pernah kerja part-time di apotek kecil, jadi double job, pagi di laboratorium, sore di apotek. Tapi sekarang sudah berhenti karena aku rasa aku nggak sanggup kerja dari pagi sampe malam tiap hari, dan kerja part time di apotek itu, walaupun gajinya lumayan, tapi aku kehilangan waktu untuk pelayanan dan keluarga.



Pengalaman aku kerja di sarana kesehatan publik memang singkat, tapi cukup banyak hal berharga, pelajaran dan pengalaman yang aku dapat.



Menjadi seorang farmasis itu.. menurut pengalaman aku yah (catet, menurut pengalaman aku,loh)... nggak mudah, hehehe...



Pertama, persepsi kebanyakan orang ketika tahu kalau aku lulusan Farmasi adalah bahwa aku tahu semuanya tentang obat.

Sehingga, ketika mereka merasa sakit atau ada yang kurang beres dengan tubuhnya, mereka langsung nanya ke aku apa obatnya.
Memang kewajiban seorang farmasis adalah memberitahu informasi obat kepada orang lain, juga WAJIB lah tahu segala macam jenis obat. Apalagi dengan adanya swamedikasi atau pengobatan sendiri, peran farmasis sangat penting dalam memberikan informasi mengenai obat-obatan kepada pasien.
Tapi.... bukan berarti seorang farmasis punya hak untuk untuk memutuskan obat apa yang harus diberikan kepada pasien atau orang yang sakit. Itu sangat beresiko , lho...


Karena seorang farmasis mungkin tahu segalanya tentang obat, tapi ia tidak punya kemampuan (secara legal )untuk mendiagnosa penyakit. Kami memang belajar ilmu Farmakologi, tentang penyakit dan obatnya, tapi gak belajar soal diagnosa pasien. Itu adalah bagiannya dokter ^^.

Ketika seseorang mengeluh batuk berdahak, mungkin kita bisa dengan entengnya bilang minum saja obat batuk golongan ekspektoran, tapi... bagaimana kalau ternyata sakit batuk orang tersebut karena infeksi paru-paru, atau ada sebab yang lain? Seharusnya orang tersebut dikasih antibiotik, dan orang awam biasanya kagak peduli mereka batuk gara-gara apa, yang mereka mau adalah batuknya sembuh. Titik.


Untuk mengetahui jenis pengobatan apa yang dibutuhkan pasien, diagnosa itu penting. Penting sekali. Makanya, kalau ada orang yang sakit dan nanya obat apa yang harus diminum, aku berusaha sekali untuk cari tahu riwayat penyakit orang tersebut, nanyain gejala-gejalanya maupun obat yang pernah orang itu konsumsi. Yah, dengan pengetahuan yang aku miliki, aku berusaha mencari tahu obat yang tepat untuk orang itu. 

Dan kalau aku rasa penyakitnya parah, atau aku ragu untuk kasih advice obat apa yang harus diminum, aku langsung bilang untuk konsultasi ke dokter. 


Pelajaran yang aku dapat selama jadi farmasis, walaupun aku baru Asisten Apoteker (doakan agar bisa secepatnya jadi Apoteker, yah...) adalah jangan sok tahu dan seenaknya kasih advice mengenai obat. Kalau memang gak tahu, gak yakin, atau ada keraguan lebih baik jangan! 

Obat itu racun, benda asing yang masuk ke dalam tubuh. Yang membedakan obat dengan racun, adalah dosisnya, kata Paracelsus ^^. 
Jangan ragu untuk baca buku resmi, bertanya pada apoteker, atau pada dokter. 



Kedua, pengetahuan yang bisa jadi dosa.

Selama ini, nggak sedikit teman, bahkan keluarga yang menanyakan pertanyaan yang bikin saya kesal.
Obat untuk aborsi.
Actually, sebenarnya gak ada obat yang diciptakan untuk aborsi. Puji Tuhan, karena gak ada ilmuwan maupun ahli farmasi yang menciptakan obat kayak gitu.
Tapi, ada obat-obatan yang kontra indikasi-nya pada ibu hamil. Kontra indikasi adalah keadaan dimana obat tersebut tidak boleh diberikan, karena bisa berbahaya bagi orang yang meminumnya.
Jadi, sebetulnya obat-obatan yang biasa dipakai orang untuk aborsi, adalah obat-obatan yang memiliki kontra indikasi terhadap ibu hamil, yaitu keguguran.
So... ini adalah penyalahgunaan obat. Sama kayak narkoba.


Tapi, suatu kali teman dekatku nanya soal itu, dan karena sambil nangis-nangis, akhirnya aku kasih tahu. Dan jujur saja, aku sangat menyesal, dan minta ampun ke Tuhan. Sejak saat itu, aku nggak pernah mau kasih tahu orang. Sekalipun kasihan, sekalipun mereka itu anggota keluarga aku...



Oh ya, yang sering bikin aku miris sekaligus gemas, karena dari sekian orang yang nanya ke aku soal begituan, sebagian besar adalah cowok. Biasanya sih, sang cewek mau pertahanin janinnya, tapi cowoknya kagak mau tanggung jawab, jadi dipaksa aborsi. 

Benar-benar kesal deh, kalau kayak gitu. 


Tapi ada hal lain yang bikin aku marah.

Ketika ada orang, yang tahu tentang obat, menggunakan pengetahuannya itu demi uang.
Selama ini aku memang belum nemuin seorang lulusan farmasi yang jual obat-obat yang bisa bikin aborsi dengan harga yang sangat tinggi, tapi ada apotek-apotek tertentu yang pemiliknya atau pegawainya (bukan farmasis) yang tahu soal ini, menjual obat-obatan tersebut dengan harga yang sangat tinggi. Bukan main-main,1 tablet bisa dijual 100 ribu!


Menurut aku, disinilah peran takut akan Tuhan. Benarlah kalau Salomo bilang, permulaan pengetahuan adalah takut akan Tuhan (Amsal 1:7). Kalau kita nggak takut akan Tuhan, maka pengetahuan yang kita punya bisa kita salah gunakan.



Ketiga,tingginya tingkat self-medication atau Pengobatan sendiri.



Sebenarnya, self-medication atau Swamedikasi atau pengobatan sendiri ini tidak ilegal, malah ada dasar hukumnya yaituPermenkes No.919/MENKES/PER/X/1993

Secara sederhana, swamedikasi itu adalah upaya pengobatan dimana pasien mengobati dirinya sendiri tanpa pengawasan dari dokter.Inilah sebabnya kita dengan mudah bisa membeli obat-obatan tertentu tanpa resep dokter, baik di apotek, supermarket, dan warung. 
Nah, meskipun kita bebas membeli dan menggunakan obat-obatan tersebut, ada tapinya...
Swamedikasi itu hanya untuk penyakit yang ringan, umum dan tidak akut. Dan sebaiknya berkonsultasi dengan tenaga kesehatan, khususnya apoteker.


Yang aku jumpai, sekarang kebanyakan orang lebih suka melakukan swamedikasi, tapi tidak teliti. 

Kebanyakan terpengaruh dengan iklan-iklan obat di media massa, dan akhirnya tidak membaca dengan teliti brosur obat tersebut. Gak semua yang dibilang di iklan itu bener loh... seringnya ada efek-efek samping yang nggak dibilang di iklan tersebut.
Juga ada orang yang suka mengambil kesimpulan sendiri soal penggunaan obat.
Ini nih yang berbahaya. 
Seharusnya kalo beli obat, apalagi di apotek, tanyakan ke Apotekernya atau Asisten Apoteker mengenai obat tersebut. Alangkah baiknya, kalau kalian kasih tahu gejala-gejala apa yang kalian alami, kemudian obat-obatan apa yang pernah kalian minum sebelumnya, punya penyakit lain atau tidak. 
Jangan ragu dan jangan malu untuk bertanya!
Itu memang tugas seorang farmasis, kok... Untuk memberikan informasi obat kepada pasien.
Jangan ragu untuk meluangkan waktu beberapa menit untuk berkonsultasi dengan apoteker mengenai obat yang kalian gunakan. Sama sekali nggak rugi! 


Sebagai seorang farmasis, aku ingin bilang ini:

Jadilah pasien yang cerdas.
Jangan sembarangan memutuskan mengonsumsi obat-obatan. Even itu obat herbal yang katanya kagak ada efek samping. Even itu resep nenek moyang. Alangkah baiknya cari tahu dulu informasi tentang obat-obatan itu. Tanyakan pada tenaga kesehatan yang kompeten, pada dokter, perawat atau apoteker. Atau coba browsing internet, zaman sekarang banyak sekali info tentang obat di internet yang mudah diakses.


Jangan selalu minum obat.

Lha, advice apa-apaan ini? Hehehehe....
Ya, sebagai farmasis, aku menyarankan agar jangan 'hobi' minum obat. 
Sakit flu dikit, minum obat. 
Sakit perut, langsung minum obat diare. 
Susah BAB, langsung minum obat pencahar.
  
Seperti yang sudah aku bilang di atas, obat itu pada dasarnya adalah benda asing dalam tubuh. Tubuh kita akan bereaksi pada jika ada benda asing yang masuk. Tapi...kalo sering minum obat, tubuh kita justru jadi kurang responsif dan cenderung lebih rentan kena penyakit. Dan setiap obat punya efek sampingnya, jika digunakan dalam jangka waktu yang lama, dan sering. Bacalah dengan teliti brosur obat yang digunakan.
Saran aku sih, kalau hanya flu, lebih baik minum air hangat, makan makanan yang bergizi, banyak istirahat dan konsumsi vitamin B kompleks dan C (bila perlu). Biarkan imun tubuh kita yang 'menumpas' virus flu tersebut.
Obat-obatan flu yang ada hanya mengobati GEJALAnya bukan PENYEBABnya.
Kemudian kalau susah BAB, jangan sering-sering minum obat pencahar, gak bagus buat usus dan sistem pencernaan kita.


Tapi... jangan sampai malas minum obat yah, kalo memang harus minum obat,hehehe...



Jadilah pasien yang taat :DD

Iya, jadilah pasien yang taat,  manis dan dengar-dengaran. Rajin dan teratur minum obat, kalau ada obat antibiotik harus diminum sampai habis dan jangan putus. Kalau dibilang 3 kali sehari, minumlah obatnya tiap 8 jam sekali. Kalau dibilang kagak boleh makan atau minum sesuatu selama minum obat tertentu, yah jangan bandel, nanti yang susah kalian sendiri kalo gak sembuh-sembuh. Kalo dibilang obatnya diminum sebelum makan, itu artinya 1 jam sebelum makan, kalo setelah makan, diminum 2 jam setelah makan. Ah, nanti aku bakal nulis soal pemakaian obat yang rasional ^^.
Kita harus ingat kalau kesehatan itu mahal harganya.


Pas aku magang di RS, apotek, puskesmas juga ke daerah pedesaan, aku menemukan banyak orang yang nggak 'taat' kalo minum obat, akibatnya penyakitnya tambah parah dan nggak sembuh-sembuh. Dan ternyata ketaatan minum obat ini, bukan hanya masalah yang dialami oleh orang-orang yang tingkat ekonomi dan pendidikannya rendah, tapi juga sampe orang yang tingkat ekonomi maupun pendidikannya tinggi mengalaminya juga.

Sedih sih melihat kenyataan ini, karena banyak warga Indonesia yang punya pengetahuan yang minim mengenai penggunaan obat, dan akibatnya mereka keliru menggunakan obat. Juga sedih karena ada orang yang sudah tahu tapi bandel.... 


Yah, aku rasa untuk sekarang ini itulah yang aku ingin bilang, huehehehe...



Jujur saja ya, sebelum mengenal dunia farmasi, aku juga bersikap masa bodo sama penggunaan obat dan gak peduli-peduli amat soal kesehatan, wkwkwk... Tapi setelah kuliah di bidang ini, jadi sadar betapa berharganya kesehatan itu dan punya beban agar masyarakat Indonesia itu care dengan kesehatan mereka sendiri juga their environment's health. 



Wujudkan Indonesia Sehat!



God bless,,
















2 komentar:

  1. Hweee...aku baru tau kalo minum obat setelah makan itu 2 jam setelah makan O_O selama ini kukira 15-30 menit setelah makan....

    Thank you for sharing yah! jadi tahu banyak :) hehehe~ aku setuju klo jangan terlalu seirng minum obat :) that's why aku lebih suka istirahat dariapa minum obat, klo gejalanya ga ilang baru ke dokter :D hahahah~

    BalasHapus
  2. Puji Tuhan jg kalo tulisan aku bisa berguna ^^.
    Yup, K' Anita, klo aturannya sesudah makan, minimal 1 jam sesudah makan.
    Nti aku mau nulis soal pemakaian obat lagi ^^

    BalasHapus