Senin, 13 Januari 2014

God, Who Makes Things Grow


Dear G,
Malam ini saat aku membaca I Korintus 3, sebuah ayat menarik perhatianku,
“ So neither the one who plants nor the one who waters is anything, but only God, who makes things grow.” ( I Corinthians 3:7, NIV)

Aku teringat komisi remaja yang telah menjadi tempat pelayananku selama kurang lebih 6 tahun. Aku menjadi seorang Pembina juga anggota komisi. Aku teringat masa-masa pelayananku, teringat ladang tempat aku bekerja, dan betapa itu merupakan sebuah anugerah dan tahun-tahun yang luar biasa.

Dear G,
Ada masa di mana aku menyesal dan kecewa pada diri sendiri. Aku menyesal karena tidak melayani dengan baik. Aku merasa kurang memberi diri dalam melayani adik-adik remajaku. Aku kurang dekat dengan beberapa orang dari mereka dan aku tidak menjangkau mereka yang menjauh dari persekutuan dengan-Mu.

Namun, aku teringat juga pada adik-adik remaja yang Engkau berkati dengan bakat dan talenta yang beraneka ragam. Engkau memakai mereka dengan luar biasa. Bahkan sampai hari ini, aku terkagum melihat karya-Mu dalam hidup mereka. Mereka bukan hanya jadi berkat di antara teman-temannya, di rumah atau di gereja, tetapi mereka juga memberi dampak positif dimanapun mereka berada. Mereka adalah saksi-saksiMu, dan aku menantikan saat dimana mereka, sesuai dengan panggilanMu ya Tuhan, melakukan pekerjaan-pekerjaanMu bagi kemuliaan-Mu.

Aku teringat pada mereka yang sangat rajin datang ke persekutuan, baik ibadah tingkat jemaat, kolom, bahkan wilayah. Bahkan mereka jauh lebih rajin dari pada aku,hehe. Mereka sangat bersemangat untuk mengikuti kegiatan-kegiatan komisi, kegiatan di wilayah, bahkan sampai di sinode. Kerajinan mereka yang tidak pernah kendor, kerinduan mereka untuk datang bersekutu, adalah teladan bagi orang-orang di sekitar mereka.

Aku teringat pada adik-adik remaja yang selalu dengan semangat dan ceria menolong kami dalam setiap kegiatan. Mungkin bantuan mereka terlihat sepele, hal kecil dan sederhana. Tapi aku percaya, bahwa lewat melakukan perkara-perkara kecil itu mereka belajar memupuk kasih persaudaraan dan saling menolong dalam menanggung beban saudara seiman. Dan aku percaya bahwa kesetiaan mereka dalam melakukan perkara-perkara kecil itu, ya Tuhan, Engkau akan balas dengan mengaruniakan perkara-perkara yang besar bagi mereka.

Aku teringat pada mereka, yang telah ‘lulus’ dari remaja, dan kini menginjak usia pemuda. Sebagaimana mereka memberi diri dipakai oleh-Mu di remaja, aku berharap agar mereka juga memberi diri diantara rekan-rekan pemuda. Biarlah terang mereka makin bersinar. Adalah sebuah kesenangan melihat mereka bertumbuh, bukan hanya secara fisik, tapi juga secara spiritual.

Dear G,
Ketika aku mengingat semuanya itu dan membaca ayat dalam kitab Korintus trsebut, aku ingat bahwa Pribadi yang membuat mereka bisa bertumbuh adalah Engkau.
Jika mereka rajin ke ibadah, taat pada orangtua, sopan, manis, tekun dalam pengajaran firman Tuhan, dan jadi alat dalam pelayanan dan berkat dimanapun mereka berada itu bukan karena usaha aku dan Pembina yang lain.
Tapi Engkaulah yang memberi mereka pertumbuhan rohani.
Tunas-tunas muda yang lembut, hijau, dan rapuh itu Engkau berikan pertumbuhan terus-menerus, ya Tuhan, dan aku percaya bahwa tujuan-Mu ialah membuat mereka menjadi pohon yang kuat, yang tinggi, yang menghasilkan buah yang baik dan menjadi berkat bagi orang lain.

Aku hanyalah seorang pekerja di ladang-Mu, ya Tuhan.
Aku melaksanakan tugas seorang pekerja ladang. Menyirami tunas-tunas muda itu, memberi pupuk, memastikan mereka mendapat pencahayaan yang cukup, tapi Engkaulah yang memberi pertumbuhan pada mereka. Tanpa Engkau, mereka tidak akan bertumbuh dan berkembang, sekeras apapun aku berusaha.

Hendaklah aku selalu mengingat hal ini, jika aku pernah merasa sombong, merasa penting, merasa berjasa.
Aku hanya seorang pekerja di ladang-Mu. Seorang pekerja dituntut untuk mengerjakan tugas yang Tuannya suruh. Aku hanya mengerjakan sesuau yang Engkau suruh, tidak seharusnya aku bermegah, bukan?

Dan Tuhan,
Jika aku pernah merasa gagal, merasa tidak berguna, merasa kecewa pada diri sendiri karena ada di antara mereka yang tidak bisa aku jangkau, yang tidak bisa kurangkul, yang tidak bisa aku tarik kembali. Biarlah aku juga senantiasa mengingat bahwa Engkaulah satu-satunya Pribadi yang memberi pertumbuhan.
Aku percaya bahwa Engkau juga mengasihi mereka dan denga kasih karunia-Mu, suatu saat nanti mereka akan bertumbuh.
Aku hanya seorang pekerja di ladang, aku telah melakukan tugasku, aku boleh berusaha sekuat tenaga, tetapi Engkaulah yang mengaruniakan pertumbuhan.

Ketika aku tidak lagi bersama-sama dengan mereka..
Ketika aku Engkau pindahkan ke ladang yang lain, dan ada pekerja-pekerja lain yang Engkau pilih dan pakai di ladang ini, aku bersyukur dan bersukacita atas rancangan-Mu.
Aku senantiasa membawa mereka dalam doaku.
Agar mereka yang belum bertumbuh, Engkau karuniakan pertumbuhan. Biarlah para pekerja makin rajin mengolah tanahnya, menyiraminya, memberinya pupuk, menyiangi ilalang yang menghalangi pertumbuhannya.
Agar mereka yang sementara bertumbuh, makin kuat menancapkan akarnya dalam pengenalan Firman-Mu, makin kuat batangnya dalam iman kepada Engkau, dan bertumbuh makin tinggi.

Aku bersukacita ketika melihat mereka bertumbuh ya Tuhan. Itulah tujuan para pekerja, dan aku percaya setiap usaha dalam Engkau tidak akan sia-sia.
“ The one who plants and the one who waters have one purpose, and they will each be rewarded according to their own labor”
( I Corinthians 3:8, NIV)



Dan di ladang manapun Engkau tempatkan ya Tuhan, kemanapun Engkau memanggil, sebagai seorang pekerja ladang-Mu, aku akan mengerjakan tugas yang Engkau yang berikan.

“ For we are co-workers in God’s service ; you are God’s field, God’s building,”
( I Corinthians 3: 9)


Jakarta, 11 Januari 2014





PS : Aku ingat sempat 'curhat' soal pelayananku, dan Mbak Mega nulis sesuatu tentang Allah yang memberi pertumbuhan,hehe... Pas Mbak Mega nulis itu, aku sadar bahwa cara pikir aku itu salah, dan semangatku kembali. Sekarang, aku pikir aku jadi lebih memahami lagi apa arti ayat ini ^^.

God bless





Selasa, 26 November 2013

(Re-post) Her Body, Her Self, and Her God

The Minneapolis Star-Tribune   (October 23,  p. A18)  carried Mary McCarty’ s  review of   Joan Brumberg’s  recent  book,  The Body Project .  The book is about  the difference between how girls saw  themselves 100  years ago and how  they  see  themselves  today.  Brumberg analyzes diaries of adolescent  girls  from  the 1830’ s  to  the 1990’ s.  Her  conclusion,  according  to  the  reviewer:   “In the 19th and early 20th  centuries,  girls’  diaries  focused on ‘ good works’  and perfecting  the character.   In  the 1990’ s,   the diaries are  fixated on  ‘ good  looks, ’  on perfecting  the body. ”

For example, one diary from 1892  says,   “Resolved…to  think before  speaking.  To work seriously. To be self-restrained  in  conversations and act ions.  To be dignified.   Interesting myself more in others. ” Contrast   this with an entry  from 1982:   “I  will   try  to make myself  better  in any way  I possibly  can with  the help of  my budget  and babysitting money.   I  will  lose weight ,  get  new lenses,  already got  new haircut ,  good makeup,  new  clothes and accessories. ”

From a biblical standpoint ,  what   is  remarkable about   this  shift   from 1892  to 1982  is  that   it parallel s exactly  the  shift  described  in  the Bible away  from what  God wills  for women.  Consider the shift  of focus  from  “good works”  to  “good  looks. ”

Likewise,   I  want  women  to adorn  themselves with proper  clothing,  modestly and discreetly,  not  with braided hair and gold or pearl s or  costly garments,  but  rather by means of  good works , as is proper  for women making a  claim  to godliness.   (1 Timothy 2:9-10)

Your adornment  must  not  be merely external —braiding  the hair,  and wearing gold jewelry,  or putting on dresses;  but   let   it  be  the hidden person of   the heart ,  with  the imperishable quality of  a gentle and quiet   spirit ,  which  is precious  in  the  sight  of  God…you have become  [Sarah’ s]   children  if   you do what   is  right  without  being  frightened by any  fear.   (1 Peter 3:3-4, 6)

Brumberg’s  diagnosis of   the problem  seems  to miss  the mark.  She writes,   “Today,  many  young girl s worry about   the  contours of   their bodies…because  they believe  the body  is  the ultimate expression of   the  self . ” That may be true.  But   it   is not  helpful ,  because  it  gives  the  impression  that something else besides  the body  is  the ultimate expression of   the  self .   In other words,  Brumberg seems  to assume  that   self   is  the  starting point ,  and expressing  the  self   is what   life  is all  about .

The problem,   then, would be  just   finding out  what   the  “ultimate expression of   the  self ”  is. 
The Bible has a radically different diagnosis of the problem.  It has a radically different starting place.  
The verse I left  out   from 1 Peter 3  says,   “In  former  times  the holy women also,  who hoped in God ,  used  to adorn  themselves,  being  submissive  to  their own husbands”  (verse 5). 
The biblical   staring point in dealing with the fear of looking unacceptable is God.  Does a woman “hope in God, ” or hope  in  the approval  of  men? This is the  key  to  “not  being  frightened by any fear”  (verse 6).  This  is  the  key  to being  free  from bondage  to  the mirror.

The biblical  goal  of  a woman’ s  life  i s not   to  find  the ultimate expression of   the  self   (neither  “body” nor  “character”).  The biblical goal   in life is to express  the all-satisfying greatness and trustworthiness of  God.  Expressing God, not self ,  is what  a godly woman want s  to do.  Excessive preoccupation with  figure and hair and  complexion  is a  sign  that   self ,  not  God,  has moved  to  the center.  With God at   the  center—like  the  “sun, ”  satisfying a woman’ s  longings  for beauty and greatness and  truth and  love—all   the  “planets” of   food and dress and exercise and  cosmetics and posture and  countenance will   stay  in  their proper orbit .

If this happens, the diaries of the next generation will probably go beyond looks and   character, and  speak of   the greatness of  God and  the  triumphs of  hi s grace.  And  they will  more often be written  from Calcutta  than  from  the  comfortable  cabins of  rural  America.

Source:
Pastor  John ©2012 Desiring God Foundation.  
By John Pi per.  ©2012
Desiring God Foundation.  Website:  desiringGod.org


Senin, 28 Oktober 2013

Cerita UTS Validasi

 Jumat pagi ini, saya ke kampus buat ngumpulin tugas plus ujian tengah semester salah satu mata kuliah yang saya ambil semester ini, Validasi Alur Produksi.
Hhh, bagi saya, mata kuliah ini salah satu ‘pergumulan’ semester ini :p .
Tugasnya bikin saya gak bisa tidur nyenyak selama seminggu, dan ujiannya bikin saya mau nangis T.T.
Seumur-umur saya kuliah, gak pernah ada satu mata kuliah yang bikin hidup saya menderita kayak gini, dan ini bukan mata kuliah wajib pula, tapi masuk MKP ( mata kuliah pilihan ) di kampus saya, jadi sebenarnya saya masih bisa pilih mata kuliah yang lain.

Tugas dan UTS-nya itu tulis tangan, di kertas A4. Meskipun ujiannya take home n dikasih waktu 2 hari, saya benar-benar bergumul karena selain tulis tangan, dan emang pegel nulis di kertas A4, jawabannya itu 10 lembar.
Tugasnya disuruh pilih bentuk sediaan farmasi (saya milih bikin tablet vitamin B1 metode kempa langsung) terus dibikin formulasinya, alur produksi sampai pengujiannya, plus validasi proses produksi sediaan saya itu. Karena validasi itu minimal datanya 3 bets, jadi semuanya itu bikin 3 rangkap. Semuanya ditulis tangan di kertas A4…. JEDEEERRRR… Dan jadilah saya nulis 31 lembar. Itu belum dihitung lembar yang salah-salah, yang tulisannya udah kayak cakar ayam saking kecapekan, sebel, n makan hati nulisnya. Jadi total tugas sama ujiannya 41 lembar…. Tangan saya masih sakit kalau pegang pulpen, hehehe,

Pagi itu, sementara lanjutin bikin tugas, saya ngeluh sama Tuhan, saya sempat bilang,
“ Tuhan, ini minimal saya dapat B dong, yah… saya udah capek bikinnya ini. Kalo dikasih C, saya nggak terima!”

Sorenya, pas saya ingat-ingat lagi, merenungkan lagi tugas dan ujian mata kuliah ini, saya keingat sesuatu.
Dosen yang ngajar mata kuliah ini, selain emang QA (Quality Assurance) manager di salah satu perusahaan bidang farmasi, beliau juga pemimpin redaksi ISO Indonesia, bisa dibilang ia benar-benar qualified di bidang Farmasi Industri, apalagi soal validasi produksi sediaan farmasi.

Tuhan ingetin saya, betapa beruntungnya saya bisa diajar oleh beliau, yang background-nya benar-benar ‘wah’ menurut saya, orangnya juga pintar, saya dan teman-teman sering nanya kalo lagi kuliah dan beliau selalu memberi jawaban yang memuaskan. Kuliahnya juga enak, beliau gak banyak menjelaskan teori, tapi kuliahnya lebih banyak interaktif, plus beliau juga suka bercanda. Also, beliau suka nantangin mahasiswanya, lho… Saya jadi termotivasi untuk belajar lebih sungguh-sungguh karenanya J

Dan meskipun tugasnya seabrek, tiap minggu harus bikin rangkuman kuliah dan tugasnya susyaaaah apalagi pake acara tulis tangan di kertas A4, tapi kalo diingat-ingat lagi, justru dengan cara seperti itu beliau memacu saya dan teman-teman untuk belajar di rumah, belajar pake nalar, belajar aplikasi langsung teori yang kami pelajari. Gara-gara tugas yang 31 lembar itu juga, saya jadi lebih ngerti tentang validasi proses produksi sediaan farmasi, dan itu benar-benar masuk ke otak, kayaknya nggak bakal lupa juga deh, hehehe…  Gimana mau lupa, itu nulisnya 3 rangkap wkwkwkwk… untung dosennya gak nyuruh bikin 30 bets, hhhh….

Saya langsung merasa maluuuu >,<…
Betapa saya nggak mengucap syukur, betapa saya suka bersungut-sungut.

Tuhan juga ingetin saya, bahwa Ia juga kayak dosen saya ini.
Ia izinkan masalah, tantangan dan pergumulan dalam hidup saya, bukan karena Ia ingin saya menderita, tapi Ia ingin saya belajar apa yang Ia ingin ajarkan kepada saya.
Kalo saya sudah belajar apa maksud dan rencana Tuhan lewat masalah dan pergumulan yang saya hadapi, baru deh Tuhan kasih lulus saya dari kelas itu, baru Tuhan angkat masalah itu atau Ia kasih jalan keluar.
Kalo saya sudah berubah, baru deh Tuhan anggap saya lulus.

Saya suka mengeluh karena tugas dosen saya ini…. Sama, saya juga ngeluh sama Tuhan ketika kondisi-kondisi tidak menyenangkan terjadi dalam hidup saya.

Saya pasti nggak seneng kalo dosen saya kasih tugas yang bikin otak saya mumet sepanjang minggu,…. Saya juga nggak bersukacita ketika Tuhan ijinkan masalah hadir dalam hidup saya.

Tapi seperti dosen saya, yang ngasih tugas yang susaaaaah n banyaaaakkk karena beliau  ingin saya belajar dan benar-benar mengerti materi yang ia kasih dan agar saya nggak lupa isi kuliahnya….
Tuhan pun punya tujuan kenapa Ia mengijinkan masalah itu hadir dalam hidup saya.

Bisa dibilang sebenarnya masalah itu anugerah dari Tuhan, karena tanpa masalah, tanpa kondisi-kondisi tidak menyenangkan, tanpa orang-orang yang nyebelin hadir dalam hidup saya, saya nggak bisa belajar menjadi semakin serupa dengan Kristus, saya nggak akan berubah menjadi seperti yang Ia inginkan, level iman saya mentok di level bayi, hehehe… Saya nggak akan bertumbuh dan yang pasti saya nggak akan bisa melihat kasih setia Tuhan dalam hidup saya, betapa besar Ia mengasihi saya, dan betapa luar biasanya pemeliharaan Tuhan!

Jadi ingat sebuah lagu yang judulnya “ Pelangi Kasih”

Apa yang kau alami kini
Mungkin tak dapat Engkau mengerti
Satu hal tanamkan di hati indah semua yang Tuhan b’ri
Tangan Tuhan sedang merenda suatu karya yang agung mulia
Saatnya kan tiba nanti kau lihat pelangi kasih-Nya

Sebanyak apapun tantangan, masalah dan pergumulan yang kita hadapi, jangan menyerah atau putus asa, apalagi menyalahkan Tuhan. Yakin bahwa semua itu worth it dengan hasilnya, bahwa Tuhan mengijinkan itu terjadi bukan karena Dia nggak sayang atau nggak peduli dengan hidup kita dan ingin kita menderita, tetapi justru sebaliknya, karena Ia ingin hidup kita jadi lebih baik, kita mengalami perubahan dalam hidup kita, dan Ia ingin kita melihat kasih-Nya yang begitu melimpah untuk kita.



PS :
Kenapa saya bisa milih mata kuliah Validasi Alur Produksi?
Itu karena temannya temen saya, pas ditanyain gimana mata kuliah ini, dia bilang dosennya baik dan nilainya gede, so akhirnya aku milih masuk mata kuliah ini, hehehe…. But, usut punya usut, ternyata gak seperti itu yang saya dengar akhirnya. Katanya sih kalau mata kuliah beliau emang susyaaaahh, banyak tugasnya, dan keluar nilainya lama, bisa sampai 2 tahun soalnya beliau ini sibuk, orangnya mobile, sering tugas ke luar kota, jadi mungkin gak ada waktu kali ya buat meriksa ujian apalagi mengolah nilai, dan mungkin itulah penyebabnya jumlah mahasiswa yang ikut kuliah beliau sedikit :p
Waktu dengar itu, saya sempat takut…ck, apa nilai B itu ‘mustahil’ yah? Jangan-jangan, saya sudah susah-susah ngerjainnya eh, malah gak diperiksa n nilainya asal tembak aja. Saya takut gak lulus :O
Tapi waktu itu Tuhan ingetin saya lagi,
“ Itu Cuma nilai, Farha. Yang lebih penting apa, ilmunya kan? Jangan cemas soal nilai. Orang benar tidak akan dipermalukan,”
Saya langsung terdiam.... :p
Fiuhhhh…  memang Tuhan itu luar biasaaaaaa #pelukTuhanYesus

God bless,, 

Sabtu, 10 Agustus 2013

Like Bruised Reed


Pas Saat Teduh pagi ini, aku membaca dalam Yesaya 42 : 1 – 9. 

Di ayat 3 tertulis,

A bruised reed he will not break, and a smoldering wick he will not snuff out. In faithfulness he will bring forth justice. (NIV)

Actually, dalam ayat  1-9 diceritakan tentang Hamba Tuhan yang akan mengadakan pembebasan dan penyelamatan (ayat 7) dan keadilan bagi bangsa-bangsa (ayat 1), tapi yang paling menarik perhatian aku adalah ayat 3 tadi.

Kalau terjemahan bahasa Indonesianya,

Buluh yang patah terkulai tidak akan dipatahkannya, dan sumbu yang pudar nyalanya tidak akan dipadamkannya, tetapi dengan setia ia akan menyatakan hukum (TB)

Aku jadi sadar bahwa, akulah si buluh yang patah terkulai itu, sumbu yang pudar nyalanya.

Apa kesan kita saat melihat ranting buluh yang hampir patah dan terkulai? Angin bertiup sedikit kencang saja ia pasti langsung patah dan ditiup angin pergi. Lemah, rapuh, dan tidak berguna.

Dan apa yang diharapkan dari sumbu yang pudar nyalanya? Kalo versi NIV disebut smoldering wick, sumbu yang membara – sumbu yang sudah nggak ada lagi apinya, tinggal baranya. Apa lagi yang diharapkan darinya?

Tapi, Tuhan Yesus, dengan segala kelembutan-Nya, belas kasihan-Nya juga cinta-Nya, Ia tidak mematahkan buluh yang terkulai itu atau mematikan sumbu yang pudar nyalanya itu.

Dalam Yesaya 42 ini, aku melihat gambaran Tuhan Yesus yang penuh roh kelemahlembutan dan belas kasihan. Hati-Nya sungguh luar biasa, karena Ia masih mau melihat dan mengasihani manusia yang penuh dengan kelemahan, kekurangan dan juga dosa, seperti aku.

Bukan hanya dikasihani tapi juga memberikan anugerah keselamatan bagi diriku, kehidupan kekal setelah kematian, bersama-Nya. Wah, betapa aku dianggap berharga oleh Tuhan.

Setelah aku membaca ayat ini, aku menyadari sesuatu bahwa, aku berharga.

Aku berharga bukan karena aku pintar, atau cantik, atau rajin pelayanan, atau baik.

Aku berharga bukan karena apa yang aku miliki atau aku lakukan.

Sebenarnya, aku seperti buluh yang terkulai atau sumbu yang pudar nyalanya itu.

Tapi, aku berharga. Karena Tuhan menghargai aku. 

Itulah alasan kenapa aku berharga, karena di mata Tuhan aku ini berharga.

Jadi ingat lagu ini, judulnya Hidupmu berharga, udah lupa siapa yang nyanyi ^^.

Hidupmu berharga bagi Allah
Tiada yang tak berkenan di hadapan-Nya
Dia ciptakan kau s’turut gambar-Nya
Sungguh terlalu indah kau bagi Dia
Dia berikan kasih-Nya bagi kita
DIa t’lah relakan segala-galanya
Dia disalib tuk tebus dosa kita
Karena hidupmu sangatlah berharga
Buluh yang terkulai takkan dipatahkannya
Dia kan jadikan indah sungguh lebih berharga
Sumbu yang t'lah pudar takkan dipadamkannya
Dia kan jadikan terang untuk kemuliaan-Nya

Di tangan Tuhan, buluh yang terkulai dan hampir patah itu bisa jadi barang berharga.

Sumbu yang hampir pudar nyalanya itu, bisa dipakai-Nya untuk menerangi seisi rumah.

Luar biasa bukan Tuhan kita?

Aku benar-benar bersyukur dan bersukacita karena-Nya.



Courageous


Aku baru saja nonton film yang judulnya “ Courageous “, sounds like action movie from the title, but it’s not.


(sumber : Wikipedia.org)

Ini film rohani, yang menceritakan tentang lima orang pria, yang menyadari peran penting mereka sebagai seorang ayah dalam kehidupan anak-anaknya. Buat yang mau tahu lebih lanjut soal film ini, bisa baca sinopsisnya disini

Aku suka sekali film ini, dan mewek berkali-kali pas nontonnya. 

Memang ada adegan yang sedih, seperti pas puteri Adam Mitchell meninggal karena kecelakaan dan ia sangat terpukul. Tapi juga ada adegan yang mengharukan yang membuat aku mewek lagi. Seperti saat Nathan mengajak puterinya, Jade makan malam di restoran mewah dan mengatakan bahwa ia mengucap syukur karena Tuhan memberinya Jade sebagai puterinya yang cantik dan berharga, terus mereka buat komitmen antara ayah dan puterinya, bahwa Jade tidak akan menjalin hubungan dengan laki-laki selain persahabatan dan jika a akan pergi kencan dengan seorang laki-laki, maka itu harus sepengetahuan ayahnya.

Nah, yang paling berkesan buat aku dari film ini adalah pas mereka mendeklarasikan resolusi mereka sebagai ayah bagi anak-anaknya, aku coba cari di internet kata-kata di resolusi mereka, dan dapat. Ini dia resolusinya :

I do solemnly resolve before God to take full responsibility for myself, my wife, and my children.

I WILL love them, protect them, serve them, and teach them the Word of God as the spiritual leader of my home.

I WILL be faithful to my wife, to love and honor her, and be willing to lay down my life for her as Jesus Christ did for me.

I WILL bless my children and teach them to love God with all of their hearts, all of their minds, and all of their strength.

I WILL train them to honor authority and live responsibly.

I WILL confront evil, pursue justice, and love mercy.

I WILL pray for others and treat them with kindness, respect, and compassion.

I WILL work diligently to provide for the needs of my family.

I WILL forgive those who have wronged me and reconcile with those I have wronged.

I WILL learn from my mistakes, repent of my sins, and walk with integrity as a man answerable to God.

I WILL seek to honor God, be faithful to His church, obey His Word, and do His will.

I WILL courageously work with the strength God provides to fulfill this resolution for the rest of my life and for His glory.

As for me and my house, we will serve the Lord. – Joshua 24:15



Nah, pas nonton film ini, aku jadi teringat pentingnya peran ayah dalam kehidupan anak.

 Aku ingat dalam buku Ci Grace “Tuhan Masih Menulis Cerita Cinta”, tentang perjanjian antara ayah dan anak yang mereka buat, dan bagaimana hasil yang ia peroleh setelah itu. Juga tulisan soal itu di notes FB, yang bisa dibaca disini

Aku ingat tulisan Ci Shinta  tentang “ Mencari Ayah yang baik untuk Anak-anakku” yang bisa dibaca online di blognya  http://shintapoulsen.com.

Aku juga ingat tulisan tentang peran pria di artikel “ Five Pillars of Manhood" yang pernah aku baca.

Semua pelajaran, dalam hal ini hikmat yang aku dapat saat aku membaca itu semua, kini teringat kembali pas aku nonton film Courageous ini.

Banyak orang yang mengagung-agungkan  peran seorang ibu dalam kehidupan anaknya, aku juga merasa hal itu benar dan patut. Tapi, tidak sedikit orang yang menyepelekan peran ayah dalam hidup seorang anak. Padahal sebaliknya, peran ayah itu sangat penting dalam kehidupan anak-anaknya.
Seperti kata Ci Grace, ada hal yang tidak bisa diajarkan seorang ibu kepada anaknya, dan hanya bisa diajarkan oleh ayah mereka. Tulisannya bisa kalian baca di SINI.

Aku jadi ingat Papa aku sendiri.
Aku punya ayah yang bukan seorang Godly man, and I still pray for him every day.
Meskipun demikian, beliau mengajarkan aku banyak hal. 
Ia mengajarkan aku untuk bersikap seperti seorang lady dan menghargai diriku sebagai seorang perempuan.
Mama sering menceritakan kisah cintanya dengan Papa sama aku ^^, dan dari situ aku tahu kalau Papa sangat hormat, respect sama Mama aku, dan they have a strict boundaries about relationship, especially skinship.

Ia mengajarkan aku untuk punya hati yang besar dan tidak gampang berkecil hati. Papa selalu marah kalau dikit-dikit aku nangis, bukan karena nggak boleh nangis, tapi sejujurnya karena hatinya juga hancur saat anak-anaknya menangis (he told me later about that) dan ia tidak ingin anak-anaknya menjadi seorang yang lemah saat menghadapi tantangan.

Dan yang mungkin paling  berkesan buat aku adalah, ketika Papa negur aku yang bersikap baik dan rajin di gereja dan pelayanan juga sekolah, tapi malas kalau melakukan urusan rumah. Ia bahkan bicara langsung sama Penatua dan kakak-kakak Pembina aku setelah menegur aku secara pribadi. Itu pengalaman yang tak terlupakan deh, hehehe… Dari Papa, aku belajar pelajaran penting soal menjadi seorang wanita di usia remajaku, yaitu mendahulukan rumah dan keluarga. Bahwa perempuan, sesibuk apapun, setinggi apapun pendidikan dan jabatannya, gak boleh melupakan rumah dan keluarganya.

Aku sayang Papa aku dan rindu agar beliau bisa mengenal Tuhan Yesus sebagai Juruselamat pribadinya. Papa memang seorang Kristen, opa aku itu pendeta jemaat di Tobelo, dan waktu muda dulu Papa sangat aktif di kegiatan gereja dan terlibat pelayanan. 
Apa yang menyebabkan beliau berubah? Aku mungkin akan cerita di tulisan yang lain, tapi aku bisa katakan kalau Papa mengalami kekecewaan sama Tuhan dan ia menyerah untuk kembali.

Ya, Papa aku memang baik dan mengajarkan banyak hal yang positif dalam hidup anak-anaknya, tapi karena ia bukan seorang Kristen yang lahir baru, aku juga turut merasakan dampaknya. Ada peristiwa yang membuat aku membenci Papa aku , itu terjadi pas aku kelas 1 SMP dan menyebabkan aku jadi benci sama laki-laki dan ingin jadi superior. Sekarang sih, aku sudah mengampuni Papa aku dan persepsi aku soal laki-laki itu sudah berubah, tapi sampai sekarang, perasaan nggak nyaman kalau bersama teman laki-laki itu masih ada.

Itu salah satunya dan masih banyak lagi masalah-masalah lain yang terjadi.
Bukan berarti aku tidak bersyukur atas sosok Papa yang Tuhan berikan dalam hidupku, tapi aku melihta sendiri gimana jadinya anak-anak kalau tidak ada sosok ayah yang Godly dalam kehidupan mereka.

Oke, kembali lagi….

Gara-gara nonton film Courageous dan kembali mengingat semua pelajaran-pelajaran yang aku terima dari buku maupun tulisan yang aku baca, aku semakin yakin untuk menemukan ayah yang baik buat anak-anakku kelak, ^^.

Ketika kita memutuskan untuk menikah dengan seorang pria, kita bukan hanya memilihnya untuk jadi suami kita tapi juga memilihnya menjadi ayah bagi anak-anak yang Tuhan berikan nantinya. Aku jadi semakin sadar pentingnya seorang ayah dalam kehidupan seorang anak.

Seorang ayah yang baik buat anak-anaknya, aku rasa bisa ditemukan dalam seorang pria yang cinta Tuhan. Pria yang mencintai Tuhan dengan sungguh-sungguh, ia pasti bisa mencintai isteri dan anak-anaknya kelak. Karena ia telah belajar dari kasih itu sendiri, yaitu Yesus Kristus.

Bagi yang belum nonton film Courageous, saya merekomendasikannya untuk ditonton, khususnya cowok-cowok, belajar untuk jadi ayah yang baik buat anak-anak kalian sejak sekarang. Dan buat cewek-cewek, buat komitmen untuk menikah dengan seorang pria yang akan menjadi ayah yang baik buat anak-anak kalian nantinya.


God bless,,